Apakah Pulang itu Penting?

Ini rekaman percakapan singkat dengan seorang supir bemo O. Tanggal 30 Desember 2006, sehari sebelum Idul Adha.

Supir: Mas, nggak pulang kampung?
Aku : Oh nggak Pak, Kalau bapak?
Supir: Maunya mas, cuman nggak bisa, nggak punya duit.
Aku : Pulang kemana pak?
Supir: Ke Madura mas.
Aku : Bukannya biasanya kalau pulang cuman Lebaran aja?
Supir: Kalau saya nggak mas, setiap hari raya saya pulang, Idul Fitri, Idul Adha, Maulid, saya pasti pulang. Malah saya bela-belain pinjam kalau perlu, tapi sekarang nggak bisa mas, sudah banyak pinjam, toh 5 hari lagi saudara saya nikah, jadi nanggung mas.
Aku : Oh gitu…
Supir: Rasanya sedih mas, ndenger takbiran tapi nggak di rumah.

Hmmm….
Aku nggak pernah tahu rasanya kangen rumah, lha wong seminggu sekali pulang kok… But aku bisa ngerasain perasaannya, kerinduan akan rumah dimana kita berasal.
Jadi inget lagu in:

Shera – Pulang ke Hatimu – OST 9 Naga

Telah letih langkahku
Dan terasa berat …
Cukup banyak kesalahan
Kubuat …

Di mimpiku
Ku dengar bunyi suara
Yang memanggilku pulang
Ke dalam hatimu
Karna hanyalah hatimu
Rumah terindah…..

Ku kan pulang
Tunggu aku di depan pintumu
Cintamu padaku tuntun jalanku…

Telah letih langkahku
Dan terasa berat
Ku kan pulang ke hatimu
Rumah terindah
Ku pulang ke hatimu
Rumah terindah….

Well, kayak katanya bahamuth Everybody needs a sanctuary…

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 31 Desember, 2006, in life, small talk. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: