Monthly Archives: Agustus 2008

Star Wars – The Clone Wars : a review

In a galaxy far far away, in long long time ago…

Pembukaan ini menjadi trademark Star Wars. Film dibuka dengan perang bintang antara Republik dan Pasukan Droid Count Dooku di pucuk galaksi. Di planet Christophsis, Obi-Wan Kenobi  dan Anakin Skywalker memimpin pasukan clone untuk membendung droid yang menekan mereka. Di tengah pertempuran, Yoda mengirimkan seorang Padwan, Ashoka, untuk berguru pada Anakin.

Di sisi lain, Count Dooku menculik anak Jabba The Hut dan memfitnah Ksatria Jedi untuk kejahatan itu. Dan Anakin, Obi-Wan, dan Ashoka diperintahkan oleh Yoda untuk mengambil anak itu, dan membawanya ke Tatooine, kampung halaman Anakin, kepada Jabba The Hut.

Sekilas premis dari film ini tidak terlalu menarik, dan kalau tidak didorong dengan rasa penasaran dan fanatisme terhadap Star Wars aku mungkin nggak akan melangkahkan kakiku ke bioskop. Dan memang benar, film ini biasa saja. Ceritanya terlalu sederhana untuk dunia sebesar Star Wars dan konflik antara Count Dooku dan Republik. Sampai akhir, aku merasa bahwa film ini hanyalah sebuah pilot yang mengarahkan kita ke serial kartun Star Wars yang akan dirilis setelah film ini

Karena hanya sebagai pilot, film ini sangat kurang dalam pengembangan karakter dan penokohan. Sampai akhir film, orang yang tidak mengikuti serial Star Wars dari awal akan kebingungan, siapa Count Dooku, siapa Jabba dan kenapa dia sangat penting, siapa Adme Pamidala dan kenapa dia nekat ketemu Hutt cuman buat mbebasin Anakin, siapa orang berkulit hitam yang bersama Yoda itu, kenapa Anakin enggan pulang ke Tatooine, they don’t bother for introduce themselves.

May the force be with you!

PS :

You know George, search for profit leads to greed, and greed leads to the dark side. Avoid it you must. Throwing half-assed movie you must not.

Iklan

Pelajaran Hari ini (4) – Nyari tiket

Sebenarnya ini bukan soal latah mudik. Tapi ada satu dan lain hal yang bikin aku pulang di liburan Lebaran ntar. Inilah alasannya :

  1. Kangen rumah.
  2. Pengen ketemu teman2 di Surabaya.
  3. Ndak ada libur panjang lagi di dekat2 ini.
  4. Bingung mau ngapain kalo di Jakarta.
  5. Mau nggak mau harus ngambil libur, coba kalau nggak harus diambil dan bisa buat lain hari, paling ya nggak diambil.

Dengan alasan di atas, kecil kemungkinan lebaran tahun depan aku bakal balik ke Surabaya lagi.

But, nonetheless aku berangkat juga ke Stasiun Jatinegara untuk ngantri tiket.

Antrian dibuka jam 7 pagi dan saat aku datang sekitar jam 06.10 antrian sudah cukup panjang. Entah mana calo entah mana penumpang biasa susah dibedakan. Jam 7.30 tiket untuk ke Surabaya tanggal 26 habis (Bima, Argobromo Anggrek, Sembrani, Gumarang). Terpaksa aku beli tiket untuk Kamis tanggal 25 (opsi lain, hari ini ngantri lagi di Jatinegara) harga tiket 390rb.

Temenku tanya, kenapa nggak pakai pesawat saja, harganya nggak beda jauh (beda 200rb-300rb). Jawaban ngasalku saat itu adalah :

Aku : Nggak enak naik pesawat. Mahal tapi nggak kerasa mahalnya, cuman srut, nyampek. Kalau kereta kan mahal dan kerasa mahalnya.

Temenku : Kalau gitu kereta ekonomi aja, murah dan kerasa murahnya.

The Alchemyst, The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel : A Review

Sangat aneh, aku pernah membahas buku dengan judul yang sama sebelumnya. Tapi, buku ini berbeda dengan yang itu. Yang satu ditulis oleh Paulo Coelho, yang ini oleh Michael Scott. Dea merekomendasikan buku fantasi ini ke aku beberapa waktu yang lalu.

Buku ini dibuka dengan sangat spektakuler, sebuah potongan diary Nicholas Flamel yang dengan jelas merangkum kemana cerita ini akan mengarah. Manusia abadi, Ras Tetua, Sihir, Perang antara Baik dan Jahat.

Di awali dengan pertarungan di toko buku kecil antara Nicholas Flamel dan muridnya John Dee. Ledakan, sihir, golem. Bergerak cepat dengan penculikan Perenelle, istri Nicholas, serangan gagak di Golden Gate, dan petualangan memasuki dunia lain, dunia Ras Tetua, Hekate.

Hei, aku berusaha untuk tidak membocorkan jalan cerita di sini!

Buku ini sangat menarik karena memanfaatkan potongan sejarah, pengetahuan arkeologi, dan cerita mitologi kuno untuk membuatnya sangat nyata. Lembar demi lembar kita disajikan dengan interpretasi sejarah dan mitologi dari sisi Para Tetua dan manusia abadi.

I love history and mythology. Mitologi Greko-Roman, Skandinavia dan Sumeria terutama. Karena itu buku ini sangat memikat. Hekate, dewi penyihir dari Yunani, Batset, dewi kucing dari Mesir dan Morrigan, dewi gagak dari Irlandia. Di mitologi masing-masing, mereka hanyalah dewi2 minor. Aku tidak sabar menanti buku selanjutnya, saat Tetua2 yang lain dan manusia abadi diperkenalkan. Dan aku sudah menyelesaikan buku keduanya, The Magician, dan tidak sabar menanti buku ketiganya, The Sorceress.

Di akhir buku, penulisnya menceritakan proses penggalian ide untuk buku ini. Very much interesting, dan benar secara sejarah atau setidaknya sesuai rumor sejarah di masa itu.

Nicholas Flamel dan John Dee adalah tokoh sejarah yang benar2 ada. Tapi Apakah mereka benar2 mati, atau memang abadi?

All legend based on some truth

Even the scary one?

Especially the scary one

Pelajaran Hari Ini (3) – Apakah pria menangis?

Salah satu misteri di dunia :

Apakah pria menangis?

Jawabnya:

Bisa. Tapi sering kali mereka tidak menangis karena berbagai alasan (citra diri, merasa kuat, nggak mau dibilang cengeng). Dan bahkan saat mereka sendiri mereka nggak mau menangis, mereka malu pada diri sendiri.

Lalu apa yang mereka lakukan?

Jawabnya

Mata mereka tidak menangis tapi hati mereka terluka. Kehilangan menjadi dendam, kesedihan berubah menjadi benci.

And that’s why we go to war, my friend.

Pelajaran Hari ini(2) – Artis berpolitik

Habis mbaca ini.

Rachel Mariam bilang kalau “Politik dan Seni Peran Tidak Berbeda Jauh”.

Maybe she’s right. Well, infact she is absoulutely right, women as pretty as her never wrong. 😀

Toh politikus sama artis sama-sama bermain peran. Sama-sama bersandiwara, artis untuk main film, sedang anggota DPR agar nampak seolah-olah apa yang mereka lakukan untuk rakyat. Sama-sama harus berlatih skrip, satu untuk dialog di film, satu lagi untuk pidato agar dipilih rakyat.

So, artis jadi anggota DPR? Kenapa tidak. Toh mereka lebih fotogenik dan punya kamera face. Dan kalau tidur lebih cakep dari anggota DPR yang tua-tua.

Oh ya, setidaknya, kalau jalan2 ke luar negeri artis lebih transparan. Mereka harus laporan ke wartawan infotaiment kesayangan mereka. Jadi nggak ada ceritanya anggota DPR ngakunye ke Cirebon, tapi aslinya Cirebon cabang Perancis, karena kalo artis pasti ketahuan, mereka pasti masuk Infotaiment kalo ke dinas luar negeri.

Instead my pragmatism, now you know why I choose abstain on the next election.

But really, If you want to choose, my advice is choose those artist. I rather choose dumb people than corrupted liars. Law, politics, and state administration can be learn, honesty never.