Pengintai

Menulis cerpen itu mudah. Tidak sesulit menulis novel. Nafasku masih terlalu pendek, dan fokusku blurry saat menulis panjang-panjang, belum lagi masalah pengembangan karakter. Aku masih harus banyak belajar.

Menulis juga salah satu pengalih perhatian yang efektif. Menuliskan sesuatu, baik berhubungan atau tidak dengan perasaan atau kerjaan kita membebaskan pikiran kita sesaat dari masalah. Setelah itu kita bisa melihat masalah dengan lebih baik (semoga).

So, tanpa menunda lagi, saya persembahkan karya terbaru saya.

Malam itu gelap. Seorang wanita berlari melintasi jalanan. Sepatu hak tingginya kotor terkena lumpur sisa hujan tadi sore. Napasnya tersenggal karena kecapaian, dan kakinya yang jenjang kelelahan karena tak biasa berlari dengan hak tinggi dan rok selutut.

Wanita itu terus merasa dia diikuti semenjak turun dari bus. Dia tak bisa berhenti, karena perasaan itu menghantuinya. Anehnya, setiap kali dia menoleh ke belakang orang itu lenyap seakan hanyut dalam bayangan rumah yang mengepung jalanan.

Kosnya sudah dekat, di ujung jalan ini, dan langkah yang sempat melambat kini kembali bersemangat. Tangannya gemetar memegang kunci pagar. Lubang kunci itu seakan lubang jarum yang kecil. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, dan Klik! Dia langsung menghambur masuk.

“Dik? Kamu kayak habis melihat setan” sapa teman kosnya yang keheranan. Wanita itu tak menggubrisnya dan langsung masuk ke kamarnya ke lantai 2.

Di kamar, wanita itu sudah bisa menguasai dirinya. Napasnya yang memburu semakin teratur. Dia merebahkan dirinya ke kasur yang tergeletak di lantai. Dia teringat tentang orang yang membuntutinya dia keluar kamar dan memandang lewat balkon ke seberang jalan. Secercah bayangan di seberang jalan balas menatapnya, dengan pandangan yang menusuk menembus matanya, pandangan yang dikenalnya entah dimana, tapi tajam, dan kosong.
Sesaat,
Lalu menghilang seakan tak pernah ada.

Di kamarnya jantungnya berdetak kencang. Wanita itu membongkar tasnya, mencari handphonenya. Dia mencari nomor yang sudah dikenalnya, Aga, pria yang menjadi kekasihnya. Tidak ada nada sambung.

Kekasihnya itu sudah 2 hari seakan lenyap ditelan bising kota Jakarta. Tidak ada telepon, sms, dan tidak bisa dihubungi. Padahal mereka selalu berhubungan setiap saat. Aga, pria kasar itu yang kini menjadi ksatria berkuda putih yang lembut, menaklukan hatinya, dan memasangkan cincin di jarinya 3 minggu lalu. Rasa rindu semakin menggerogoti jiwanya, dengan kasar dia melempar hapenya ke atas tempat tidur, lalu dia tertidur.

Tengah malam, wanita itu terbangun karena dering hapenya. Sebuah miscall dari nomor tak dikenal, dan sms kosong dari nomor yang sama. Paginya, saat dia tunjukkan sms itu ke kakak kosnya, sms dan nomor itu lenyap.

Malamnya, bayangan itu kembali mengikutinya. Tak terlihat tapi ada. Langkah bayangan itu berpadu seirama dengan langkah wanita, dengan nada yang hening dan mencekam. Flat shoes yang dipakainya membuat langkahnya semakin cepat melintasi jalanan yang hanya diterangi temaram lampu malam yang mati di beberapa tempat. Wanita itu setengah berlari menuju gerbang kosnya. Tempat dia akan aman.

Wanita itu mulai mengatur napasnya yang tersenggal. “Mbak, dari kemarin aku merasa diikuti” kata wanita itu pada kakak kosnya yang duduk di depan TV. “Siapa?” “Aku nggak tahu mbak. Aku nggak bisa ngelihat dia, tapi aku tahu dia di situ. Aku dengar bunyi langkahnya.” Ucapannya disela bunyi handphone di tasnya. Sebuah pesan singkat dari nomor misterius, “Selamat tinggal”. Pesan yang tidak bisa dibaca kakak kosnya, karena pesan itu langsung menghilang.

Perhatian keduanya teralih ke televisi yang menyiarkan peristiwa kriminal. Seorang pria ditemukan terbunuh 3 hari lalu. Wanita itu mengenali jaket merah bersimbah darah yang dipakai korban. Jaket yang dipakai Aga, saat terakhir mereka nonton.
Tiba-tiba dunianya berputar.
Dan gelap.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 11 Agustus, 2008, in flash fiction, writting. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. saya juga ngalamin kesulitan dalam penulisn.
    salam kenal yak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: