Tentang Google Reader

“RSS is dead, long live RSS!”

Aku adalah salah satu pengguna Google Reader, sebuah layanan untuk membaca RSS. Aku sendiri juga pernah membuat sebuah situs aggregator berita lewat RSS, jadi bisa dibilang RSS adalah teman.

Aku menggunakan Google Reader untuk mengupdate berita terbaru di jalan sambil bergelantungan di bis transjakarta. Aku berlangganan cukup banyak blog tematis jadi sangat repot kalau harus blogwalking satu-satu apalagi via handphone.

Tapi, awal bulan ini diumumkan bahwa Google akan menutup Google Reader, layanan RSS mereka. Dan hasilnya kekacauan terjadi di jagad Internet. Well, sort of.

Setelah pengumuman itu, banyak situs berita menurunkan artikel alternatif Google Reader. Dari semua alternatif itu, aku akhirnya memilih feedly dengan alasan yang simple: kompatibilitas dengan google reader, cuma klik2 dan data di google reader akan langsung diekspor ke feedly. Alasan lain, formatnya di hape mirip dengan Google Reader.

So, itu bagian awal dari artikel ini. Inti masalahnya adalah ketergantungan kita pada satu layanan.

Google termasuk bagus saat dia menutup layanannya. Dia membuka data2 kita di layanan tersebut dan kita bebas untuk mengimpornya ke layanan serupa. Seringkali kita tidak seberuntung itu. Saat friendster tutup misalnya, kita tidak bisa menarik data2 atau foto2 kita di friendster.

Untuk layanan yang berbasis open data seperti RSS, hal ini cukup mudah. Tapi semakin lama layanan di internet semakin tertutup. Facebook dan apple adalah dua contoh utama dari layanan tertutup yang sering disebut walled garden.

Layanan walled garden intinya adalah layanan dimana apapun yang kita lakukan atau vendor2 yang lain yang ingin membantu kita harus diperiksa dan disetujui oleh pemberi layanan. Data-data kita pun tidak bisa diakses oleh vendor lain jika kita ingin berpindah layanan. Hal ini secara teknis disebut vendor lock-in.

Vendor lock-in adalah strategi bisnis yang jitu. Apple sudah melakukannya sejak jaman iTunes, juga Microsoft, Oracle dan SAP di level enterprise dan juga Facebook. Tujuannya simple, dengan vendor lock-in kita bisa diperas modalnya (baik uang atau waktu) dan kita tidak bisa berganti vendor karena kita sudah terlanjur investasi waktu, tenaga, uang dan data di vendor kita yang lama.

Jadi gimana?

Saat kita memilih layanan atau produk kita kudu selalu bertanya, apa yang akan terjadi jika vendornya bangkrut atau menutup layanan tersebut? Apakah kita bisa mengakses data kita setelahnya?

Sementara ini, Google adalah vendor yang cukup transparan dengan data kita. Itulah kenapa aku memilih Android daripada iPhone. I don’t trust Apple and their walled garden philosophy.

Jadi, untuk setiap layanan atau produk yang kita pakai, aku sarankan untuk terus bertanya, apakah aku bisa dengan mudah berpindah ke layanan lain? Apa yang terjadi jika layanan ini ditutup? Dengan demikian kita bisa menghindari vendor lock-in dan menjadi konsumen yang bebas di dunia digital.

Tabik! 

About these ads

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 23 Maret, 2013, in experience, idealist, IT, programming and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. I leave a comment when I like a post on a website or I have something to contribute to the conversation.
    Usually it’s triggered by the sincerness displayed in the article I looked at. And after this post Tentang Google Reader | Zero Reality. I was actually moved enough to drop a thought :) I actually do have a few questions for you if it’s okay.
    Could it be only me or do some of the comments come across like
    coming from brain dead folks? :-P And, if
    you are writing at additional online social sites, I’d like to keep up with you. Would you make a list the complete urls of all your community sites like your linkedin profile, Facebook page or twitter feed?

  2. Thanks for finally writing about >Tentang Google Reader | Zero Reality
    <Loved it!

  3. A motivating discussion is worth comment. I do believe that you ought to write more
    on this issue, it may not be a taboo matter but generally
    people don’t talk about such issues. To the next! Cheers!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: