Tentang Bacaan (0)

Ini adalah posting yang aku janjikan kepada padwan kodok. Posting adalah tentang review  dari berbagai buku yang aku baca selama liburan dan juga buku2 lain yang aku anggap menarik. Meski aku tahu komen balasannya paling cuman, “Bikin iri saja.” Tapi.. biarlah.

Buku yang kubaca kebanyakan bergenre sci-fi atau fantasi, genre favoritku,  juga bacaan klasik seperti Les Miserables, dan novel sejarah seperti Tetralogi Buru, Gajah Mada dan Ken Arok. Okey without further ado, here’s the list :

1.  Bumi Manusia

Ini adalah novel yang membuatku terkesan dengan Pramoedya Ananta Toer. Walau bukan novel pertamanya yang kubaca. Tapi satunya adalah terjemahan dari novella-nya Leo Tolstoy, so tidak perlu dihitung.
Ceritanya menarik karena memotret kehidupan akhir abad ke-19 di kota Surabaya dari kacamata Minke, nama samaran yang digunakan oleh Pram untuk salah satu tokoh pergerakan nasional yang mendirikan surat kabar berbahasa melayu pertama di Indonesia.

Novel ini sarat dengan kegelisahan Minke yang melihat keadaan bangsanya saat itu. Diskriminasi dan kemiskinan terpapar di jalanan Surabaya. Salah satu hal yang menarik dari novel ini adalah aku bisa mengira-ngira keadaan Surabaya di masa lalu. Saat aku melintasi Wonokromo, aku langsung membayangkan rumah Nyai Ontosoroh yang dikelilingi kebun dan hutan, agak susah karena Wonokromo sekarang jadi daerah yang ramai dan semrawut.

Baca saja, dan berbagilah kegelisahan yang kamu tangkap dari situ ke blog.

2. Gajah Mada

Ini adalah novel pertama dari penulis produktif, Langit Kresna Hariadi, yang kubaca. Kisahnya sangat menarik karena 2 hal, itu sejarah dan itu soal Majapahit, kerajaan terbesar di Indonesia, dalam masa kejayaannya. LKH membuat novel ini ringan dibaca, alurnya mengalir lancar. Meski begitu aku agak mangkel dengan banyaknya subplot dan penjabaran nggak penting yang digunakan untuk melukiskan keadaan Majapahit pada saat itu. Hal ini membuat buku ini jadi tebal…. Dan mahal.

Meski termasuk mahal, novel ini cukup laris. Untuk mendapatkan seri ketiganya, Hamukti Palapa, aku harus keliling 4 toko buku di Jakarta, dan 2 toko buku di Surabaya.

3. The Magician

Let’s move to english literature. I read this book in English actually, the Indonesian translation hasn’t come out yet. So I stuck with reading the ebook. Tenang, aku tidak akan melanjutkan menulis dengan bahasa Inggris. Cerita buku ini adalah kelanjutan dari buku selanjutnya, The Alchemyst. Rencananya buku ini akan ada 6 seri dan mencakup 30 hari perjalanan si kembar untuk menyelamatkan dunia.

Buku ini menarik karena si kembar bertemu dengan Niccolo Machiavelli, penulis the Prince, dan Mars, dewa perang kuno Yunani, belum lagi Jean of Arc dan Comte St. Germain. In next book they will meet Gilgamesh.

4. Les Miserables

Sejauh ini buku ini tidak mengecewakan (aku belum selesai baca). Pembukaannya yang membuat aku tersenyum dengan kebaikan sang Pastur kepada Jean Valjean membuat aku berharap banyak pada novel ini. Victor Hugo memang penulis yang brilian.

5. The Prince

Pertanyaan mendasar,  apa pendapatmu tentang seorang pria yang membaca The Prince sebagai bacaan pengisi waktu di perjalanan, seperti saat di pesawat?

Buku ini menemaniku dalam penerbangan ke Jakarta. Ukurannya yang tipis (kurang dari 200 hal) membuatku tertarik. Tapi isinya memang sangat padat. Aku menyerah dan tidur setelah membaca seperempatnya. Intinya buku ini berisikan cara-cara untuk mengelola negara dengan tangan besi. Sebagian nasehat dalam buku ini sangat masuk akal, dan berbahaya sebenarnya. Salah satu kutipannya :

Ia (pemimpin) harus berusaha untuk tidak dibenci. Yang terbaik adalah ditakuti dan dicintai; Namun jika tidak bisa mendapat dua-duanya, lebih baik ditakuti daripada dicintai.

6. Artemis Fowl : Time Paradox

Karya lain dari sang penulis Eoin Cofler. Kali ini aku gagal mendapat ebook berkualitas baik, dan aku juga tidak menemukan buku ini di Periplus. Jadi ebook adalah pilihan satu-satunya. Mengharapkan terjemahan bahasa Indonesia sangat mustahil, karena “Lost Colony”, seri sebelum ini, saja belu diterjemahkan.
Seri Artemis Fowl sangat menghibur karena gaya tulisannya yang witty, dan humor2 cerdas dari Artemis dan Foaly. Di cerita ini, Artemis dan Holly Short kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan ibunya yang terkena spelltropy.

7. Septimus Heap : Magyk

Pernah mbaca buku yang tokoh utamanya (yang jadi judul, Septimus Heap) mati di awal cerita. Novel ini seperti itu. Ceritanya sangat fun dan mengalir lancar. Ada humor-humor segar bertebaran dan enak dibaca. Di samping itu ada berbagai kelokan dalam cerita yang membuatnya menarik.

The next fenomena setelah Harry Potter? Masih banyak saingannya. Artemis Fowl, The Alchemyst dan Bartimeus, salah satunya.

By the way, kenapa konsep seventh child of the seventh child banyak terdapat pada novel-novel fantasy seperti ini ya?

8. Star Wars :  Truce at Bakura

Saat kamu nonton film Star Wars yang terakhir, yang bagian Sith Lord-nya dibunuh oleh Darth Vader untuk nyelamatin Luke (Spoiler? Bukan, film itu sudah ada puluhan tahun. Kalau kamu belum nonton, kecil kemungkinannya kamu bakalan nonton) apakah kamu merasa “Ngene thok” ?

Novel inilah kelanjutannya. Novel ini mengikuti petualangan Luke beberapa saat setelah pertempuran di Death Star. Setelah pertempuran itu, Luke, Han Solo dan Leia berangkat ke Bakura yang diserang mahluk asing. Aku bisa merasa mendengar soundtrack Star Wars di sepanjang buku ini.

9. The Footprints of God

Inilah novel dimana sci-fi AI(Artificial Intelligence – Kecerdasan Buatan) bertemu dengan filosofi. Premis tentang AI dalam film ini sangat sederhana. Para ahli AI selama ini berpikir untuk meniru cara kerja otak manusia dalam komputer, daripada gitu, bagaimana kalau kita membuat model lengkap dari otak manusia dan memasukkannya ke dalam komputer?

Garis besar novel ini adalah, apa yang terjadi jika kesadaran individu masuk ke dalam komputer?

Sangat menarik untuk geek seperti aku yang memang mempelajari Intelligent System di saat kuliah, dan para maniak filsafat yang bertanya-tanya, jika seluruh kesadaran manusia diduplikasi ke dalam komputer dengan kemampuan penghitungannya yang sangat cepat, apa akan yang terjadi? Dan, apa itu Tuhan? Dan bagaimana jika kesadaran wanita dan pria disatukan?

10. The Last  Godfather

Buku ini menarik, karena berisi tentang kisah kejatuhan salah satu mafia terkuat di New York, John Massino. Buku inilah yang membuat aku tertarik untuk menonton film Donnie Brasco, kisah nyata tentang penyamaran agen FBI, John Pistone sebagai Johnie Brasco ke jaringan mafia.

Di buku ini aku belajar tentang kerapian operasi mafia dan kehidupan mereka yang penuh dengan korupsi, tipu daya, dan intimidasi.

Huff… sudah genap sepuluh. Sebenarnya masih banyak yang lain. Tapi segini dulu aja.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 9 Oktober, 2008, in experience, life, review, writting. Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Pertamax!
    BIKIN IRI AJA!
    PINJEM DONG!

    *berlalu*😎

  2. Salam kenal.

    Aku juga suka baca Kuartet Pulau Buru. Jadi inget waktu SMA dulu pinjam di perpustakaan, bukunya tebel-tebel. Belum semua selesai dibaca eh konon gosipnya buku disita sama organisasi anti komunis apalah namanya…dasar…Jadilah pinjam ke temen, untung dia punya lengkap.

    Almarhum eyang saya juga sempet baca buku itu. Nostalgia mungkin ya…hehehe😀

  3. @takochan

    Expected response.

    @lambrtz
    Setelah membaca keempat bukunya dengan tuntas, aku bertanya2 kenapa ya buku ini dulu dibredel?

  4. I just gave what you want😉 *kan baek*😛
    What can i say? I haven’t read all of them!😈 tau kan apa hambatannya, master? Tapi saya ndak terlalu iri kok, kecuali bagian Septimus Heap dan Artemis Fowl😎

  5. Karena pengarangnya anggota Lekra. Lekra dekat dengan PKI. Peduli amat dengan isi bukunya. TItik.

    Barangkali itu yang ada di benak mereka. Menyedihkan bukan…😦
    Dan itu terjadi pada awal 2000an. Kalau dibredelnya tahun 1980an mungkin agak masuk akal, mengingat Soeharto masih jadi presiden.

  6. @takochan
    Artemis Fowl mbajak dari gigapedia.
    Septimus Heap… ke sini aja deh..😛

    @lambrtz
    Eks Anggota Lekra. Lekra dibubarkan pada saat pemberantasan PKI.
    Tapi iya ya… kabarnya tahun 90-an Pram nggak jadi dapet Nobel Sastra gara2 diprotes sama pengarang2 Indonesia yang lain.

    Ah, seandainya menang, orang Indonesia bisa ada dalam daftar penerima Nobel.

  7. Ah iya terima kasih ralatnya.

    Tentang Nobel, dalam bidang lain, sepertinya ada proyek Yohanes Surya untuk mendidik anak-anak berbakat dari seluruh Indonesia (termasuk mengikutsertakan ke Olimpiade serta menyekolahkan ke universitas luar negeri) untuk menjadi ilmuwan. Semoga dari proyek ini ada Nobel yang dihasilkan. Masa kalah sama Pakistan:mrgreen:

    Maaf jadi OOT.

  8. bener-bener bacaan yg berkualitas, pilihan jitu😀

  9. @lambrtz
    Nobel itu selain sain masih ada yang lain, sastra dan perdamaian. Kalau aku lebih bangga kalo orang Indonesia dapet nobel perdamaian, daripada nobel sains.

    @Hedi
    Karena yang berbobot saja yang dipajang. Masak ngaku kalo suka baca stensilan.

  10. yang paling bikin aku mangkel soal buku Hamukti Palapa adalah ceritanya yang terlalu melenceng dari proses sumpah Palapa itu sendiri. masak sumpah gajah mada yang jadi judul buku cuma dikasih porsi satu bab saja? yang lain lebih cerita dongeng sebelum tidur soal pusaka pusaka gak jelas….

  11. @galih
    Iya juga sih. Tapi baca lebih jeli dong, di dialog2nya Gajahmada dengan Arya Tadah terselip keinginannya untuk menyatukan nusantara, begitu pula dengan dialognya dengan Adityawarman. Lalu puncaknya Sumpah Palapa saat penobatan. Sayang fokusnya jadi pemberontakan Keta dan Sadeng. Harusnya langkah2 Gajahmada setelah sumpahnya diucapkan.

    Maksudnya Sumpah Palapa jadi klimaksnya, cuman jadinya buku itu jadinya punya 2 klimaks, saat Keta dan Sadeng ditumpas dan saat Sumpah Palapa. Jadi agak aneh.

    Mungkin kita memang nggak cocok memang dengan gaya tuturnya LKH yang terkesan lambat. Buku “Ken Arok” rasanya lebih menyenangkan untuk dibaca karena lebih cepat mengalirnya.

    -Kok aku jadi kritikus buku gini ya?-

    @isnese
    cari di Gigapedia atau Project Gutenberg. Sebagian besar ada ebooknya. Beberapa buku klasik (The Prince dan Les Miserables) bisa didownload gratis di Gutenberg.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: