Perjalanan Menjadi Manusia

Hari itu, jam 2 pagi, aku terbangun dari tidur. Melangkah tak pasti ke ruang TV.
Daripada tidur lagi, nonton TV aja ah!
Klik!
Cetek! Cetek! (TV di rumah nggak ada remotenya😦 )
Ketemu film Bicentennial man-nya Robin Willams di RCTI, sudah separuh jalan.
Nonton dulu ah!

Film ini berkisah tentang seorang, seekor, sesosok, sepotong, seonggok, waduh istilahnya apa ya, sebuah robot aja deh, bernama Andrew. Dia dibeli oleh keluarga Martins untuk menjadi seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT).
Andrew sebenarnya adalah robot yang defect (rusak), karena ternyata dia memiliki seonggok “perasaan.”

Cerita ini berjalan tentang sebuah perjalanan Andrew untuk menjadi manusia. Aneh sebenarnya, kenapa robot pingin menjadi manusia?
Apa sih yang membuat manusia itu “manusia”?
Andre mencoba memiliki segalanya yang dimiliki manusia, perasaan, rasa lapar, bahkan dia mampu melakukan hubungan seksual.

Apa katanya soal itu?

That you can lose yourself. Everything. All boundaries. All time. That two bodies can become so mixed up, that you don’t know who’s who or what’s what. And just when the sweet confusion is so intense you think you’re gonna die… you kind of do. Leaving you alone in your separate body, but the one you love is still there. That’s a miracle. You can go to heaven and come back alive. You can go back anytime you want with the one you love.

Intine opo?
Pencarian terakhirnya dalam menjadi manusia adalah mortality (kematian). Karena robot itu immortal, maka Andrew tidak diakui sebagai manusia. Dan hasilnya dia pun mendesain dirinya untuk dapat mati sewaktu-waktu. Dan dia pun merasakan bagaimana hidup dengan dibayangi kematian. Suatu yang para dewa pun iri (menurut Achilles di Film Troy sih)

I’ll tell you a secret. Something they don’t teach you in your temple. The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again.

Well….
Perjalanan sejati manusia adalah perjalanan ke hatinya yang terdalam, menaklukkan kegelapan dalam hatinya, dan akhirnya mencapai garis akhir kematian dengan senyum kemenangan dan tanpa penyesalan, karena kita sudah melakukan yang terbaik.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 16 Desember, 2006, in life. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: