Solidaritas, Kekerasan dan Musuh Bersama

Setelah membaca blog ini dan testimonial di account friendster ini dan berita di Jawa Pos yang benar-benar membuat saya terkesan. Pendidikan yang penuh kekerasan itu ternyata mampu membangun solidaritas praja, purna praja, dan dosen yang sangat tinggi.

4000 manusia bungkam seribu bahasa, bahkan di dalam pertemuan resmi, sampai Ryas Rasyid sampai benar2 kesal. Kenapa bisa terjadi? Betapa solidaritas, dan loyalitas mereka terhadap almamater patut dihargai.

Sayang, ternyata solidaritas itu dibangun dari kekerasan berlebihan dalam sebuah pembinaan.
Sayang, ternyata solidaritas itu dibangun dari saling mengetahui aib masing-masing.

Dosen-dosen itu takut karena terbongkarnya kasus ini berarti terbongkar pula kekerasan mereka dalam kelas. Para purna praja itu merasa bahwa mereka bisa jadi terseret, sekalipun mereka merasa pembinaan itulah yang membantu mereka seperti ini.

Sayang solidaritas itu terbangun tanpa ada budaya kritis.
Sayang solidaritas itu berprinsip aku paling benar, yang lain tai kucing.
Sayang solidaritas itu berprinsip hukum rimba.
Sayang solidaritas itu dibangun tanpa welas asih…

Aku paham dengan cara berpikir mereka. Karena saat aku masih maba, cara berpikirku juga sama. Saat aku masih maba aku terkesan dengan solidaritas anak DEMITS yang dikader dengan cara semi militer. Dibandingkan dengan anak TC, mereka lebih solid. Tapi yang aku pahami sekarang berbeda, solidaritas itu bukan tujuan akhir. Solidaritas seperti itu seharusnya dipoles lagi dengan sikap kritis, sesuatu yang tidak mereka miliki (meskipun tidak semua), sehingga terbentuklah insan yang solid, loyal, kritis dan siap membangun bangsa.

Menurutku pendidikan IPDN harus direformasi bukan dibubarkan. Kekerasan dalam tataran tertentu memang memicu solidaritas tapi jika berlebihan akan membungkam kekritisan. Dan setelah itu beri mereka sikap kritis dan welas asih. Wes Mantabz!!! Alumni ideal!!!

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 17 April, 2007, in life. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. @galih
    Kok cepet? padahal baru bikin lho…

  2. Kali aja yang ngomong praja senior smua, yang sudah lolos tahap ‘dipukuli’. Kalo yang ngomong praja-praja yang masih dalam tahap dipukuli mungkin suaranya bakal lain.

  3. Itu berarti hasilnya bagus, moth.
    Yang dalam tahap dipukuli kan masih proses, jadi belum menyelesaikan prosesnya.
    Yang kita lihat outputnya.

    Coba kalo mereka kritis, berani dan solider, bisa ketar-ketir koruptor di daerah2.
    Mau korupsi bisa diprotes sama alumni, Mau dipecat kok temennya banyak, Mantab itu.

  4. Tahun 2003 ketika kasus Wahyu Hidayat, katanya IPDN sudah direformasi. tapi ternyata tetap terjadi dan terjadi lagi. karena itu bagiku kita gak perlu berjudi lagi dengan nyawa manusia. IPDN dibubarkan saja. Toh tidak ada prestasi IPDN yang patut dibanggakan selain hanya catatan kekerasan, pembunuhan, arogansi dan kedunguan.

    Model pendidikan pamong2an dan praja2an produk orde baru itu juga cermin dari pola pikir yg masih feodal, sudah tidak cocok dengan masyarakat yang modern, demokratis dan egaliter.

  5. Kalau emang nggak mampu mewujudkan pamong parja yang baik ya bubarkan. Tapi kayaknya mereka berhasil mewujudkan solidaritas yang kuat antar alumni kok mas.
    Sayang ya itu tadi, solidaritasnya buta.

    Nunggu hasil investigasinya Ryas Rasyid aja.
    Mereka (seharusnya) mampu memberikan opsi yang cerdas.

    Salah satu pilihannya adalah mbalik lagi ke sistem APDN yang terpisah di setiap daerah, kayak yg mulai dirintis Kaltim dengan kerjasama dengan universitas negeri. Tapi jangan-jangan malah kekerasannya terdistribusi dengan merata.

    *Sigh*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: