Mutung-Sarkastic Explained

Aku iki sopo seh…

Ungkapan itu pertama kali kudengar dari PackDe, orang paling senior di TC saat itu (lha gimana nggak wong Kajurku aja manggil dia PackDe), Sang Mutunger generasi pertama.
Trus kata-kata yang khas dari aku apa? (yang mendapat tahta Mutunger Generasi kedua , yang bahkan lebih kondang dari generasi pertama, walaupun aku nggak semutung generasi ketiga).

Wes Mutung ae…
Wes nang lantai papat ae…
Tinggal milih alat, mau tali? jurang? baygon? lantai 4? ditabrak mobil?

Sebenarnya ada alasan dibalik saraktisme dalam ucapanku yang sering dianggap ngajak orang mutung (kalo pakai bahasanya ninja “underneath the underneath“). Sebenarnya bukan…
Kalau pernah dengar reverse psychology pasti paham kalau kadang2 sesorang harus dimotivasi dengan ditantang.
Sebenarnya tujuannya untuk mencerahkan.

“Wes lantai papat ae..”,
atau “Tinggal milih alat, mau tali? jurang? baygon? lantai 4? ditabrak mobil?”
Tujuannya adalah untuk menunjukkan pada seseorang bahwa masalah yang dihadapi itu cuman masalah biasa, bukan masalah yang bisa bikin dia bunuh diri.

“Wes mutung ae!”,
Tujuannya adalah untuk membuat sesorang melakukan kontemplasi (halah!) apakah selama ini motivasinya kurang, ataukah pekerjaannya terlalu berat, ataukah mungkin memang tidak bisa diselesaikan. Setelah selesai kontemplasi maka dia akan jauh lebih fokus, entah fokus ngerjain atau fokus mutung.

“Mutung itu pilihan”
Tujuannya jelas kan? Untuk menyadarkan seseorang bahwa dari sekian opsi yang dia miliki dia masih satu punya opsi lagi “do nothing”, atau “live to fight another day”.

Biasanya aku ngomong gitu untuk motong orang yang lagi curhat dan down emosinya.

But why the hell I’m explaining myself?
Gara-gara postingan ini yang “menuduh” aku bener2 mutungan. Sebenarnya iya aku kadang mutung, tapi hal itu sering kulakukan gara-gara aku ngerasa apa yang lagi aku lakuin nggak worthed, atau terlalu njelimet dan membuang terlalu banyak energi.

Banyak orang terlalu fokus sama apa yang mereka kerjain dan lupa menghitung apakah yang mereka kerjakan itu worthed apa nggak. Sehingga mereka mengejar mati2an sesuatu hanya gara-gara kata Tak Kenal Menyerah! padahal mereka hanya mengejar sesuatu yang nggak bakal mereka dapat

Intine sih “pick your fight wisely“, meski kadang aku gegabah milih pertempuran atas nama “kebenaran dan keadilan”, soalnya idealisme kan bukan soal menang-kalah.
Jadi karakterku mirip2 Nara Shikamaru lah…

Masih punya keberatan dengan sarkatisme mutung-ku?
Postingan ini nggak antie-banget kan?

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 1 Februari, 2007, in experience, idealist, life, small talk. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: