Pajak (liar) Transportasi Umum

Di suatu Minggu siang yang cerah, setelah aku sama adikku jalan-jalan di DTC. Kami memutuskan untuk pulang, dan nyegat bemo kuning JSP(JSP = Joyoboyo-Sidoarjo-Porong). Sang sopir pun mulai mengajak bercakap-cakap (disulihbahasakan menjadi bahasa Indonesia)

Sopir : (Setelah memberi uang Rp. 1000 ke seseorang) Aku aja belum dapet,dia kok dapet duluan.
Aku : Siapa itu tadi pak?
Sopir : Premannya sini, ya daripada kaca mobil saya dipecah. Kita kan harus baik-baik sama jalanan wong kita nyari makan di jalan.
Aku : kalo satu bemo seribu, kalo seratus berapa itu?
Sopir : Ya nggak gitu mas. Kalo penumpangnya cuman satu ya nggak bayar. Kemarin pernah saya kasih 500 dia malah marah-marah.
Aku : Lha polisinya kok nggak ngobraki?
Sopir : Mereka juga setor uang ke polisi sini. kalo nggak gitu mereka kan diusir dari sini. Trus polisinya juga ikutan. Kadang malah minta uang rokok ke saya.

Fenomena ini bukanlah hal yang aneh jika sering berpergian Surabaya-Sidoarjo. Di sepanjang jalan angkutan umum harus memberi “pajak penumpang” pada Preman Jalanan sepanjang jalan Sidoarjo-Surabaya. Pos-pos pemungutan pajak penumpang ini antara lain ada di: Wonokromo, RSAL, Siwalankerto, Menanggal, Aloha, dan Perempatan Gedangan. Di arah sebaliknya ada di depan Masjid Gedangan, sekitar Pondok Wage, seberang SMU Hang Tuah 2 (depan showroom mobil) dan Bungurasih.

Fenomena di Bungurasih malah lebih parah lagi, para pemungut pajak ini berebutan mencari penumpang dengan para kernet MPU, dan sialnya merekalah yang mengklaim penumpang itu (artinya untuk tiap penumpang kernet harus mbayar) dan penumpang itu masih menerima perlakuan nggak sopan dari para preman, diseret-seret ke MPU “pembelinya”, barang bawaannya dijadikan sita jaminan agar mereka ikut MPU pembeli, dll.

Fenomena ini kelihatannya sudah wajar, sampai polisi pun ikut-ikutan melakukannya(fenomena di Wonokromo). Menurut narasumber yang bisa dipercaya(sopir bemo yang aku ajak ngomong tadi), sang Polisi pun tutup mata terhadap fenomena ini. Kalo di pos lain sih nggak masalah, tapi yang di depan mata sendiri aja dibiarin, malah premannya juga ditarik pajak pendapatan oleh Polisi, wes aku Spijles.

Yang jadi masalah adalah budaya kriminal seperti ini mulai mewabah. Mulai muncul pos-pos pemajakan di seperti daerah depan IKIP PGRI Ngagel, daerah Pasar (atau kerumunan pedagang) di bawah Jembatan Layang Waru. Jika dibiarkan maka pendapatan sopir angkutan umum akan berkurang secara signifikan karena dipajakin preman. Apa preman itu nggak punya hati sama para sopir? udah harus mbayar setoran ke majikan, mbayar bensin,uang sisanya itu cuman cukup untuk hidup sehari-hari, kadang kurang malah, gitu juga ditarik pajak.

Premanisme adalah masalah kriminal dan meresahkan. Sikap polisi yang tutup mata terhadap masalah ini, malah kadang ikut terlibat di dalamnya, membuatnya semakin menjadi-jadi. Trus gimana?

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 21 Maret, 2007, in idealist, life, small talk, writting. Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. Trus gimana?

    ya kontrol dari masyarakat umum dong. sayangnya, mereka ya cuek bebek aja tuh… cari selamat sendiri kaleee

  2. Ah, baru tahu ya kalau polisi adalah “bos”nya para preman? Masalah seperti ini sangat sulit diselesaikan, tak semudah apa yang dikatakan si dr karena sudah sistemik dan berantai (baca buku the Godfather, atau Omerta Mafia). Di sini juga sama saja, di sepanjang gatsu, sudirman, thamrin, rasuna said, musti ati-ati bener kalo nggak mau dipalak ama “preman”

  3. Wah jan tambah ancur saja prilaku masyrakat kota kita. Sapa yang ngajari yak?

  4. “untuk menyembuhkan masyarakat yang terguncang, dibutuhkan guncangan yang lebih dahsyat !”

  5. @dr:
    Satu orang vs preman ya mana kuat…

    @galih
    Ya, sebenarnya kecurigaanku sudah dari dulu, wong sejak dulu nggak diobrak. Tapi baru dikonfirmasi kemarin itu.

    @helgeduelbek
    Bukan saya guru, ampuuunnn… sumpah bukan saya yang ngajarin..
    hehehe…

    @Anak sultan
    Maksute?
    Jadi kayak vigilante gitu… asyik la’an kayak di film-film action…
    Atau kayak yang aku lihat di filmnya Veronica Guerin atau kasus di Nepal barusan, seluruh masyarakat turun ke jalan untuk demo menolak premanisme?

  6. preman itu anak buah polisi ya mas, jadi kesimpulannya pangkat sebelum jadi polisi itu, preman dulu, baru polisi.😆

  7. did i say “masyarakat”? bukan seorang kan?

  8. agak OOT dikit, cuma kayanya agak nyangkut gtu deh.
    klo di semarang tu ya, kan (dulu, pas aku masih tinggal di sana) ada trek2an (baca : balap liar) di jalan raya di pusat kota tu, na itu, biasanya ada grebekan polisi juga, ngusirin mereka2 yg bikin resah masyarakat. tau nggak kelanjutannya apaan?
    habis jalan itu bersih dari orang2 selain polisi, jadilah jalan itu sebagai tempat trek2annya polisi.. *ouch* haduh..
    (sumber : pengalaman pribadi sahabat dekat)

  9. maksudnya oknum polisi itu kan baik…biar penghasilan mang preman jadi kelihatan agak halal, kan udah pake pajak😀

  10. @peyek
    makanya ada istilah polisi preman, berarti preman yang lagi magang jadi polisi ya?

    @dr
    Yo wes lah ngalah

    @vendd
    Itu bukan trek2an kali Ven, mereka latihan ngejar penjahat…😀

    @kakilangit
    Koruptor kalo ngasih pajak penghasilan kek KPK berarti halal dong, cup?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: