Tentang Star Trek dan Perubahan

Salah satu serial TV favoritku adalah Star Trek, terutama The Next Generation. Di salah satu episodenya, Star Trek menceritakan tentang 3 orang yang dibekukan karena menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan di abad 21 dan karena kerusakan mesin pesawat mereka, mengambang di luar angkasa selama ratusan tahun. Ketiga orang itu harus menghadapi situasi yang baru sama sekali di masa yang bukan masa mereka.

Orang pertama, seorang penyanyi country, menghadapinya dengan santai, “Lha kan aku harusnya sudah mati, ya santai sajalah.” orang kedua, seorang wanita depresi karena semua orang yang dia kenal sudah meninggal, “Suamiku egois, dia membekukanku supaya dia tidak merasa bersalah karena pengobatannya gagal”, orang ketiga, seorang bankir kaya ngotot ingin kembali ke bumi untuk mencairkan dananya.

Kapten Jean-luc Picard mencoba menjelaskan kepada sang bankir tentang perubahan di bumi di abad 24, bahwa tidak ada uang di abad 24 dan mengumpulkan kekayaan bukanlah tujuan manusia lagi.

Salah satu hal yang aku suka dari Sci-Fi adalah kebebasan untuk membayangkan dunia What-Ifs. Bagaimana jika uang tidak ada dan mengumpulkan kekayaan adalah sia-sia, apakah yang manusia lakukan? Menurut Kapten Picard, jawabannya adalah manusia akhirnya berusaha untuk terus menjadi lebih baik. Bagaimana jika kolonisasi luar angkasa dilakukan secara militer dan ada resistensi dari alien? Halo dan Starcraft mengeksplorasi skenario ini. Bagaimana jika alien itu ada tapi absurd semua, Hitchiker Guide To Galaxy dengan humor british menjawab pertanyaan ini.

Dalam dunia Star Trek, disruptor status quo manusia ada 2, perang Eugenik, perang tentang rekayasa genetika pada manusia dan replikator. Perang eugenik menurut sejarah Star Trek adalah perang yang terakhir dan hampir memunahkan manusia. Manusia yang tersisa cukup beruntung bisa membuat pesawat luar angkasa 0,5 warp yang menarik perhatian Vulcan dan akhirnya Vulcan mau membagi teknologinya dan mulailah masa interaksi manusia dan Alien.

Disruptor kedua adalah replikator, sebuah alat yang bisa mengubah energi jadi materi. Materi apa saja. Dengan replikator segala pengejaran kekayaan jadi absurd. Punya emas 10 Kg atau 1 ton jadi mudah, tinggal buat saja dengan replikator. Kalau semua orang bisa membuat emas, sistem ekonomi jadi absurd.

Hal inilah yang membuat bankir tadi terkesima, bahwa hidupnya selama bertahun-tahun dibuat sia-sia dengan hilangnya sistem ekonomi yang membuat dia kaya. “Jadi aku harus ngapain?” tanyanya mencari jati diri di abad 24.

Semua ini membuat aku bertanya-tanya, adakah perubahan serupa di masa lalu yang akan membuat banyak hal sia-sia.

Ada, konsepnya disebut komodifikasi.

Komodifikasi adalah sebuah konsep yang jika dijelaskan kira-kira membuat sesuatu yang tadinya unik jadi seragam dan bisa dibeli di pasar. Misalnya, produk kerajinan berubah jadi barang massal. Misal, dulu membuat bangku dari kayu butuh tukang yang mengerjakan dengan teliti selama seminggu, sekarang tinggal beli di pasar.

Komodifikasi juga bisa dilihat di pasar tenaga kerja low-skilled worker. Pabrik bisa dengan mudah memecat buruh dan menggantinya tanpa khawatir orang yang baru harus belajar lagi. Hal ini berarti tenaga kerja pabrik itu sudah terkomodifikasi. Contoh lain, McDonalds, semua orang bisa jadi karyawan McDonald, semua ada Standard of Procedure-nya tinggal diikuti dan burger pun jadi.

Di dunia star trek, komodifikasi yang ekstrem dicapai dengan replikator, sebelum replikator membuat pistol cukup rumit, dengan replikator tinggal pencet tombol. Bahkan membuat kopi atau teh pun bisa dengan replikator. Di jaman Star Trek, manusia tidak perlu membunuh sapi untuk dapat daging sapi, cukup pencet tombol replikator jadilah steak paling enak sedunia. Komodifikasi ekstrem.

Sistem ekonomi di masa lalu penuh dengan komodifikasi dan bahkan menghancurkan sebuah profesi seperti ini. Jaman dahulu bisa menulis itu skill yang paling hebat. Jaman dahulu lagi, Scriber atau penulis adalah profesi yang menggiurkan dan sangat melelahkan. Jika kita ingin membeli sebuah buku maka kita kudu pesan ke penulis untuk dibuatkan salinan buku yang kita mau. Si penulis akan mencari kopi buku tersebut(yang juga menyalin buku itu dari orang lain) lalu menulis isinya satu persatu. Semua berubah ketika mesin cetak Gutenberg datang. Apalagi sekarang, bahkan kita tidak perlu ke toko buku. Klak-klik Google, ikuti link, sudah bisa baca di web.

Pendidikan juga bisa membuat sebuah profesi menghilang. Jaman Belanda, orang Jawa yang bisa menulis akan mengganti namanya jadi ada Sastro-nya. NitiSASTRO, SASTROwardoyo, SASTROhadmojo adalah contoh nama-nama Jawa yang hadir karena kakek-nenek mereka bisa menulis dan jadi juru tulis pabrik atau kantor pemerintah Belanda. Jaman sekarang, orang bisa menulis sejak TK atau paling lambat SD Kelas 1.

Meski kita bisa mengenali pola masa lalu, masih sangat susah meramalkan masa depan. Aku kerja di sebuah industri yang tugasnya menghancurkan apa yang di masa lalu dan membuat sesuatu untuk masa depan, Teknologi.

Perusahaan teknologi bisa menghadirkan cara baru untuk menonton film via Netflix, Hulu atau Vine. Menghadirkan cara baru berkorespondensi via e-mail atau chat. Menghadirkan cara baru membaca buku lewat eBook dan eBook reader. Tak jarang, perusahaan teknologi menghancurkan bisnis yang sudah ada bertahun-tahun. Amazon misalnya, menghancurkan bisnis toko buku dengan sistem beli buku online, Craiglist dan website iklan baris menghancurkan bisnis iklan baris di koran, e-mail menghancurkan bisnis PT Pos dan telegram. Seringkali, Teknologi mengkomodifikasi produk atau layanan yang dahulu ada. Contoh, perusahaan tempatku bekerja, Agoda, mengkomodifikasi hotel sehingga kita bisa melihat hotel dari harga, mana yang paling murah.

Oke, posting panjang gini intinya apa?

Intinya sih, ini adalah sebuah usaha untuk mensintesis pemikiran dari berbagai sumber yang aku baca atau tonton dengan tema perubahan dan penghancuran secara kreatif supaya aku bisa punya catatn tentang pemikiran ini. Bahwa segala sesuatu berubah.

 

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 29 Januari, 2014, in experience, idealist, sci-fi, writting. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. beuh analisa yang menarik….sini aku traktir sushi…hihi

  2. Iya ini tulisan yang bagus. Usaha bokap di ekspedisi udara termasuk yang paling kena imbas ketika kantor2 langganan kami berhenti mengirim dokumen karena diganti email. :)

    Jaman sekarang saya bahkan kagum lihat konser yang pake hologram. Sementara artis aslinya ikut nonton di tribun.. :roll:

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: