Orang tua di kereta

Setiap orang punya kakek atau nenek. Dan beberapa dari kita cukup beruntung untung mengantarkan mereka jalan-jalan. Mereka yang sering mengantar orang tua mengerti kalau mereka bisa sangat menyebalkan, keras kepala dan sangat menuntut. Tapi kenapa?

Beberapa tahun yang lalu, aku bareng sama nenekku pergi naik kereta di Jakarta. Nggak banyak kejadian, karena nenekku tidur sepanjang jalan. Yang lucu adalah saat kita sampai ke rumah, nenekku tiba bikin heboh karena melupakan barang di kereta. Barang apa? Sebotol teh.

Kejadian kemarin saat aku pulang ke Surabaya lebih heboh lagi. Seorang nenek tua bersama keluarganya ikut kereta malam ke Surabaya. Karena keretanya penuh, dan karena mereka go show, tempat duduk mereka terpisah jauh.

Sang nenek sepanjang perjalanan, kalau tidak tidur ya sang nenek ribut sendiri. Mengganggu? tidak, aku malah terhibur. Suatu saat sang nenek nekat ke gerbong belakang tempat saudaranya yang lain duduk. Dia sangat khawatir kalau saudaranya kenapa-napa. Dia berjalan tanpa menghiraukan cucunya yang mengejar untuk mencegah. Lha iya wong beda 4 gerbong jeh. Toh sampai di Surabaya bakal ketemu lagi.

Di saat yang lain, dia memaksa cucunya menelpon saudara-saudara di gerbong yang lain, buat apa? Kumpul makan. Sang nenek rupanya membawa bekal sendiri, sepertinya cukup untuk makan satu gerbong. Dan dia memaksa untuk makan bersama (sama keluarganya tentunya, bukan sama aku😀 ). Masalah yang lain termasuk standar, didampingi dan dituntun saat buang air.

Kenapa?

Sepanjang jalan, pikiranku yang nganggur ini berkelana untuk menganalisis kejadian ini. Dan menjawab satu dari 2 kata tanya tersulit sepanjang masa, WHY? (yang satunya adalah HOW?).

Berhubungan intensif dengan beberapa orang tua dan berbagai diskusi terpisah dengan banyak orang, aku meringkas hasil penjelajahan otakku sebagai berikut:

  • Setiap orang tua akan berubah jadi anak kecil.

Alasan pertama. Tingkah orang tua memang seringkali seperti anak kecil, berubah-ubah sesuai mood. Nenekku contohnya, ngotot pingin ke Jakarta, seminggu di Jakarta dia minta pulang, kangen rumah. Lalu maksa keluargaku nganterin. Sampai di rumah, dia nelpon dan menyatakan rencananya untuk balik sebulan lagi.

Kalau anak kecil gampang lah menghadapinya, tinggal bilang tidak. Tapi bayangkan anak kecil yang nyekolahin kamu, merawat kamu dari kecil, dan mengandung kamu, atau kalau bukan kamu ya orangtuamu, repot kan kalau mau bilang tidak.

  • Mereka ingin diperhatikan dan dihargai.

Ini adalah insting natural dari manusia. Kebutuhan untuk dihargai. Tapi penghargaan kita terhadap orang tua berubah seiring waktu. Bukan berkurang. Misal, dulu kita akan bergantung pada ortu kita tapi seiring kedewasaan kita, ketergantungan kita akan berkurang, dan akhirnya kita benar2 independen dari mereka dan mulai gantian mendukung mereka (kecuali kamu Malin Kundang), dan mulai memanjakan mereka. Perubahan ini membuat orang tua merasa rapuh, dan tidak berharga, dan untuk jangka panjang membuat mereka stress dan cepat pikun.

Setiap orang perlu dipercaya untuk melakukan sesuatu, mungkin itu sebabnya nenekku nggak betah di Jakarta. Di rumahnya ada bayi yang dia bantu njagain (sepupuku), di sini dia nggak punya tanggung jawab, semua anaknya di Jakarta manjain dia. Tapi nenekku malah nggak kerasan.

Di rumahnya dia punya tanggungjawab, gereja, sepupuku, mbantu tetangga, mbersihkan rumah. Di Jakarta dia merasa kosong karena sehari-harinya cuman ngobrol, atau diam di rumah saja. Tanggungjawab membuat manusia berarti.

  • Orang tua punya kecenderungan untuk ngobrol

Hal bagus sebenarnya. Karena kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman mereka, dan mereka juga nggak cepat pikun karena otaknya selalu dipakai.

  • Ketakutan untuk kehilangan

Tidak semuanya sih. Tapi beberapa memilikinya. Orang tua biasanya lebih go with the flow. Mereka banyak mengalami asam garam kehidupan, dan menjadi makin bijaksana memandang kehidupan dan kematian. Banyak dari mereka sudah siap saat ajal menjemput.

Tapi dari beberapa mereka masih terikat dengan hal-hal di dunia. Sebenarnya menyebalkan, tapi kita pun memilikinya. Takut kehilangan keluarga, pasangan, dll. Ketakutan itu semakin besar karena semakin tua seseorang maka kehilangan dan kematian yang dia saksikan semakin banyak.

So?

Kamu sudah membaca tulisan ngacoku di atas, apa pendapatmu? Apa yang harus dilakukan? Apakah kamu punya paper riset yang menentang atau mendukung pikiran asal2anku ini?

Share with us…

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 5 Agustus, 2008, in experience, idealist, life, writting. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. PERTAMAAAAAAAAAAAAAAAAAXXXX!!!!!!!!

    *jarang-jarang oleh pertamax saiki…

  2. Azzzzz………….
    Cepek deh…

  3. Hmm.. yang saya pelajari dari berhadapan dengan para orangtua adalah, sabar. Setuju sih sama poin2mu master, karena makin tua sepertinya mereka makin melankolis.

    Apa yang harus dilakukan?
    Maksud e? Kok saya rada ndak mudheng ya?:mrgreen: ya tetap menjaga mereka dengan sebaik-baiknya dong.. karna kayaknya ya, apapun pendapat dan pikiran kita ttg orangtua ini, ujung2nya ya tetap mengurus mereka (kalo ndak mau dianggap durhaka)..

    eh, jadi inget pengalaman pas lebaran tahun kemaren. Saya dan kedua orangtua mengunjungi seorang tetangga sebelah rumah nenek. Si tetangga ini sudah tua dan pikun, tidak bisa bergerak lagi. Jadi semua aktivitas dilakukan di tempat tidur. Boleh dibilang balik lagi jadi bayi.

    Siapa yg mengurus beliau?
    Untung ada seorang anak yg mau mengurusnya, karna mereka bukan dari keluarga mampu yg bisa menggaji perawat. Nah, si anak ini bisa dibilang “cuma” ibu rumah tangga biasa, janda cerai, cuma berpenghasilan sedikit, dan (maaf) kurang terpelajar.

    Anak2 yg lainnya kemana? Ndak tau. Cuma sesekali ngunjungin.
    Nah, saya jadi mikir lain. Kalo si anak itu orang “sukses”, wanita karir, ato minimal pegawai negri lah, masih mau ndak ngurus ibunya, seperti ibunya dulu ngurus dia pas masih bayi?

    Saya juga jadi mikir, apa hubungan orangtua-anak itu timbal balik ya? Orangtua ngurus anaknya sebaik2nya supaya di hari tuanya ada yg gantian bisa ngurus mereka? Kesannya kok meragukan ketulusan ortu ya? Salah ndak sih?

    Eheheh, sorry ngelantur, tapi postinganmu membangkitkan memori lama, pas ibu saya nanya ke saya, “Nanti kalo ibu sudah tua dan jadi kayak nenek Siah (tetangga yg kami kunjungi itu), kamu mau ngurusin ibu, ndak?”
    Bikin miris ndak sih ditanyain begitu? -__-

    ps. Komen terpanjang saya di blog ini!😛

  4. @takochan
    Wah panjang ya… Udah curhat colongan, posting colongan lagi😛
    *dijitak*

    Setahuku, setiap anak di keluarga punya perannya sendiri dalam membesarkan ibunya. Kalau si anak sukses, ya nggaji perawat dong… gimana sih?
    Trus, panti jompo masih buka kan?

    *damn… me and my pragmatism can make me so mean…*

  5. oh, untung saya bukan ibunya situ😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: