Generasi yang kehilangan Orangtua – Sebuah keprihatinan

Sebenarnya ini harusnya bakalan jadi posting yang panjang dan acak-acakan. Jadi bertahanlah.

Sebuah generasi telah lahir beberapa tahun ini, sebuah generasi yang mulai kehilangan ibunya. Generasi ini menyusul generasi yang telah ada, generasi yang kehilangan ayah. Kemana ayah mereka? Sebuah pertanyaan yang layak kita tanyakan pada bos-bos perusahaan yang menyita begitu banyak waktu sang ayah.

Jika kita lihat kota-kota besar di Indonesia, rutinitas bagai robot yang terjadi. Berangkat jam sekian, pulang jam sekian. Kadang-kadang lembur sampai malam, belum lagi kemacetan di jalan. Jika deket-deket deadline Sabtu-Minggu pun masih bekerja. Waktu untuk keluarga pun tersita. Tidak banyak waktu yang tersisa di rumah. Dan sampai di rumah pun tinggal sisa-sisa tenaga.

Hal ini tersirat dari sebuah cerita singkat ini:

Di suatu hari, ada seorang pengacara yang pulang ke rumah. Di rumah dia sudah capek banget, dan anaknya datang ke dia ngajak main. “Sudah ah dik, Papa capek” “Ayo pa maen sama adik” “Sudah sana jangan ganggu Papa, Papa capek habis kerja seharian”. Mulai putus asa sang anak mengalihkan pembicaraan.
“Pa, papa kan pengacara”
“Iya”
“Gaji papa berapa?”
Sang Ayah mulai frustasi karena sang anak mulai nanya nggak penting.
“Papa dibayar perjam nak, per jam 100ribu rupiah”
“Mmmm… Papa punya duit 90rb nggak?”
“Dasar anak nggak tahu diuntung!”
Sang papa mulai marah dan sang anakpun ketakutan.
“Jadi kamu nanya gaji papa supaya kamu bisa minta uang? Gitu?”
Nyali sang anak menciut, air matanya mulai menetes dan dia berkata.
“Sebenernya uang adik kurang 90rb, adik pengen membayar Papa untuk satu jam aja maen sama adik”

Sebuah cerita yang dilandasi kealpaan sang Papa dalam keluarga. Kadang2 seorang pria kehilangan orientasi dalam hidup. Sebuah misi utama untuk membangun keluarga terlupakan karena rutinitas kerja. Pekerjaan memang menyita waktu dan energi. Tapi keluarga juga terlalu berharga untuk diberi sisa-sisa, dan mereka melupakannya.

Hal ini membuat sebuah generasi yang kehilangan ayah.

Generasi itu adalah generasi yang kehilangan sang Ayah pada saat sang anak mulai menjejakkan langkah pertama, kehilangan kata2 pertamanya. Kehilangan hari pertamanya di sekolah. Semuanya itu hanya disaksikan sang ibu.

Tapi sang Ibu pun sekarang mulai menghilang. Kemajuan jaman memang harus dibayar mahal. Sang ibu pun bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sang ibu pun harus melewati hari2 yang sama dengan sang ayah. Dan sisa2 tenaga sang ibu pun tidak dihabiskan untuk mengasuh anak, tapi untuk bertengkar dengan suami. Soal gaji, soal anak, soal mertua, soal kerjaan. Semua unek2 itu ditumpahkan dengan cara yang salah, dan meledaklah keluarga.

Sang anak pun kini diasuh oleh babysitter dan TV. Kata-kata pertamanya pun bukan “papa” atau “mama”, tapi “remot” dan “kartun”. Sebuah generasi yang kehilangan orangtua telah lahir.

Semoga keluarga anda bukan termasuk bagian dari generasi ini.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 14 Juni, 2007, in idealist, life, writting. Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. calonorangtenarsedunia

    Pertamax!!!
    *mengamankan posisi dulu*

  2. calonorangtenarsedunia

    memang begitu keadaannya sekarang..
    soal yang ibu itu udah pernah aku bahas jg pas hari kartini..
    *berlalu dengan prihatin*

  3. Jadi intinya? Mencari kerja yang gaji nggak seberapa, hidup pas-pasan, tapi waktu untuk membahagiakan keluarga setiap hari selalu ada,

    Atau,

    Kerja dengan gaji yang besar, waktu kerja yang besar pula, untuk sebuah alasan investasi anak cucu dikemudian hari?

    kalo aku pilih nomer 1 sih, ndak tau kalo yang laen milih yang mana (pura-pura ndak tau):mrgreen:

  4. @dr
    Jangan terlalu mengkotak-kotakan, kep.
    Bukan itu intinya. Intinya adalah pengendalian diri *Serius ini*
    Maksutnya gimana para ortu itu bisa mengendalikan waktu kerjanya supaya saat di rumah masih tersisa tenaga untuk ngurusin anak.

    Banyak org yang menjadikan pekerjaan sebagai obsesi, harga diri dan lupa harta yang paling indah adalah keluarga (kayak lagunya keluarga Cemara)

    Beberapa org sibuk yang aku tahu menolak untuk janjian hari sabtu-minggu karena 2 hari itu khusus buat keluarga. Mungkin ide itu bisa diterapkan.

  5. @dr : iya ta kep? gaji nggak seberapa? ukuranmu la’an😛

    jadi inget tulisanmu dulu nil, yang tentang ilangnya lagu2 anak2 (punyamu bukan si). ntar jadinya malah tambah parah, generasi yang kehilangan masa2 kecilnya..

  6. @vendy: serba cukup kan?😛

  7. @dnial: kalo yang dijadikan obsesi mah, no komen. tapi kalo yang memang mencari uang demi kesejahteraan keluarga sampai mengorbankan waktu untuk keluarganya itu sendiri sih, ya itu komenku diatas sebelumnya. tragis sebenarnya, ingin membahagiakan anak kelak, tapi mengorbankan kebahagiaan di masa sekarang.

  8. calonorangtenarsedunia

    *serius mode:on*
    Telah saya perhatikan bahwa saudara ternyata hampir selalu tidak menanggapi komentar saya di postingan saudara. Bila saudara memberikan alasan bahwa komentar saya tidak penting atau OOT, nyata banyak komentar yang sangat OOT tapi saudara tanggapi. Ada masalah pribadi kah dengan saya?
    *serius mode:off*

  9. nil, ada yang lagi sensi tu..😆
    atau, mungkin, memang bener lagi ada sesuatu?🙄

  10. Keluargaku, syukurlah, bukan keluarga model begini. Karena keluarga guru, aku beruntung mendapatkan kasih sayang setiap waktu. Waktu keluarga dimulai dari jam 12 siang hingga malam selama bertahun-tahun.

    tapi entahlah untuk keluarga yang akan aku bangun kelak. aku belum tahu….

  11. @calonorangtenarsedunia
    Repot juga ya… Padahal sudah ditanggapi di jalur pribadi.

    @galih
    Jakarta itu kota yang kejam buat keluarga lho, lih…
    Harus pintar2 membagi waktu dan tenaga.

  12. yah, mau bagaimanapun juga, saya tidak bisa tidak setuju sama ibu bekerja. kerja itu harus, karena perempuan juga butuh aktualisasi diri.

    satu-satunya jalan ya dengan mengatur waktu.

    ada kok keluarga sepupu yang kedua orangtuanya bekerja (malah pendapatan sang ibu yang lebih besar), tapi kedua anaknya baik2 saja. malah, mereka lebih dekat dengan ibu daripada dengan ayah. padahal waktu sang ibu lebih banyak tersita dari sang ayah…

  13. @poe
    “tidak bisa tidak setuju” perlu waktu sejenak untuk memahaminya.
    Hehehe….

    Banyak cara untuk aktualisasi diri. Salah satunya bekerja, cara yang lain menjadi pengasuh anak di rumah.
    Benarkah bekerja adalah satu-satunya wahana aktualisasi diri bagi seorang wanita (dalam artian bekerja di kantor)?

    Masih bisa terlihat (setidaknya) dari blog2 yang ada, bahwa ibu rumahtangga juga bahagia, dan bisa memanfaatkan blog sebagai sarana aktualisasi diri.
    Coba aja lihat ini http://lita.inirumahku.com/ blog ini yang punya ibu rumah tangga lho….

    Tapi tidak semua ibu rumah tangga itu ngeblog, dan tidak semua wanita karir tidak bisa mengurus rumah, bisa saja aku terjebak dalam overgeneralisasi.

    Ah… aku tersesat dalam jalan pikiranku sendiri…

  14. menurutku sih profesi sebagai ibu rumah tangga tetep lebih terhormat daripada ibu yg kerja di luar dimana sang anak ketika pulang sekolah cuma mendapati nasi yg tidak hangat (eh sekarang dah ada microwave ama magic jar ya….jadi bisa diangetin…hehehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: