Surabaya adalah kota pahlawan. 10 Nopember 1945, suara Bung Tomo, pahlawan lokal Surabaya yang tidak diakui sebagai pahlawan nasional itu, berpidato membakar jiwa arek-arek Surabaya. Hasil akhir pertempuran sudah tak penting lagi. Karena perjuangan itulah yang berharga.
Turun-temurun, darah juang 10 Nopember itu ditularkan ke generasi muda arek-arek Suroboyo. Salah satu perwujudannya adalah berdirinya sebuah kampus perjuangan ITS – Institut Teknologi Sepuluh Nopember, yang dibangun dengan modal nekat. Semangat juang pantang menyerah yang menjiwai ITS selalu ditanamkan pada mahasiswanya.
ITS dari tahun ke tahun selalu mendidik mahasiswanya untuk menjadi seorang pejuang yang pantang menyerah. Bakti Kampus, pengkaderan jurusan, pengkaderan di lab, hanyalah contoh klasik bagaimana mahasiswa berusaha menularkan tradisi jiwa pantang menyerah ini ke mahasiswa baru.
Kalangan akademik ITS pun tak kurang akal mendukung jiwa pantang menyerah ini. Dosen yang sering mroyek, tugas seabrek, pembatasan jam kampus, sampai fasilitas seadanya, menuntut mahasiswa ITS untuk menjadi Cakap Ulet dan Kreatif, CUK!
Hemat dan bersahaja adalah salah satu sifat unggul dari ITS. Hal ini ditunjukkan dengan penghematan listrik, maupun penghematan air. Suatu kampanye hijau yang sangat bagus di tengah bumi yang semakin tua. Bentuk penghematan air ini adalah dengan mematikan air di akhir pekan (baca Sabtu dan Minggu). Selain itu ITS juga menghemat air dengan mematikan beberapa toilet yang sering dipakai mahasiswa. Karena jika toilet itu airnya mati, bayangkan berapa banyak air yang bisa dihemat?
Mahasiswa yang CUK itu mulai bekerja mencari solusi penghematan air ini. Salah satunya seperti yang dilakukan salah seorang teman saya, yang untuk menyiram air seninya di urinoir harus menimba air di sumur dan membawanya ke toilet, suatu contoh perjuangan yang bersahaja demi kebersihan. Selain itu, solusi menimba air juga dimanfaatkan oleh teman-teman yang mau wudu. Mereka memanfaatkan air sumur untuk wudu, sebelum terlebih dahulu menimbanya, harus ipahami sebagai salah satu usaha ITS untuk meningkatkan niat dan pahala bagi mereka yang akan sholat(sayangnya aku nggak solat
).
Ah… kampus biru, dimana semua kembali ke alam… Suara kicauan burung di area ITS yang menjadi kawasan konservasi burung, suara meong kucing yang berkeliaran di pojok-pojok kampus, mencari suaka di ITS yang alami, suara embik kambing yang merumput tanah yang masih hijau, nyanyian kodok di jalanan yang becek saat hujan.
Oh ITS, kampus biru penuh perjuangan….
Powered by ScribeFire.
8 Tanggapan
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan sebuah tanggapan


ah, aku udah capek ngerasani kampus..
tapi niel, tapi, sekarang alesannya sakti loh: “kan mo pindah gedung…”
ooh, jadi kalo mo pindah, tempat yang mo ditinggalin itu ndak perlu dirumat tho? ooh, ya, ya, baru tau aku
Semangat,semangat!
melu-melu ah…
semangat-semangat
fiuh… diapakno enak’e niel?
[...] masih termasuk postingan berseri ngrasani kampus. fiuh…hari ini capek bgt ngurusin pendaftaran ini, mulai surat keterangan sehat, legalisir [...]
Kan perjuangan… Nikmati aja…
@vend
Wekekeke….. di gedung baru ntar alasannya.. kan gedung baru
@galih n nra
Yoss!!! 9 Januari!!!
@kholis
Dinikmati…. kapan lagi hidup penuh perjuangan seperti ini. Anggap aja pengkaderan tahap dua
@suandana
Iya boss… makanya tulisannya penuh semangat
satirnya betul2 ngena