Arsip Penulis:

Tentang Pengukuran

Not everything that can be counted counts, and not everything that counts can be counted.
William Bruce Cameron

Aku sedang gamang. Gamangnya sih sederhana, aku sedang kerajingan mengukur segala hal yang bisa diukur. Alasannya begini, karena menurutku performa yang bisa diukur itu penting untuk bisa membuat informed decision. Penting sekali untuk membuat dan mengenali metriks-metriks yang bisa menggambarkan keadaan dalam sistem. Misal, dalam sistem komputer kita bisa kasih parameter response time, kalau response time-nya lambat maka ada sesuatu yang tidak optimal dalam sistem dan kudu diperbaiki.

Prinsip Metriks yang bagus
Kalau dariku prinsip metriks yang baik itu adalah:
1. Deskriptif. Metriks yang kita pilih haruslah metriks yang bisa menggambarkan keadaan sistem saat itu. Response time dari website adalah contoh yang bagus. Kita bisa cepat tahu sistemnya sedang lambat atau cepat hanya dengan melihat response time.
2. Investigatif. Metriks yang ini biasanya beda dengan nomor 1. Jika di metriks 1 kita bisa melihat ada masalah, metriks investigatif ini gunanya untuk tahu, masalahnya dimana. Jika metriks pertama bilang website lambat, metriks kedua bisa bilang lambatnya dimana. Apakah lambat saat proses, akses database, akses webserver atau yang lain.
3. Konsisten. Prinsip metriks yang ini sedikit bermasalah memang, ini salah satu yang membuatku berpikir keras. Misal aku membuat perubahan pada sistem dan sistemnya jadi lebih cepat, aku harus tahu juga, apakah website yang lebih cepat itu memang karena perubahan yang dilakukan atau karena kebetulan (pengunjungnya drop, memang bukan jam sibuk, atau ternyata kabel fiber optik di Sumatera sudah diperbaiki).
4. Cepat, mudah dan murah. Prinsip ini juga yang kudu dipegang erat. Mungkin kita tahu bahwa suatu metriks itu penting, tapi jika butuh 10 orang yang mengerjakan dalam waktu sebulan untuk dapat metriks tersebut maka metriks itu terlalu mahal. Seringkalo metriks yang terlalu lama pengerjaannya juga tidak efektif karena kita telat meresponnya. Jadi, metriks itu harus cepat agar bisa direspon dengan segera jika ada yang salah, mudah dan murah agar tidak menghabiskan sumber daya yang berharga.
5. Tepat guna. Ini terkait dengan kutipan di awal artikel ini, tidak semua yang bisa diukur itu berguna. Tapi ini juga relatif. Contoh kasus, perusahaan UPS di US saat mengatur jalur pengiriman barang akan membuat rutenya sedemikian hingga belok kirinya diminimalisir hal ini karena mereka menemukan bahwa belok kiri itu menghabiskan banyak bensin. Ide ini cuma bisa terjadi jika UPS mencatat berapa kali supir belok kiri, lurus dan belok kanan, berapa jumlah bensin sebelum jalan dan berapa saat kembali ke gudang. Sekilas, memang datanya mubazir dan tidak tepat guna, tapi selama pengumpulan datanya cepat mudah dan murah, ya kenapa tidak? Siapa tahu nantinya bisa dipakai.
6. Sensor, sensor dan sensor. Terkait dengan pertentangan antara 4 dan 5, sensor adalah enabler revolusi data metriks. Kita bisa memasang berbagai sensor di mobil UPS untuk mengukur performa supir sehingga kita bisa punya gambaran komprehensif apa saja yang terjadi di mobil UPS.

Masalah dengan metriks.
1. Data overload. Karena mengukur sesuatu sekarang gampang, maka data poinnya semakin banyak. Kadang kita malah punya terlalu banyak data yang kudu diolah sehingga kesimpulannya tidak ada, lebih parah lagi kadang kesimpulannya salah karena begitu banyaknya data sehingga hipotesis yang sebenarnya salah pun bisa dibuktikan.
2. Bias kognitif. Ini sebenarnya terkait dengan siapa yang mengukur. 2 orang yang memandangi data yang sama bisa melihat dua hal yang berbeda. Yang mana yang benar? Tergantung mana yang teriaknya lebih kencang tentunya.
3. Gaming the system. Hal ini biasanya terjadi jika yang diukur adalah performa pegawai. Contohnya jika kita mengupah pelayan hotel dengan jumlah kamar yang dibersihkan maka kita akan melihat para pelayan ini tiba-tiba bisa menyelesaikan banyak kamar dalam sehari, tapi kamarnya tidak dibersihkan dengan benar.
4. Data yang penting ternyata tidak bisa atau susah diukur. Ini adalah inti kutipan di awal artikel. Ternyata memang ada hal-hal yang ingin kita tahu tapi susah diukur. Contohnya produktifitas pegawai dan performa perusahaan. Kita tidak bisa dengan mudah mengukur produktifitas pegawai tanpa para pegawai kita mempermainkan sistem kita. Performa perusahaan juga begitu, misal kita bilang, perusahaan yang bagus adalah perusahaan yang profit per kuartalnya besar, kita akan menemukan banyak perusahaan akan memotong banyak pos-pos pengeluaran penting agar profit kuartal ini besar dan jadi short-term thinking. Akhirnya untung besar, tapi lama kelamaan malah bangkrut.

Kesimpulan
Tidak ada kesimpulan selain mengukur performa sistem itu tidak semudah yang dibayangkan.

Tentang Google Reader

“RSS is dead, long live RSS!”

Aku adalah salah satu pengguna Google Reader, sebuah layanan untuk membaca RSS. Aku sendiri juga pernah membuat sebuah situs aggregator berita lewat RSS, jadi bisa dibilang RSS adalah teman.

Aku menggunakan Google Reader untuk mengupdate berita terbaru di jalan sambil bergelantungan di bis transjakarta. Aku berlangganan cukup banyak blog tematis jadi sangat repot kalau harus blogwalking satu-satu apalagi via handphone.

Tapi, awal bulan ini diumumkan bahwa Google akan menutup Google Reader, layanan RSS mereka. Dan hasilnya kekacauan terjadi di jagad Internet. Well, sort of.

Read the rest of this entry

UMR Buruh dan Lapangan Kerja – Esai Sok Pintar

Beberapa hari terakhir beberapa tempat di Indonesia diramaikan dengan aksi demo buruh. Di Jakarta aksi ini memacetkan jalanan sekitar Bundaran HI dan saat aku berlibur ke Surabaya, bunderan Waru juga diramaikan dengan buruh yang bersiap konvoi ke kantor Gubernur Jatim untuk demo UMR juga.

Jadi, apa sih yang dituntut buruh?

Para buruh berdemo untuk menuntut peningkatan upah minimum. Di Jakarta nilai yang mereka tuntut 2,7 juta/bulan dan di Jawa Timur 2,2 juta/bulan.

Hanya ada satu kata: Wow!

Karena ternyata gaji adikku yg freshgrad tidak sebesar itu.

Kabar baiknya, gaji adikku bakal naik, kabar buruknya adik2 yang lain yang sedang mencari pekerjaan akan lebih susah mencari kerja.

Kok bisa?

Read the rest of this entry

An update and some more

Setelah melihat sora9n ngeblog, akhirnya aku tergelitik untuk membuat sebuah tulisan blog baru. :) )

Secara umum, setahun ini terjadi gelombang perubahan yang cukup besar dan yang terbesar akan terjadi seminggu dari sekarang. Perubahan status dari single menjadi married. Yeah, I’m getting married in 10th November!Gambar

Wanita yang akan kunikahi jelas bukan wanita sembarangan. Cerdas, menyenangkan dan selalu segar. Kami yakin kami akan melewati hari-hari bersama dengan saling mendukung, saling mengingatkan dan saling menguatkan. Berantem pasti ada, tapi sifat-sifat kami menunjukkan bahwa setiap kali bertengkar pasti bisa diselesaikan. Dan bakal banyak sukanya.

Kedua soal pengembangan diri. Di tahun ini aku mulai mengenal situs yang membuka wawasan tentang banyak hal, coursera. Coursera pada dasarnya adalah situs yang menawarkan kuliah online gratis kepada setiap orang yang mau belajar di seluruh dunia. Matakuliahnya mulai dari Ilmu Komputer, Ekonomi, Manajemen, Psikologi, Biologi, Kedokteran, sampai yang kuliah multidisiplin. Pokoknya banyak deh. Dan dosennya adalah pengajar dari universitas ternama di dunia. Kapan lagi dapat akses ke otak para ahli bertaraf internasional? Ini yang aku bicarakan dalam postingan soal skalabilitas pengajar. Aku senang pengetahuan dan kuliah-kuliah para ahli itu jadi mudah diakses.

Salah satu matakuliah yang sudah kuselesaikan adalah Gamification, di situ kita diajari bagaimana cara menerapkan suasana game-like ke situasi yang bukan game. Read the rest of this entry

Tentang Indonesia Merdeka

Hari ini, 67 tahun yang lalu, Soekarno, yang sehari setelahnya dipilih menjadi presiden pertama RI, membacakan proklamasi kemerdekaan RI di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Proklamasi ini menandai awal Perang Kemerdekaan yang berakhir pada tahun 1950 dengan diakuinya kemerdekaan RI oleh Belanda di Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Mereka yang bilang bahwa kemerdekaan RI itu adalah hadiah dari Belanda atau sekutu, silahkan datang ke Taman Makam Pahlawan dan bilang itu dengan keras di hadapan para pejuang yang meninggal dalam Perang Kemerdekaan, bahwa mereka tidak perlu mati, bahwa perjuangan mereka sia-sia karena toh itu hadiah.

Soekarno pernah bilang bahwa, “Perang kami melawan penjajah tapi perangmu melawan bangsamu sendiri.”

Perkataan itu selalu terngiang di telinga saat memandang korupsi yang masih merajalela di negeri ini, birokrasi yang tidak efisien, politisi yang tidak bisa dipercaya dan banyaknya kekerasan atas nama agama di negeri ini. Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.