Exiles : Story of Homesick Superhero

Mungkin nggak banyak yang tahu komik The Exiles. Komik itu diterbitkan oleh Marvel Comics dan aku nggak tahu sudah ada di Indonesia atau belum. Aku mbaca ebooks-nya. Sudah lama aku punya, tapi baru belakangan ini aku sempat mbaca ebooks tentang Superhero macam Exiles, Ultimate X-men atau Ultimate Spiderman (n sekarang dah ilang huhuhu…. ).

Okay, back to Exiles. Exiles bercerita tentang Superhero yang berasal dari Alternate dimensi yang berbeda-beda, disatukan oleh “Timebroker” untuk berkelana dari dimensi ke dimensi untuk memperbaiki alur waktu (kayak memperbaiki masa lalu gitu deh). Setelah agak lama (beberapa komik) baru diketahui ada grup lain yang seperti ini, namanya Weapon-X.

===== Warning! : Spoiler or Ending Story below =====

Exiles pertama kali terbentuk terdiri dari 6 orang :
1. Morph : Anggota X-men, punya kemampuan untuk berubah bentuk
2. Thunderbird : Kemampuan superhuman strength,ex anggota Apocalypse 4 Horseman, title : War
3. Blink : Teleporter
4. Nocturne : Anak dari Nightcrawler dan Scarlet Witch, punya kemampuan “merasuki” seseorang
5. Mimic : Anggota X-men, punya kemampuan untuk meniru kemampuan 5 mutant lain, tapi tenaganya hanya setengah yang ditiru
6. Magnus : Anak Magneto dan Roque, setiap dia menyentuh orang dia berubah menjadi besi, dan punya kemampuan elektromagnet

Demikianlah Exiles. Mereka berkelana dari satu dimensi ke dimensi lain. Membenarkan hal yang salah, or so it seems. Misi pertama mereka adalah membebaskan guru para mutant di dimensi dimana para mutant ditangkap. Jelas guru para mutant adalah Prof. X, or so it seems. Mereka membebaskan Prof X, psichyc terkuat di dunia, hanya untuk melepaskan teror. Ternyata Prof X di dunia itu adalah A bad guy, a very bad guy. Jadi mereka salah orang. Ternyata sebenarnya mereka harus membebaskan, guess who? Magneto. Dan dalam pembebasannya Magnus harus berkorban. Dia mati pada misi pertama karena mereka terlalu ceroboh. However, mission accomplish. Dan mereka mendapat Sunfire, seorang gadis imigran Jepang yang punya kemampuan pyrokinesis.

Banyak hal yang membuatku termenung dalam komik ini. Contohnya Mimic, dia adalah salah satu pahlawan besar di dimensinya, setara dengan Superman atau Batman di DC Comics World. Dia bahkan menjadi pimpinan X-men dengan Wolverine. Di dunianya semua jelas, mana hitam mana putih. Tapi di Exiles, abu-abu. Dia harus membunuh orang yang di dunianya adalah teman, berteman dengan musuh (or so it feels), melakukan a things that a hero wouldn’t do, what he’ll do then?

Ada misi dimana Exiles harus membunuh seorang anak kecil, David seorang mutant yang akan menyelamatkan mutant lain, hanya untuk menguasai dunia. Damn! Killing a boy? Get real! Dan seperti superheroes lain, mereka menolak misi itu. Saat itulah Weapon-X datang. Weapon-X seperti sisi lain dari Exiles, mereka melakukan semua tugas. By all means necessary, Even kill. Dan buat mereka membunuh David adalah tugas mudah, dan mereka dengan senang hati melakukannya. Exiles akhirnya harus bertarung dengan Weapon-X. Creed, pemimpin dari Weapon-X memutuskan untuk membantu Exiles untuk menyelamatkan David, yang berarti melawan timnya sendiri. Akhirnya setelah bertarung lama, Timebroker datang dan mereka memutuskan satu hal. Creed akan tinggal menjaga David dan Weapon-X harus mencari pemimpin baru, Gambit.

Ada juga misi yang menarik. Dimana Blink baru saja dieliminasi(kalo di Exiles that’s mean going home and is good) dan pimpinan dipegang oleh Mimic, dan Blink digantikan oleh Magik. Exiles dikirim dunia dimana ada perusahaan bernama Hero for Hire (yup, persewaan superhero). Ada sebuah masalah, seorang bernama Moses Magnum berusaha melakukan genocide terhadap warga Jepang, ya negara milik Sunfire, dan The Avenger harus menyelamatkannya. Misi mereka adalah, membunuh Moses Magnum(think again), membunuh The Avenger, Damn! Tapi like heroes, Exiles berpikir lain. Mereka berusaha untuk mengalahkan Magnum Moses, tapi Magik tidak, dia akan membunuh The Avenger. But surprise! Salah satu The Avenger adalah saudaranya, Collosus. Tapi whatever dia melakukannya. Tapi Avenger kalah, dan Collosus membantunya, dia membunuh 2 sahabatnya dan bunuh diri agar adiknya, Magik bisa menyelesaikan misinya(what a brother love!).

Banyak hal di dunia Exiles. Mereka harus membunuh Captain America yang berubah jadi Vampire, menjaga Tony Stark – Iron Man – yang menjadi Presiden AS, mengajari Fantastic Four saat awal-awal terbentuknya tim, Membantu Dr. Doom (the bad Dr. Doom) melawan Prince Namor, raja Atlantis, dan lain-lain.

Kalo dipikir-pikir, ceritanya seru juga, banyak muatan moral, a hard choice to make, moral conflict. Seperti gimana kalo kita ada di luar zona aman kita, kayak Mimic, apakah prinsip kita teruji? Apakah kita blindly mengikuti perintah atau mempertanyakan perintah yang tidak sesuai prinsip? Intinya, What makes a hero a hero? Ones power or ones heart, principle, way of life? How’s a hero act in difficult situation? Following order, following ones heart or following ones principle?

Kesimpulannya, Exiles is a great comic.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 13 Juli, 2006, in review. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: