Aku dan RS itu

Aku terbangun, rasanya kepalaku pusing sekali. Dimana ini?
Mataku kubuka pelan-pelan, tampak di sekelilingku putih. Kulihat lagi, aku terbaring di ranjang. Dan ibuku tertidur di sebelahku. Kuingat-ingat lagi.. apa yang terjadi ya?

Sekilas ingatanku mulai kembali.
Tapi kok…
Teringat saat aku mulai menggeliat keluar dari sebuah lubang kecil,
dorongan demi dorongan,
Teriakan seorang wanita,
Lalu tawa bahagia,
Mereka berseru senang, entah apa yang mereka celotehkan.
Lalu aku melihatnya, wanita yang kini tertidur di samping tempat tidurku. Kelelahan, tapi tetap cantik, senyum yang tampak penuh kesakitan, tapi tetap tulus.

Lalu, ingatanku melompat lagi.
Saat itu, bisikan-bisikan, kata-kata yang kudengar berulang-ulang. Akhirnya kucoba tirukan, “Mama” Iya itu nama wanita di sampingku sekarang. Mama…
Lalu…
Saat itu di gedung yang sangat besar. Nyanyian yang terasa indah. Lalu mama menggendongku maju. Orang itu menyentuh kepalaku, basah, tapi penuh ketenangan.
Lalu aku melihatnya. Pria berbaju putih. Wajahnya tenang memancarkan perlindungan.
Siapa dia?

Lalu…
Oh cowok sial itu, namanya Eric, dia selalu menggodaku sejak SD. Ada aja ulahnya. Menyembunyikan tasku, sepatuku, baju olahragaku, bukuku. Mungkin jika kepalaku bisa dicopot maka akan disembunyikan juga.
Tapi kenapa aku merasa kehilangan dia ya? Dia kan nyebelin…
Eh, kok kulihat pria tu lagi di sana. Tertawa setiap Eric berulah. Dia menertawaiku ya?

Lho, kok Eric juga di ruangan ini?
Dia duduk di pojok ruangan, matanya memandangku. Kenapa ya? aku cantik kali?
Eh kok jadi narsis? kok jadi salah tingkah?

Dan akhirnya…
Kuingat lagi kejadian itu.
Saat aku menyeberang jalan. Mobil itu sangat cepat.
Sakit…
lalu gelap.

Lho!
Kok pria itu ada di sini juga?
Dia meraih tanganku, tubuhku semakin ringan.
Mama! Eric!
Apa yang terjadi…
“Tenanglah, aku menjemputmu pulang sayang.”
Suaranya tenang.
Dia mulai bercerita tentang tempat tujuanku, pantai yang indah, padang rumput hijau.
Aku pun mengikutinya.

Samar-samar terdengar tangisan ibuku.
“Tenanglah, ibumu akan baik-baik saja. Dia akan menjaganya.”

“Anakku, harusnya kamulah yang menggali kuburku, bukan sebaliknya.”

Prieta Savitri,
Oktober 1984 -Desember 2006.
Akan selalu terkenang di hati.
Sampai ketemu lagi, sayang!

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 16 Januari, 2007, in life. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: