Monthly Archives: Agustus 2006

Freakonomics: A Book Review

Statistic and economy are two different issues that link one to another. Statistics are the root of all research. Every research needs certain amount of testing, observation, or experiments. Those activities gives the scientist a data. Statistic is the only way to process the data and make it ready to the next stage.

Economy are studying about how people produce, distributing and consuming goods and services (or something like that). Economic study is very interested in one thing called insentives. Insentives is why people do something, like stealing, working, or resting. There is three kind of insentives: social, moral, and economy. And this book trying to understand everything in our daily activities based on these insentives and also other economic theory.

The chapters of this book are:

  • Chapter 1: Discovering cheating as applied to teachers and sumo wrestlers (See below)
  • Chapter 2: Information control as applied to the Ku Klux Klan and real-estate agents
  • Chapter 3: The economics of drug dealing, including the surprisingly low wages and abject working conditions of crack cocaine dealers
  • Chapter 4: The controversial role legalized abortion has played in reducing crime. (Levitt explored this topic in an earlier paper entitled “The Impact of Legalized Abortion on Crime.”)
  • Chapter 5: The negligible effects of good parenting on education (instead, the authors assert that it is what the parents are, not what they do, that makes a difference)
  • Chapter 6: The socioeconomic patterns of naming children

It’s weird huh? There is no common theme for this book except curiosity, and here curiosity doesn’t kill the cat.

Everyone Can Be Freak

Everyone can be a freak. Seriously!

I knew a girl, a nice girl, funny in her own way. And I play a little flirt game. A game called,”hi, girl!” with text message (sms). The odd part of this game is I don’t give her my name. It’s have a great consequences in the end of the game, she called me,”Stalker!” and now she still calling me stalker.

I never really care what everybody say about me, but a stalker? Now I’m the freak? Wow!

A little weird though. I have a good life. I have a lot of good friends. It’s funny, you know, to be someone “stalker”. Maybe what they said is right “the first look is all that matters”. And I don’t give a good first look. And that make a stereotype.

Maybe it’s just a misplayed game of flirt.
Maybe she’s not a girl with a lot of experience.
Maybe it’s a hard lesson for me for not to flirt with a introvert women. A game that I always played well, and end well too, now end with a disastrous effect: a bitter rot, and a smile of defeat(?).

God do has sense of humour…

Have you ever freaking out somebody?

Confirmation Bias

Apa itu?

Pada suatu hari, Itong dan Frans sedang menonton final piala dunia 2006. Itong mendukung Italia, sedang Frans adalah pendukung Perancis. Pada final ada kejadian, Florent Malouda dijatuhkan di kotak penalti dan wasit menghadiahi penalti pada Prancis. Kontan Itong berteriak,”Diving!” sedang Frans membela,”dia dijatuhin sama Materazzi, diving darimana?” Saat rekaman video ditayangkan Itong komentar,”bener kan diving!” sedang Frans berpikir,”tuh… kakinya nyangkut, dijatuhin tuh!” Mana yang benar?

Fakta yang menarik adalah keduanya melihat rekaman yang sama dan memiliki pendapat yang berbeda. Pendapat yang mereka ambil, bisa disimpulkan, membela tim kesayangan mereka. Hal ini adalah salah satu bentuk confirmation bias

Confirmation bias adalah suatu bias yang menyebabkan kita cenderung melihat fakta-fakta yang menguatkan pendapat kita, dan kita meremehkan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan pendapat kita, atau dalam kasus lain, kita melihat setiap fakta yang ada mendukung pendapat kita. Itu bahasa langitnya, gampangannya Confirmation Bias adalah gagal melihat sisi lain yang bertentangan dengan pendirian kita dan cenderung bertahan pada pendapat kita.

Mengapa?

Setiap manusia punya kecenderungan untuk merasa benar, mereka memiliki rasa ego,”aku harus benar” sedikit banyak inilah penyebab banyak kesengsaraan di muka bumi (cieee….. melip pek!!!). Hal inilah yang membuat kita cenderung menolak fakta yang menyangkal pendapat kita.

Sebab lain adalah seringnya kita terlibat secara emosional dengan pendapat kita. Maksudnya adalah, suatu sangkalan terhadap pendapat kita diartikan serangan pada pribadi kita. Kita seakan-akan dianggap nggak becus, atau bodoh.

Bagaimana Pengaruhnya?

Kita selalu menyangka para ilmuwan adalah orang yang berpikiran logis, dan tidak emosional. Ternyata hal ini keliru. Ilmuwan tetap manusia yang punya emosi. Contoh adalah ungkapan Max Planck yang kira-kira berbunyi bahwa diterimanya ilmu yang baru yang bertentangan dengan yang lama seringkali bukan karena ilmu yang baru memberikan bukti yang kuat tapi seringkali karena para pendukung ilmu yang lama telah meninggal dunia.

Pengaruh ini juga bisa terjadi pada kita, dalam hal sederhana adalah peristiwa Piala Dunia di atas. Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan yang prematur atau asumsi yang salah, fanatisme terhadap nilai, bisa jadi mengarahkan kita mengambil keputusan salah. Dalam kasus lain, kita cenderung membenarkan diri jika kita dievaluasi negatif oleh orang lain.

Trus Solusinya?

Solusi praktis adalah :

  1. Membuka paradigma terhadap masalah yang dihadapi, open minded gitu.
  2. Membedakan antara usaha orang lain untuk mengoreksi pendapat kita dengan usaha untuk menjatuhkan kita, lebih bijak dan peka.
  3. Mengosongkan diri dari segala asumsi sebelum melihat fakta, pikiran netral dan siap menerima segala kemungkinan (boso opo maneh iki?)
  4. Merangkul pendapat orang lain dan menganalisisnya secara seksama dengan pikiran jernih, terbuka dan kritis terhadap masukan.
  5. Menjauhkan diri secara emosional dari pendapat kita, sehingga bisa nrimo

Kayaknya ini aja blog –nya sekian sampai jumpa di lain kesempatan.