Arsip Penulis: dnial

Tentang Star Trek dan Perubahan

Salah satu serial TV favoritku adalah Star Trek, terutama The Next Generation. Di salah satu episodenya, Star Trek menceritakan tentang 3 orang yang dibekukan karena menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan di abad 21 dan karena kerusakan mesin pesawat mereka, mengambang di luar angkasa selama ratusan tahun. Ketiga orang itu harus menghadapi situasi yang baru sama sekali di masa yang bukan masa mereka.

Orang pertama, seorang penyanyi country, menghadapinya dengan santai, “Lha kan aku harusnya sudah mati, ya santai sajalah.” orang kedua, seorang wanita depresi karena semua orang yang dia kenal sudah meninggal, “Suamiku egois, dia membekukanku supaya dia tidak merasa bersalah karena pengobatannya gagal”, orang ketiga, seorang bankir kaya ngotot ingin kembali ke bumi untuk mencairkan dananya.

Kapten Jean-luc Picard mencoba menjelaskan kepada sang bankir tentang perubahan di bumi di abad 24, bahwa tidak ada uang di abad 24 dan mengumpulkan kekayaan bukanlah tujuan manusia lagi. Read the rest of this entry

Tentang Kompleksitas Hidup

Sudah beberapa kali aku berpindah tempat tinggal. Dari Surabaya ke rumah paman di Bekasi, dari Bekasi ke kos di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, saat sebelum menikah pindah dari kos ke Apartemen Gading Nias dan sekarang dari Apartemen Gading Nias ke rumah mertua di Pulomas. Dan besok, hijrah ke negeri orang bersama Priska.

Dan aku perhatikan barang yang aku bawa setiap kali pindah semakin banyak. Saat aku pindah ke apartemen aku harus menyewa mobil boks, tapi proses pindahannya sendiri hanya satu-dua jam. Tapi, proses pindahan ke rumah mertua ini yang membuatku geleng-geleng kepala.

Proses pindahannya cukup lama, mengangkut barang-barang ke pickup yang menunggu di bawah seakan tidak selesai-selesai. Banyak sekali barang yang kita pindahkan, itupun sudah dicicil selama sebulan terakhir. Read the rest of this entry

Tentang Beli atau Sewa Rumah

Tren investasi di sektor properti membuat banyak orang susah. Termasuk yang belum memiliki rumah sendiri untuk tempat tinggalnya.

http://finance.detik.com/read/2013/11/28/112509/2426117/1016/properti-jadi-investasi-yang-belum-punya-rumah-tidak-bisa-punya-rumah

Jadi, investasi rumah bagus atau tidak? Tergantung cara pandang pingin/bisa punya rumah pertama atau tidak.

Buat yang belum bisa punya rumah pertama dan butuhnya kontrak rumah harusnya sih bagus, ada banyak kontrakan dan sewa rumah dengan harga bersaing hasil dari orang yang punya rumah kedua, ketiga yang tidak ingin asetnya tidur.

Tapi, bagaimana menghitung apakah sebuah rumah overvalued dan mending sewa?

Nggak susah sebenarnya, coba cek Price to rent ratio. Hitung harga rumah di daerah sekitar dan bandingkan dengan harga sewa setahun. Jika harga rumah 400juta dan sewa setahun 20 juta berati P/R-nya 400juta/20juta = 20.

Jika ekonomi normal, harusnya P/R-nya sekitar 10-15an. Jika di atas itu maka harga rumah di daerah tersebut overvalued dan sedang bubble dan bubble bisa pecah sewaktu-waktu. Alternatif penjelasan lain, harga sewa daerah situ terlalu murah dan akan segera naik.

Rule of thumb-nya, sebagai konsumen jika P/R 0-15 maka lebih baik beli. 16-20 adalah grey area, tergantung rencana tinggal berapa lama dan keadaan keuangan dan apakah memang benar-benar perlu punya rumah. Di atas 20 lebih baik sewa dan menunggu harga turun, atau sewa naik.

Ini perhitungannya hanya P/R yah, bukan keadaan keuangan kita. Yang jelas, kalau kita membeli rumah secara berhutang, maka total hutang kita(termasuk kredit mobil atau motor, kredit panci, dll) harus kurang 33% dari pendapatan kita perbulan agar tidak membebani.

Referensi:
http://www.bankrate.com/finance/mortgages/how-to-calculate-a-home-s-value-1.aspx
http://www.ryanprice.ca/2012/01/19/price-to-rent-ratio-what-is-it-and-how-can-it-be-used/

Disclaimer:
1. Ini adalah hasil riset on-off beberapa tahun terakhir.

2. Saya bukan ahli properti, think for yourself.

Man of Steel: Fundamentalisme dan Free Will

General Zod: No matter how violent, every action I take is for the greater good of my people.

Hari Rabu yang lalu aku menyempatkan diri untuk nonton Man Of Steel di biosokop dengan istri. Ini adalah salah satu film yang ditunggu-tunggu karena meski aku tidak terlalu ngefans dengan Superman, ide ceritanya cukup menarik. Dan film ini memang tidak mengecewakan walau bisa lebih baik lagi.

Ini adalah review film dan sedikit renungan, ada banyak spoiler di sini.

Man-of-Steel-EW-1Sebagai penonton, kita akan selalu membandingkan film Man of Steel dengan tipikal film superhero lainnya seperti trilogi Ironman, Captain America ataupun trilogi Batman. Jika kita bandingkan maka kualitas Man of Steel sedikit di bawah film-film superhero lainnya.

Sebenarnya susah juga sih bikin film Superman, susah untuk mencari penjahatnya karena Superman ini super-duper kuat dan punya kualitas manusia ideal, kuat, baik hati, tidak sombong dan suka menolong. Menelusuri masa mudanya pun tidak menarik, meski sering dibully dia masih terlihat sebagai moral high-ground, tidak membalas meski punya kekuatan luar biasa. Artinya susah mencari ambiguitas moral di cerita Superman. Beda dengan Batman yang yatim dari kecil dan ingin membalas dendam pada para penjahat Gotham atau Ironman yang alkoholik dan suka main wanita atau Captain America yang walau punya moral high-ground tidak didukung dengan kekuatan. Superman is too perfect.

So, akhirnya mereka mengeksplorasi sisi “dewa” bagi manusia. Superman di sini diposisikan sebagai seorang Mesias dan sebagai upaya untuk memberi kredibilitas, usianya 33 tahun saat event utama film ini berlangsung, sama dengan usia Yesus saat disalib. Read the rest of this entry

Tentang Pengukuran

Not everything that can be counted counts, and not everything that counts can be counted.
William Bruce Cameron

Aku sedang gamang. Gamangnya sih sederhana, aku sedang kerajingan mengukur segala hal yang bisa diukur. Alasannya begini, karena menurutku performa yang bisa diukur itu penting untuk bisa membuat informed decision. Penting sekali untuk membuat dan mengenali metriks-metriks yang bisa menggambarkan keadaan dalam sistem. Misal, dalam sistem komputer kita bisa kasih parameter response time, kalau response time-nya lambat maka ada sesuatu yang tidak optimal dalam sistem dan kudu diperbaiki.

Prinsip Metriks yang bagus
Kalau dariku prinsip metriks yang baik itu adalah:
1. Deskriptif. Metriks yang kita pilih haruslah metriks yang bisa menggambarkan keadaan sistem saat itu. Response time dari website adalah contoh yang bagus. Kita bisa cepat tahu sistemnya sedang lambat atau cepat hanya dengan melihat response time.
2. Investigatif. Metriks yang ini biasanya beda dengan nomor 1. Jika di metriks 1 kita bisa melihat ada masalah, metriks investigatif ini gunanya untuk tahu, masalahnya dimana. Jika metriks pertama bilang website lambat, metriks kedua bisa bilang lambatnya dimana. Apakah lambat saat proses, akses database, akses webserver atau yang lain.
3. Konsisten. Prinsip metriks yang ini sedikit bermasalah memang, ini salah satu yang membuatku berpikir keras. Misal aku membuat perubahan pada sistem dan sistemnya jadi lebih cepat, aku harus tahu juga, apakah website yang lebih cepat itu memang karena perubahan yang dilakukan atau karena kebetulan (pengunjungnya drop, memang bukan jam sibuk, atau ternyata kabel fiber optik di Sumatera sudah diperbaiki).
4. Cepat, mudah dan murah. Prinsip ini juga yang kudu dipegang erat. Mungkin kita tahu bahwa suatu metriks itu penting, tapi jika butuh 10 orang yang mengerjakan dalam waktu sebulan untuk dapat metriks tersebut maka metriks itu terlalu mahal. Seringkalo metriks yang terlalu lama pengerjaannya juga tidak efektif karena kita telat meresponnya. Jadi, metriks itu harus cepat agar bisa direspon dengan segera jika ada yang salah, mudah dan murah agar tidak menghabiskan sumber daya yang berharga.
5. Tepat guna. Ini terkait dengan kutipan di awal artikel ini, tidak semua yang bisa diukur itu berguna. Tapi ini juga relatif. Contoh kasus, perusahaan UPS di US saat mengatur jalur pengiriman barang akan membuat rutenya sedemikian hingga belok kirinya diminimalisir hal ini karena mereka menemukan bahwa belok kiri itu menghabiskan banyak bensin. Ide ini cuma bisa terjadi jika UPS mencatat berapa kali supir belok kiri, lurus dan belok kanan, berapa jumlah bensin sebelum jalan dan berapa saat kembali ke gudang. Sekilas, memang datanya mubazir dan tidak tepat guna, tapi selama pengumpulan datanya cepat mudah dan murah, ya kenapa tidak? Siapa tahu nantinya bisa dipakai.
6. Sensor, sensor dan sensor. Terkait dengan pertentangan antara 4 dan 5, sensor adalah enabler revolusi data metriks. Kita bisa memasang berbagai sensor di mobil UPS untuk mengukur performa supir sehingga kita bisa punya gambaran komprehensif apa saja yang terjadi di mobil UPS.

Masalah dengan metriks.
1. Data overload. Karena mengukur sesuatu sekarang gampang, maka data poinnya semakin banyak. Kadang kita malah punya terlalu banyak data yang kudu diolah sehingga kesimpulannya tidak ada, lebih parah lagi kadang kesimpulannya salah karena begitu banyaknya data sehingga hipotesis yang sebenarnya salah pun bisa dibuktikan.
2. Bias kognitif. Ini sebenarnya terkait dengan siapa yang mengukur. 2 orang yang memandangi data yang sama bisa melihat dua hal yang berbeda. Yang mana yang benar? Tergantung mana yang teriaknya lebih kencang tentunya.
3. Gaming the system. Hal ini biasanya terjadi jika yang diukur adalah performa pegawai. Contohnya jika kita mengupah pelayan hotel dengan jumlah kamar yang dibersihkan maka kita akan melihat para pelayan ini tiba-tiba bisa menyelesaikan banyak kamar dalam sehari, tapi kamarnya tidak dibersihkan dengan benar.
4. Data yang penting ternyata tidak bisa atau susah diukur. Ini adalah inti kutipan di awal artikel. Ternyata memang ada hal-hal yang ingin kita tahu tapi susah diukur. Contohnya produktifitas pegawai dan performa perusahaan. Kita tidak bisa dengan mudah mengukur produktifitas pegawai tanpa para pegawai kita mempermainkan sistem kita. Performa perusahaan juga begitu, misal kita bilang, perusahaan yang bagus adalah perusahaan yang profit per kuartalnya besar, kita akan menemukan banyak perusahaan akan memotong banyak pos-pos pengeluaran penting agar profit kuartal ini besar dan jadi short-term thinking. Akhirnya untung besar, tapi lama kelamaan malah bangkrut.

Kesimpulan
Tidak ada kesimpulan selain mengukur performa sistem itu tidak semudah yang dibayangkan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.