Wanita dan Kepemimpinan dalam TC

 woman.jpg

Sebenernya pengen ngasih judul wanita dalam Ormawa ITS, tapi kok skope pengamatanku yang mendetail cuman TC aja. Jurusan yang lain belum tentu serupa dengan ini.  Posting ini mungkin berbias gender. Tapi maksud ku baik kok. Oke mulai!

TC ITS adalah jurusan terkutuk yang penuh dengan cowok, yang menyebabkan sebagian cowok di TC harus melakukan ekspansi pasar ke daerah lain. Jumlah cewek yang tidak sebanding dengan demand, apalagi ada cowok yang berpoligami, ataupun cewek yang kecowok2an, membuat supply bagi para cowok tidak terbatas pada cewek saja, tapi juga laki-laki tidak jelas.

Wokeh… gambaran keadaan sosial di TC sudah digambarkan lalu apa hubungannya judul di atas?

Dengan banyaknya dan dominannya jumlah cowok di TC, sepak terjang para wanita perkasa di himpunan pun tertutupi. Dalam forum terbuka (di tempat umum, dihadiri oleh banyak mahasiswa) para wanita ini walaupun memiliki ide cemerlang, tampak menahan diri untuk mengeluarkannya. Mereka lebih memilih berbisik-bisik dengan lelaki cerdas di sebelahnya dan lelaki itulah yang akan menyampaikan pendapatnya. Jarang sekali ada wanita di TC yang berbicara di depan umum.

Hal yang sama terjadi di forum elektronik kampus. Diskusi2 panas di sana biasanya didominasi oleh kaum adam. Jarang ada wanita yang buka suara untuk masalah2 yang panas.

Anehnya, wanita2 ini dalam rapat terbatas (tertutup, membahas masalah tertentu, hanya dihadiri sedikit mahasiswa) lebih aktif dalam memberi pendapat. Dalam perbincangan dengan mereka, aku lihat mereka sebenarnya punya ide2 bagus, punya pendirian, smart, dlsb, tapi kenapa diam?

Lalu…

Perlukah kita memfasilitasi potensi para wanita ini di ormawa ITS?

Setahun yang lalu, aku ingat ada capres BEM wanita (selama aku kuliah baru kali ini ada), lalu banyak jurusan yang memiliki kahima wanita(kimia, statistik, dll.) sehingga aku melihat di jurusan lain ada kesempatan bagi wanita untuk masuk ke kepemimpinan puncak. Dan dengan pendekatan wanita mungkin banyak konflik di ITS bisa diredam, karena wanita terkenal lebih sabar dalam menghadapi masalah, kecuali beberapa wanita tentunya. Jadi, ya.. Potensi para wanita perkasa ini perlu difasilitasi.

Perlukah adanya fasilitas lebih bagi kaum wanita?

Mungkin ini subyektif, tapi sepengamatanku nggak banyak wanita yang terbiasa berbicara di depan umum. Untuk itu perlu diberikan fasilitas agar wanita ini mulai menyatakan pendapatnya di muka umum. Pelatihan2 kepemimpinan di ITS, seperti TD, TM, PPTD, PPTM, perlu memberi kesempatan lebih bagi para wanita untuk mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Kemampuan berbicara? Mana ada manusia umur18 tahun lebih masih belum bisa ngomong? Mereka cuman perlu keberanian dan kesempatan.

Bukannya sekarang jamannya kebebasan? Nggak perlu ada insentif2an segala?

Demokrasi juga termasuk memberi kesempatan yang sama bagi semua pihak. Sekarang kesempatan itu didominasi oleh pria, maka mulailah menggeser sedikit kesempatan itu pada para wanita. Jika memiliki kemampuan, kenapa nggak diberi kesempatan? Bukan karena wanita lebih lemah, tapi karena memang kesempatan yang diberikan selama ini tidak seimbang.
Lalu?

Sebenernya aku mulai kehilangan arah dalam menulis. Aslinya aku cuman heran, kenapa sampai sekarang belum ada Calon Kahima berkelamin wanita dalam suksesi HMTC?

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 14 Agustus, 2007, in experience, idealist, life, writting. Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. ga jg kok. toh buktinya, 2005 yang kebanyakan aktif cewek-cewek lho!

  2. Mau jadi Kahima nggak ceweknya?
    Aku siap melayani jadi TSK

  3. keempat TAPI …
    yah keempat heheh

  4. @galih n vino
    Halah…

  5. calonorangtenarsedunia

    kesian cewek2 di ITS..apa aku perlu masuk ITS?

  6. @mas dian 😀

    @mas ndaniel
    Wew.. TSK? Mase mau jadi TSK-nya sapa toh? Wkwkwkwk😆

  7. @hana
    Boleh boleh…😉

    @sari
    Sapa aja yang mau
    *jual murah* Wekekeke………

  8. Perlukah adanya fasilitas lebih bagi kaum wanita?

    Kira-kira fasilitas seperti apa ya?
    Jika masalah kekurangmajuan tokoh wanita di TC karena pengaruh keterbatasan kuantitas maka solusinya tentu berkaitan dengan kuantitas juga dunk

    Demokrasi juga termasuk memberi kesempatan yang sama bagi semua pihak. Sekarang kesempatan itu didominasi oleh pria, maka mulailah menggeser sedikit kesempatan itu pada para wanita.

    Mmmm ini kasus di TC ya? Maksudnya apakah di TC memang ada pembatasan kesempatan? Ataukah para mahasiswi TC yang melakukan pembatasan kesempatan bagi diri mereka sendiri?

  9. @deking
    Penambahan fasilitas diharapkan membantu pertumbuhan kualitas. (ngomong opo iki?)

    Sebenernya kasusnya bisa ditarik ke kasus umum peran wanita di berbagai bidang, cuman kok ntar dianggap ngawur dan tak berdasar.

    Pembatasan kesempatan di kampus itu banyak dipengaruhi dari budaya yg terbentuk di kampus. Di kampus yang didominasi cowok (sedihnya😦 ) memang ceweknya cenderung mengalah. Nah itulah yang harus diubah.

    Caranya? Itu yang masih saya pikirkan…. Salah satu yang kepikiran ya mencari kandidat pemimpin wanita, walau belum tentu terpilih.

  10. vote sawi for kahima!
    -lho-:mrgreen:

  11. wanita dapat leluasa namun dibatasi oleh kewajaran dan naluriahnya

  12. wekz lah mau suksesi tah?

  13. @ Mas ven -> Sawi? SIapa ya?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: