Antara CV dan Pengabdian

“Sekarang yang bener mana? Keluar bagus tapi dalam jeblok atau di dalam kuat tapi nggak kedengaran di luar?”
“Mestinya dua-duanya imbang dong, kan resourcenya bisa dibagi”
“Nah kan itu kalo resourcenya bisa banyak”
“Kalo ngurusin masalah di dalem nggak ada CV-nya”
“Lha kan pengabdian?”

Itu adalah sepenggal dialog nggak penting yang terjadi antara aku dan beberapa temanku di Sekretariat Hima, di suatu minggu yang cerah sambil menunggu pertandingan volly lawan TI.

Dari percakapan nggak penting itu terbesit sekelebatan pertanyaan di otakku yang terbatas ini, apa sih yang dicari seorang mahasiswa di dalam suatu organisasi mahasiswa (Ormawa) dan apa yang diinginkan sebuah Ormawa dari mahasiswa.

Seorang mahasiswa saat memasuki ormawa biasanya didasari oleh pertimbangan egois berikut:

  1. Mengisi waktu luang
  2. Ikut2an teman
  3. Dipaksa sama senior
  4. Takut nggak gaul
  5. Merasa bodoh secara akademik
  6. Mencari pelarian dari kuliah
  7. Memperbanyak CV.

Sangat jarang seorang mahasiswa memasuki Ormawa dengan semangat pengabdian, seperti:

  1. Membesarkan ormawa yang dimasukinya
  2. Memberi yang terbaik untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.
  3. Merasa Ormawa yang dimasukinya dapat mempersiapkan dirinya untuk berjuang di masa depan

Tenang saja kawan, alasan saya masuk ormawa lebih mirip 7 alasan pertama daripada 3 alasan terakhir. Tapi sangatlah aneh jika setelah sekian lama berkecimpung dalam ormawa, motivasi mahasiswa tidak berubah. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh 2 hal, entah ormawanya tidak memiliki pengembangan SDM yang benar atau mahasiswanya benar-benar egois. Mari ditelaah satu per satu.

Sebuah ormawa, apalagi yang berbentuk Himpunan Mahasiswa Jurusan, sudah selayaknya dikenal baik oleh anggotanya (mahasiswa jurusan). Adalah sangat aneh jika seorang mahasiswa tidak mengenal Kahima(ketua HMJ)-nya, atau mengira Wakahima-nya adalah kahima karena wakahimanya terlalu sering tebar pesona tampil di depan umum. Juga cukup aneh jikaHima mempersiapkan acara yang besar, mengundang masyarakat IT, menungundang banyak alumni, sementara banyak anggotanya tidak tahu menahu tentang acara ini. Jika hal itu terjadi, selamat anda sedang memandang sebuah Hima yang apatis terjebak dalam stigma menara gading.

Alasan kenapa membuat acara yang besar lebih menarik adalah CV. “Pernah menjadi panitia Seminar Nasional” tampaknya dapat membuat HRD perusahaan berdecak kagum. Sedangkan, menyelesaikan masalah antar angkatan tidak bisa dimasukkan dalam CV. Tapi apakah seorang anggota ormawa hanya tertarik melakukan sesuatu yang layak ditulis di CV? Bisa kacau ormawanya. Padahal masalah-masalah internal jauh lebih pelik dan susah dipecahkan, dan lebih banyak memberi pelajaran.

Dengan menyelesaikan masalah antar angkatan misalnya, kita bisa mempelajari dinamika kelompok dalam sebuah angkatan. Dan bahkan kita bisa mempelajari bagaimana mengatur friksi antar kelompok dan membuat konflik. Aku malah belajar teknik membangkitkan isu di situ, yaitu bagaimana membuat sebuah kelompok seakan-akan mendukung isu tertentu dan membelokan isu sesuai tujuan kita. Tapi kayaknya hal itu bukan hal yang menarik untuk para pengisi CV.

Padahal sebenarnya ukuran kesuksesan sebuah Hima bukanlah seberapa besar acara yang bisa dibuat, atau seberapa besar keuntungan yang bisa didapat, tapi seperti namanya Himpunan Mahasiswa, kesuksesan sebuah Hima adalah seberapa banyak Hima bisa menghimpun mahasiswa untuk bareng-bareng membagun Hima. Akhirnya, kata kuncinya adalah pengabdian.

Betapa sebuah pengabdian untuk sesuatu yang kecil seperti Hima itu susah. “Pengabdian itu untuk negara bung!” Tapi coba pikirkan, jika kita gagal menunjukkan pengabdian kita semasa muda, pada sebuah entitas yang kecil seperti Hima, atau Kampus kita, bagaimana kita menunjukkan pengabdian untuk sesuatu yang besar seperti negara?

Apakah aku nggak cuman ngisi CV juga? Jangan salah, kalau aku menuliskan apa yang aku kerjakan dari Hima maka CV-ku bisa panjang, padahal aku cuman aktif di satu ormawa aja. Tapi apa yang aku dapat dari sebuah pengabdian jauh lebih berarti dari deretan kepanitiaanku. Dan aku yakin aku nggak perlu deretan kepanitaan CV itu untuk nunjukin apa yang sudah aku pelajari di Hima. Pengabdian, kesetiaan, solidaritas, adalah kata-kata asing yang aku pelajari di Hima. Kemunafikan, backstabber, politik kotor, fitnah, kebohongan, adalah hal yang juga aku dapet. Hal-hal yang nggak tertulis di CV, malahan itulah yang lebih berkesan. Pengalaman positif atau negatif, yang jelas hal itu membuat aku seperti sekarang ini, dan yang membuat aku masih bertahan hanyalah pengabdian itu saja.

Semoga aku bisa berpikir apa yang bisa aku buat untuk negaraku? Dan mengabdi tanpa lelah pada Republik Indonesia tercinta.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 14 Maret, 2007, in idealist, life, small talk, writting. Bookmark the permalink. 18 Komentar.

  1. Nggak juga. Ada item itu di CV juga tak menarik jika CV itu tidak memiliki kemampuan teknis yang dibutuhkan perusahaan. CV itu akan menjadi pertimbangan saja ketika banyak pilihan yang nyaris sama. nyaris. Menurutku sih itu secondary, bukan primary.

  2. hasil ikut training komunikasi😛 isi cv klo g’sesuai ma pekerjaan yang kita mau g’bakal ngaruh. misal jadi panitia ini-itu, misal mau ngelamar jadi web developer. itu mah g’ngaruh… jadi tergantung juga. klo mau ngelamar jadi pembantu d eo, baru bisa dipertimbangkan…😀

  3. Let see underneath the underneath.
    Ada juga perusahaan yang untuk rekruitmen MT (Manajemen Trainee)-nya mensyaratkan “aktif dalam kegiatan kemahasiswaan”. Tapi inti posting ini sebenarnya bukan itu.

    Intinya adalah, CV hanya mewakili gengsi, ego, kredit atau sebut apalah namanya itu yang tercermin dengan menterengnya “pernah menjadi panitia Lomba Bakiak se-Indonesia piala Presiden” atau “Ormawa X mengadakan tumpengan mengundang kepala pemerintahan se-Jawa Timur”

    Betapa sebuah Hima, karena mentalitas kader di dalamnya, berlomba-lomba melakukan sesuatu yang besar tanpa sadar bahwa anggotanya nggak ngurus. Apakah Hima cuman milik pengurus? Kayaknya gitu deh…

    But then again, siapa sih aku? Cuman anggota biasa yang nggak bisa mencerna apa yang dilakukan anak muda jaman sekarang.

  4. #d-nial:
    jadi siapa kamu itu? cuma anggota biasa saja kok repot-repot ngurus? apa yang menjadi kebijakan pengurus ya sebagai anggota ikuti dong. kalau nggak puas sama pengurus, ya jadilah penguasa dan kamu harus bisa membuktikan bahwa yang kamu kritik itu bisa kamu perbaiki. kebanyakan orang cuma omdo dan krido.

  5. hm… 4 komen diatas (apalagi 2 terakhir) males aku komentari, biar yang lebih jago nulis “panas-panas” aja yang ngomentar. hihihihihihi….

    eee….

    Memberi yang terbaik untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.

    kalo aku, bangsa dan negara coret. aku emang udah nggak nasionalis. pudar…

  6. sembarang loe kep. Yang pasti loe gak bisa mungkir kalo loe lahir di indonesia. Apa lagi protes ke Tuhan biar bisa dimasukin lagi ke rahim dan minta dilahirin lagi di negara lain….

    Indonesia tu emang gini. Karena gini itu jadi indonesia.

    Yang ada tinggal gimana caranya majuin bangsa. ketimbang setengah mati mengutuk diri gara2 jadi orang indonesia

  7. awas, danielisme mulai menyebar😛

  8. yah… mau gimana lagi ya? aku pengen banget memajukan harkat dan martabat rakyat, tanpa melibatkan negara, jadi itu (menurutku) nggak nasionalis kan? atau ada istilah yang lebih pantas ya? aku ngga tau nih.

    nb: dun, bukan berarti aku mutungialisme lho… :p

  9. intinya adalah konsistensi dari sebuah perjuangan yang telah sepakat kita sebut “Pengabdian” karena kita berada di Indonesia, dan karena Indonesialah kita tidak pernah konsisten terhadap pengabdian kita. Habis muntab-muntab dengan segudang ego dan ideliasme mari ngono loyo.

  10. mmm, apa ya, pengabdian, yang diiringi dengan penghargaan yang sepadan akan sangat lebih berdampak positif buat para subyek penderita (whoops). jangan salah, pengalaman juga bisa dibilang penghargaan lo, buat orang2 yang melihatnya sebagai suatu penghargaan. cuma biasanya, CV dinilai lebih konkret.
    pengabdian ke permasalahan yang tidak (bisa) ter-CV-kan justru lebih berharga, soalnya dampaknya lebih luas, meskipun nggak sekonkret CV😛
    Dan masalah pilih-memilih, tergantung masing2 individu, kan udah pada gede2, bisa nentuin baik-buruk (resiko) ngambil suatu pilihan😉
    yang jelas, let’s do what (the best) we can do🙂

  11. @galih
    Sudah… sudah dicoba… dan aku GAGAL menyadarkan mereka.

    @dr
    Mungkin aja memajukan harkat dan martabat rakyat tanpa bantuan negara. Hare gene nunggu pemerintah, TAS keburu kelelep lumpur.
    Malah inisiatif individu yang pedulilah yang diperlukan rakyat, bukan negara.

    @mardun
    No comment (lha lapo ditulis?)

    @peyek and vendy
    Pengabdian itu nggak butuh penghargaan. Kalau kita tulus, apapun reaksi orang lain, kita tetep jalan terus. Yang penting kan kita memberi yang terbaik.

  12. semakin banyak semain baik.. heuheuhue

  13. orang yang mengabdi, memang gak seharusnya minta penghargaan. tapi sebaiknya (seharusnya) dia dapet penghargaan. entah tuh bentuknya apa.

    vnddd:
    penghargaan yang bisa “dijual” kan cuman CV😀

  14. tulisan yang bagus…. trus kalo anda sendiri untuk mengubah pemikiran teman2 untuk masuk organisasi tidak sekedar yang and omongin seperti apa?
    🙂

  15. @arul
    Metode pencucian otak yang dipakai:
    1. Penginjeksian ide lewat cara resmi (LKMM TD, maupun PPTD) atau tak resmi (cangkrukan, n ngobrol ringan)
    2. Mengingatkan lewat forum elektronik di kampus
    3. dll

  16. hueheheheh … ah mbuh lah ..
    aku memang tidak secerdas rekan2 ..
    biyen melu hima yo anut grubyuk ..
    melu pengkaderan gara 2 wedi ambek senior ..
    melu kps (kegiatan pasca sys) yo gara2 kepekso …setelah hampir sak angkatan mutung kabeh …
    sing penting lek konco2 ku ..yang kebetulan duduk di HIMA … butuh .. yo tak rewangi ….
    pancen sih .. HIMA iku bukan tempat cari untung ..kalo kita gak pengen mbuntung ..
    sama seperti perapian .. yang tidak akan memberi kehangatan .. jika tidak ada kayu bakar …
    lha lek mbuntung terus .. yo wajar …gak bakal ono sing gelem ..(kecuali mungkin orang2 luar biasa seperti daniel ini)…
    jangan bicara tidak ingin menangguk untung ..
    jika setelah lulus wawasan keilmuan kurang akhirnya mutung ..
    salah2 5 tahun kerja di himpunan dipersalahkan ..
    sebagai penyebab kegagalan sepanjang jaman ..

    kawan -kawan mau berpolitik .. yo jarno wae..
    mau berdebat sampe berbusa2 .. no comment from me ..
    mau tukaran .. mbak nytaberi ..berkhianat … menebar fitnah .. … dlsb .. persetan lah ..
    dosa ditanggung dewe2 …
    sing penting ..
    lek koncoku butuh .. yo tak ewangi …
    masalah CV.. hehehe .. apa sih yang bisa dijual dari CV mantan Kahima ..
    apalagi cuma krucukhima seperti saya ..
    kalo toh dalam wawancara kerja/psikotes tidak menunjukan existensi sebagai kahima ..

    lek himpunan sing saiki .. dengan sejujurnya aku (yang melihat dari balik awan) berani mengatakan JAUH LEBIH BAIK …
    gak koyo himpunan sakdurunge (including me).. ngadakno temu alumni yang diplan mulai taun 2001 wae gak ono sing iso ..
    mau dibilang warga gak peduli …
    buktinya kegiatan terrealisasi ..
    walaupun perlu pembenahan sana sini …
    wajar karena kegiatan yang pertama kali …
    menjadi amanat generasi berikutnya untuk mengevaluasi ..
    3 orang yang benar peduli , jauh lebih berharga dari 100 orang yang sok gak peduli

  1. Ping-balik: Egois dan Terhormat, Munafik dan Nista « Altearis

  2. Ping-balik: Vacuum of Power « Zero Reality

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: