Penegakan Peraturan

Inget cuplikan iklan ini:

“Nggak lihat tandanya, mbak?”
“Lihat”
“Kenapa masih dilanggar?”
“Kan nggak ada yang njaga”

Dialog di iklan itu mencerminkan sesuatu hal yang umum dalam penegakan peraturan. Suatu peraturan harus didukung sebuah keseriusan untuk menjalankannya. Suatu peraturan harus tersosialisasi dan tertancap dalam benak para subjeknya, jika tidak maka peraturan itu hanya dianggap sebagai aturan yang semena-mena dan kecil kemungkinan untuk dituruti.

Sifat hukum adalah memaksa, artinya tidak ada pilihan selain dipatuhi atau diberi sanksi. Seringkali pendekatan yang dipakai adalah pendekatan sanksi. Tidak memakai helm denda sekian, tidak pakai sabuk pengaman denda sekian. Dengan pemikiran bahwa semakin besar sanksi maka pelanggaran akan semakin sedikit. Tapi kenyataan yang terjadi tidak bagitu.

Pendekatan yang lain adalah pendekatan reward. Dengan pendekatan ini, setiap yang mematuhi aturan diberi reward khusus. Hal ini sempat dijalankan oleh Kepolisian dengan Jawa Pos dalam sosialisasi kanalisasi beberapa waktu yang lalu. Kelemahannya adalah begitu reward dicabut maka pelanggaran kembali meningkat.

Pendekatan yang lain adalah pendekatan edukatif. Hal ini bisa dilihat dari kampanye lalu lintas di Surabaya. Poster bertuliskan “Keluarga menanti di rumah” adalah salah satu wujudnya. Walaupun tidak jelas yang mbaca siapa, dan susah mendapat feedback langsung dari metode ini.

Pendekatan lain adalah pendekatan empati. Dalam pendekatan ini, diberikan suatu pemahaman terhadap subjek peraturan tentang manfaat peraturan itu bagi dirinya.
Kenapa harus memakai jalur kiri? Untuk mengurangi kecelakaan dari mixed traffic.
Kenapa harus memakai helm? Mengurangi resiko saat kecelakaan.
Hal-hal ini harus ditanamkan ke subjek, bahwa peraturan dibuat untuk keuntungan sendiri, dan melanggar peraturan juga menyusahkan diri sendiri. Kelemahannya jelas butuh waktu lama dan kampanye personal untuk melakukannya. Kelemahan lain, untuk peraturan yang memang semena-mena dan asal bikin tidak bisa menggunakan pendekatan ini.

Pendekatan lain adalah pendekatan contoh, Subjek peraturan diberi contoh perilaku petinggi atau pejabat yang mematuhi peraturan itu.

Contoh kalau dilarang memakai sandal di dalam kampus, ya tolong dosen dan karyawan juga tidak memakai sandal di kampus. Jangan bersembunyi di balik alasan,”Itu peraturan kan untuk mahasiswa” hal itu hanya menegaskan bahwa peraturan ini dibuat dengan semena-mena dan untuk menyusahkan subjek peraturan(mahasiswa) saja. Dan dengan adanya pikiran negatif seperti itu tingkat pelanggaran juga akan meningkat.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 13 Maret, 2007, in idealist, small talk, writting. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. mahasiswa juga, jangan bersembunyi di balik pelanggaran yang dilakukan oleh dosen donk…
    peraturan ya peraturan, kalo g puas protes donk…
    kalo belom dikabulkan, ya sabar aja…jangan ikut2an ngelanggar.
    itulah bedanya kita ma dosen😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: