Kenapa orang memilih? Sebuah tinjauan terhadap perilaku pemilih dan bagaimana meningkatkan partisipasi rakyat.

That’s a long title and sound like a thesis title too. Tapi jangan khawatir, nggak serumit itu kok.

Pandu kemarin menurunkan posting tentang kenapa kita nggak boleh golput. Dia menyasar tentang betapa berartinya suara kita dan mnyusun berbagai counter-argumen untuk menyasar berbagai alasan yang digunakan untuk golput. Tapi apakah benar suara kita berarti?

Lihat saja Pilkada yang kacau di berbagai daerah. Di Maluku Tengah misalnya, yang menentukan siapa gubernurnya siapa? Pemilih? Bukan. pengadilan dan KPU.

Lalu lihat saja di setiap Pilkada selalu ada yang namanya quick count. Metode sampling yang mampu memprediksi hasil Pilkada dengan margin error 1-5%.

Lalu… what’s the point?

Apa artinya kita semua memilih? Lebih baik kita bikin random sampel dari penduduk, lalu meminta mereka memilih. Secara statistik sama saja toh?

Masih belum teryakinkan juga? Sekarang, siapa sih calon yang melakukan pendekatan personal ke pemilih? Calon lebih menekankan pendekatan ke tokoh masyarakat dengan harapan agar mereka meyakinkan orang2 untuk memilih calon. Lalu kita, manusia jelata ini? Untuk mereka kita hanya angka2 statistik. Do they really care about our vote?

Tulisan di buku Freakonomics, artikel berjudul “WHY VOTE? There’s no good economic rationale for going to the polls. So what is it that drives the democratic instinct?” berusaha untuk menjawab itu.

Aku akan memberikan ringkasan dari apa yang kubaca. Alasan yang mungkin adalah :

1. Mungkin pemilih tidak terlalu cerdas, dan beranggapan bahwa suara kita benar2 ngaruh

2. Sama seperti lotere, peluang untuk menang sangat kecil. Tapi kita bisa berfantasi, kalau menang mau diapain uangnya. Dengan cara yang sama, kita bisa berfantasi kalau apa yang kita lakukan berpengaruh.

3. Terpengaruh pemikiran bahwa memilih adalah kewajiban sebagai warga negara. Jadi kita merasa bersalah jika tidak memilih.

So, yang mana alasanmu?

Tapi jika memang suara kita tidak signifikan, lalu kenapa banyak orang memilih? Memang suara individual kita nggak ngaruh, tapi secara keseluruhan memang menentukan.

Berlawanan dengan argumen Pandu. Golput itu wajar sebenarnya, terutama di negara yang demokrasinya sudah tua, seperti Amrik. Di Amrik, Pemilu 2004 hanya diikuti kurang dari 60% pemilih.

Lalu gimana menjaga atau meningkatkan partisipasi pemilih dalam Pemilu?

Menurut artikel itu pula, di masa lalu ada insentif dari parpol untuk setiap pemilih, mulai dari uang sampai segelas wiski, untuk memilih parpol mereka. Hal ini juga dilakukan sejumlah parpol atau calon di Indonesia yang memberikan sejumlah hal untuk orang miskin untuk memilih, mulai kaos, beras sampai uang.

Tapi harus ada insentif yang lebih murah dan yang terpenting jauh dari money politics dari itu agar orang memilih. Artikel itu mengajukan satu insentif yang efektif, terutama, menurutku, di sini.

Citra sosial.

Seperti alasan di atas, salah satu alasan orang memilih adalah untuk memenuhi tugas sebagai warganegara yang baik. Mari kita tingkatkan kesan itu, orang yang memilih itu cool, punya citra sebagai pengabdi negara, suatu status sosial yang lebih baik dari rata-rata.

Aku membayangkan sebuah iklan yang menayangkan orang2 Papua yang melintasi hutan dan gunung untuk memberikan suaranya, orang2 di Maluku yang harus mendayung melintasi laut untuk memilih, dan di akhir iklan menayangkan image mereka adalah warganegara yang istimewa (disalami presiden setelah memberi suara misalnya).

Atau iklan yang menayangkan berbagai artis yang memberi suaranya, dan menghimbau warga masyarakat agar memilih seperti mereka (I vote for Sandra Dewi and Luna Maya of course).

Mungkin dengan cara ini tingkat partisipasi masyarakat dalam memilih dapat ditingkatkan.

Lalu aku?

Aku bilang tingkat partisipasi masyarakat. Bukan berarti aku bakal milih. Kecuali ada cewek yang attractive mau kencan sama aku kalo aku milih. Itu soal lain. Apakah itu berarti aku warganegara yang buruk? Belum tentu, aku hanya WNI yang rasional dan nggak peduli sama ilusi citra sosial ataupun politik. Toh aku punya NPWP, mbayar pajak dan mencoba untuk membuat negara lebih baik dengan caraku sendiri. Tulisan ini misalnya.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 18 Agustus, 2008, in idealist, life, writting and tagged , , . Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. ….salah satu alasan orang memilih adalah untuk memenuhi tugas sebagai warganegara yang baik.
    Betul, tetapi orang yang tidak mau memilih juga belum tentu warga negara yang tidak baik, seperti yang bapak tulis, melainkan WNI yang rasional, jadi sama dengan GOLPUT.
    Klalau mereka tidak berpartisipasi karena calon idolanya tidak ikut jadi caleg, masuk golongan apa pak?!

  2. Toh aku punya NPWP, mbayar pajak dan mencoba untuk membuat negara lebih baik dengan caraku sendiri. Tulisan ini misalnya.

    Di tengah-tengah belantara teks yang semakin crowded seperti ini? anyway, nice post.

  3. @singal
    Ya ndak tahu… Saya ndak ahli menggolongkan orang😀
    Yang saya tulis kan soal alasan orang milih, yang alasan orang golput lihat blognya pandu saja😀

    @galih
    Yeah… a little bit useless, isn’t it?
    yang penting punya NPWP😀

  4. mungkin, saya tetap akan golput karena kepercayaan saya terhadap pelaku politik belum berubah

  5. hehehe..memang lebih baik pak tidak menggolongkan orang, setuju…., lebih baik saling menghormati dan menghargai…(menurutku)

  6. @hedi
    Hmmm…….
    Sama sih sebenernya.

    @singal
    yup…
    love, don’t judge.

  7. Toh aku punya NPWP, mbayar pajak …

    “Ah, duit pajak itu paling-paling akan dikorupsi juga buat dikantongin pejabat-pejabat laknat…lalu buat apa bayar pajak?”😛

  8. @catshade
    Dude, biaya sekolah dari SD-SMA (gaji guru2-ku tepatnya) dan termasuk uang kuliahku disubsidi negara dari pajak. Jadi… aku merasakan manfaat pajak.

    bisa dibilang aku berhutang pada negara.

  9. aku belum pernah memilih karena memang nggak ada calon yang tepat. kalo ada calon pemimpin danataupun partai yang visi misinya pengen merevolusi indonesia (bukan jadi negara extrimis agama tentunya😛 ) , nantinya baru aku coblos deh tuh orang… kalo nggak ada ya… mungkin sampe tua nanti ya nggak nyoblos2

    (lho trus kalo ada yang bilang suara Anda itu bisa menentukan nasib negara lho mas?) jawabnya: lho Anda memilih mengikuti hati nurani menjadi kehendak, atau memaksakan hati nurani untuk kehendak?

  10. Ralat sedikit dan…
    Memilih itu BUKAN KEWAJIBAN tapi HAK kita sebagai warga negara….

    Jadi terserah kita kan hak itu mau digunakan atau tidak?? Am I right?? :p

    Di jatim yang milih kurang dari 50% dari total pemilih dan :p

  11. @dr
    Ngomong ae males kep.😈

    lho trus kalo ada yang bilang suara Anda itu bisa menentukan nasib negara lho mas?

    Kalau cuman milih enggak… kalau kamu yang maju iya.

    @Arysco
    kalo lihat di koran seh 40% golput, co?
    Rekor baru, setelah Jawa Tengah yang 30%.

  12. makanya… kamu kalo ada kesempatan, majuo niel, tak coblos!

  13. Yang terpenting harus disadari itu konsekuensi

    kalau anda memilih, dan PILIHAN ANDA MENANG…. anda berhak menuntut ketika ada yang tidak beres (melanggar janji)

    kalau anda GOLPUT… apapun yang terjadi anda WAJIB diam… karena anda tidak memilih wkwkwk..

    jadi janganlah berusaha menjadi orang sok netral yang bisa tebas kiri kanan menyalahkan semua partai dengan alasan “lho aku kan gak ikut milih”😛

  14. ^^setuju banget sama tulisan ini, comment di atas saya juga bagus banget. kalau udah golput ya udah diem aja kalau kenapa-kenapa. toh kamu ngga berpartisipasi. (praktisnya begitu)

  15. sama denganku bang, saya memilih untuk tidak memilih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: