UMR Buruh dan Lapangan Kerja – Esai Sok Pintar

Beberapa hari terakhir beberapa tempat di Indonesia diramaikan dengan aksi demo buruh. Di Jakarta aksi ini memacetkan jalanan sekitar Bundaran HI dan saat aku berlibur ke Surabaya, bunderan Waru juga diramaikan dengan buruh yang bersiap konvoi ke kantor Gubernur Jatim untuk demo UMR juga.

Jadi, apa sih yang dituntut buruh?

Para buruh berdemo untuk menuntut peningkatan upah minimum. Di Jakarta nilai yang mereka tuntut 2,7 juta/bulan dan di Jawa Timur 2,2 juta/bulan.

Hanya ada satu kata: Wow!

Karena ternyata gaji adikku yg freshgrad tidak sebesar itu.

Kabar baiknya, gaji adikku bakal naik, kabar buruknya adik2 yang lain yang sedang mencari pekerjaan akan lebih susah mencari kerja.

Kok bisa?

Mari kita bercerita tentang Yohan(bukan nama sebenarnya) dan Samiun(juga bukan nama sebenarnya). Si Yohan adalah seorang buruh. Dia merasa gajinya sebagai buruh sekarang terlalu kecil. Lalu, Yohan mengumpulkan buruh2 yang lain untuk berdemo menuntut kenaikan UMK. Dan berhasilah dia. UMK naik 40% dan artinya dia naik gaji!

Di tempat lain, si Samiun baru lulus SMA dan karena dia tidak punya biaya untuk kuliah, dia memutuskan untuk masuk ke lapangan kerja untuk jadi buruh.

Sepanjang hari Samiun panas-panas keluar masuk pabrik mencari lowongan. Tapi manajer pabrik semua seia sekata menolaknya. Samiun sendiri tidak masalah dia digaji di bawah UMR selama dia bisa kerja. Tapi, manajer pabrik tetap tidak mau karena hal ini akan membuat posisi pabrik rentan didemo buruh dan pabrik juga kudu menghadapi sanksi dari pemerintah.

Samiun pun kecewa.

Yanis, pengusaha dan manajer pabrik sekarang pusing. Pabriknya beroperasi dengan margin rendah. Kenaikan umk berarti biaya produksinya juga naik. Pilihannya dua, menaikkan harga jual dan berpotensi untuk kehilangan konsumen atau menurunkan ongkos produksi yang bisa berarti pemotongan tenaga kerja atau membeli peralatan safety yang lebih murah.

Si Yanis juga pusing karena demo buruhnya membuat produksi terlambat. Dia kudu membayar denda ke Budi, manajer brand untuk keterlambatan pengiriman.

Si Budi, manajer brand internasional punya pemikiran lain. Gaji buruh di Vietnam ternyata lebih murah dan ongkos pindah ke Vietnam nggak terlalu mahal. Dia cukup nego harga ke manajer pabrik di sana, kirim spek dan produksi pertama akan siap dalam 2 minggu. Trong, manajer pabrik di Vietnam sudah memasukkan penawaran harga dan lebih murah dari harga Yanis.

Lain lagi dengan Pak Nanang, pemilik kos di sekitar pabrik. Dia girang karena ini artinya dia bisa meminta uang sewa lebih banyak ke Yohan. Dia lalu menaikkan uang sewa kos2an 100rb.

Tapi pemenangnya jelas Pak Rico, sang gubernur. Dengan menyetujui UMR baru dia memastikan 2,4jt buruh akan memilihnya di Pilkada tahun depan. Kehilangan suara 10ribu pengusaha pabrik tidak akan berarti apa-apa.

Inilah realita. Bahwa semua tidak sesederhana yang terlihat.

About these ads

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 24 November, 2012, in experience, idealist, writting and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Ini tentunya pandangan dari orang kelas menengah ke atas. Coba rasakan jadi buruh atau pegawai di kantor kecil, mereka digaji rendah. Banyak pula bos yang tak mengindahkan UU Tenaga Kerja.

  2. cuma mau share cerita aja di kantor yang lama.

    1. Tentang Office Boy dan Resepsionis yang di-outsource-kan. Abis ngecek lagi ternyata dua pekerjaan ini termasuk kedalam pekerjaan yang memang boleh dioutsourcekan berdasarkan Permenaker, kebetulan waktu saya masuk adalah masa awal kedua posisi ini ‘dipaksa’ untuk menjadi tenaga outsource. Tujuan perusahaan, ya menghemat, lain tidak. karena dengan di-outsource-kan ternyata THR dan Bonus menjadi tanggung jawab perusahaan induk, lepas dari kenyataan bahwa orang-orangnya sama dan sudah bekerja lebih dari 2 tahun (Resepsionis dan OB seniour kemudian mengundurkan diri karena blas ga dapet THR/Bonus apapun, baik dari Perusahaan Pengguna Jasa, maupun Perusahan Induk)

    Yang busuk adalah, setelah mereka dipindah ke perusahaan outsource, sekalipun gaji mereka naik, THP mereka berkurang karena kena potongan dari perusahaan outsource. Bahkan mereka tidak diikutsertakan Jamsostek, karena itu dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan induk mereka.

    Dalam hal ini sebenarnya jelas sudah terjadi pelanggaran dimana seharusnya karyawan berhak atas (minimal) THR, tapi siapa yang mau memperjuangkan? Kalo mengikuti proses hukumnya, bisa makan waktu 2 tahun, hasilnya belum tentu menang, dan selama itu siapa yang menanggung nafkah mereka?

    2. Ini juga terjadi di jabatan yang lebih tinggi, staf senior akunting. Berdasarkan UU Tenaga Kerja, bila karyawan sudah menjalani masa kontrak 2 tahun, perusahaan wajib mengangkat mereka menjadi karyawan tetap. Pada kenyataannya? ketika si staff akunting ini sudah 2 tahun menjalani kontrak, dia diistirahatkan selama 2 minggu, tanpa gaji (dianggap di-PHK) untuk kemudian dikontrak lagi, dengan nopeg baru.

    Kesimpulannya, perusahaan (yang ‘baik’) akan selalu memaksimalkan keuntungan, dan salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menekan buruh (atau karyawan atau pegawai) dan praktek2x diatas adalah praktek standar yang dilakukan HRD untuk menekan ongkos upah.

    Satu-satunya cara buruh melawan ya turun ke jalan, dengan mengusik sistem yang menyengsarakan mereka, diantaranya ya mau gak mau seperti apa yang kita lihat, turun ke jalan, blokir jalan tol, bahkan aksi sweeping. Karena sayangnya cuma dengan cara itu suara mereka didengar…

  3. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  4. Kok d kantor saya UMR SURABAYA belum ada perubahan,,padahal PT

  1. Ping-balik: A New Day Has Come » Menyikapi Kenaikan Pendapatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: