Tentang Adaptasi Bahasa

Penjual : Coba deh bu cek harganya di karipur, pasti yang ini lebih murah.
Ibu     : Eh karipur? Dimana itu pak?
Penjual : Itu yang di bawah, terus ke sana trus turun.
Ibu (tiba2 tercerahkan) : Oooo…. Carrefour.
Mal Ambassador, Kuningan, didengar oleh keponakan yang akhirnya gagal menahan tawa.

Adaptasi bahasa asing ke bahasa Indonesia memang agak aneh. Intellect misalnya jadi intelek, algorithm jadi algoritma, anehnya rythm jadi ritme. Sebagai orang IT aku terbiasa dengan bahasa yang campur-campur. Di-debug, di-scan, user requirement terus-menerus digunakan tertukar-tukar dengan padanan bahasa Indonesianya. Kadang karena padanan bahasa Indonesianya nggak pas atau hanya karena nggak keren. Memindai, basmikutu, kebutuhan pengguna, dan tetikus bukan padanan yang keren, bukan?

Kadang adaptasi ngawur itu meluas, salah satunya ya Karipur ini. Lalu ada pula Starbak dan penjual martabak yang menamai kiosnya Martabucks.

Voila, Tu sai tout!

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 14 Oktober, 2008, in experience, jayus, joke, life, small talk. Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. kayak nya tau itu di blog…

  2. Martabucks, ada tuh di daerah Pangkalan Jati😆

  3. sama seperti indomart, eh lama kelamaan diganti indomaret gara2 orang biasa nyebut yg kedua

  4. sama seperti indomart, eh lama kelamaan diganti indomaret gara2 orang biasa nyebut yg kedua

  5. Ga sedikit orang yang nyebut “sanslik” instead of “sunsilk” hehehehe ga nyambung ye

  6. wahahaha…
    oh endonesaku…

    *ikutan ktawa aja…

  7. @Disc-Co
    Tahu, tapi belum pernah mampir.

    @Hedi
    Hohoho…
    Pantesan. Aku dulu bingung, habis Indomaret ntar ada Indomei lagi😀

    @Wina
    Wekekeke…… Saya pakenya “kepala dan bahu”.

    @torret
    silahkan.

  8. Saya juga suka sembarangan aja adaptasi kata asing. Kayaknya misalnya, ineransi, padahal bisa pake maksum. Ambigu, padahal bisa pakai taksa. Kadang saya pakai dua-duanya.

  9. @gentole
    Err… maksum, taksa? :-s

    @isnese
    Err… ?

  10. faktor lidah kale… lidah kampung kayak aku kalo disuruh ngemeng jerman yo susah. liat aja permak jins, setor duit, tambal ban cubles, wartel yang bisa telpon ke henfon =D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: