Amistad: A Movie Review

Freedom is not given. It is our right at birth. But there are some moments when it must be taken.

Film Amistad ini keluar tahun 1997, trus kenapa aku mbuat reviewnya 10 tahun kemudian? simple mathematic, karena aku baru nonton beberapa waktu yang lalu. Film ini stand out in the crowd dari film-film yang aku sewa saat itu(Basic Instinct 2, How to Loose Guys in Ten Days, dan film “aneh” 11.14).

-= SPOILER WARNING =-

Film ini bercerita tentang perjalanan para budak dari Afrika dengan kapal Amistad. Dalam perjalanan itu seorang budak bernama Cinque menggalang dan memimpin pemberontakan. Setelah itu Cinque menyuruh 2 awak kapal yang tersisa (yang lain dibunuh) untuk mengantar mereka ke timur. Akhirnya mereka mendarat di Amerika (Aku juga nggak paham kenapa kok bisa gitu). Saat mendarat mereka ditangkap oleh pasukan Navy AS dan ditahan. Lalu Ratu Isabella dari Spanyol mengklaim mereka untuk dieksekusi, sementara itu 2 orang dari Abolisionist (kelompok anti perbudakan) yaitu Theodore Jackson dan Lewis Tappan dengan diwakili oleh pengacara mereka, Robert Baldwin, berjuang lewat pengadilan untuk membebaskan mereka.

Dalam pengadilan pengacara para budak itu menyatakan bahwa budak itu diambil secara ilegal sehingga harus dibebaskan. Dengan berbagai daya upaya Robert Baldwin berhasil meyakinkan pengadilan bahwa mereka layak dibebaskan. Tetapi intervensi dari presiden terjadi, dan sidang diulang dengan hakim yang baru dantanpa juri.

Sebuah adegan dengan jelas menggambarkan keabsurdan pengadilan ini. Sementara sidang sibuk memperdebatkan tentang tindak kriminal yang terjadi dalam kapal, Cinque berdiri dan berseru “Give Us, Us Free!!” sehingga menghebohkan pengadilan. Seruan itu seakan berkata bahwa apa yang dibahas di sana sama sekali tidak relevan karena para budak itu pada dasarnya adalah manusia merdeka yang berusaha mengambil kembali kemerdekaan yang dirampas oleh para pedagang budak.

Trivia:

  • Djimon Honsou, yang memainkan Cinque pada film ini, hanya mengatakan 6 kata dalam bahasa Inggris. Sisanya bahasa mende.
  • Djimon Hansou juga main di film Blood Diamond.
  • Sebenarnya di Supreme Court, argumen dari Robert Baldwin, bahwa mereka diambil secara legal, lebih meyakinkan para Hakim Agung dari argumen John Quincy Adams yang berbunga-bunga.

-= END OF SPOILER WARNING =-

Film ini adalah kisah yang sangat menarik dan inspiring. Kisah tentang manusia yang berusaha untuk merebut kemerdekaan mereka kembali. Seruan moral dari Morgan Freeman sebagai John Toadstone, mantan budak bergaung di seluruh film ini:

Bahwa tidak ada yang membenci perbudakan melebihi para budak itu sendiri

For story is damn great movie.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 1 Februari, 2007, in movie, review. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: