Tentang Televisi : Semua soal pemirsa.

Pernah nonton TV? Yeah, itu pertanyaan khotbah. Tentu saja kita pernah nonton TV. Punya TV di rumah/kontrak/kos/hotel? Tentu. Siapa sih di Indonesia yang ini nggak punya akses ke TV?

Ingatkah kamu waktu kualitas siaran TV nggak seperti ini? Apa yang terjadi?

Sewaktu aku SMU, aku suka nonton TV di malam hari. Kalau aku nonton TV biasanya di atas jam 10 malam. Di bawah itu aku lihat all TV sucks. Di saat kuliah dan sampai sekarang, hal itu berubah, aku cuma lihat TV jam 6 pagi,acara berita terutama berita olahraga. Yang lain? Paling cuman Metro TV, dan acara2 tertentu macam Extravaganza dan Coffee Bean Show.

Di saat aku SMU, aku biasa lihat film2 bagus yang tayang jam sepuluh ke atas, Slider, tayang ulang McGyver, Friends, Married with The Children, Charmed, Las Vegas, Shield, CSI, John Doe, dll. Kalau kamu belum pernah dengar acara itu mungkin kamu punya pola tidur yang nggak seaneh aku, dan itu bagus.

Hal ini berubah sejak datangnya Lativi. Mereka menaruh “film Indonesia tempo dulu” di sana dan ratingnya meningkat pesat. Akhirnya kita melihat acara jam 10 ke atas dipenuhi dengan acara2 “nakal”. Lalu tren ini diakhiri oleh Tukul dengan 4 Mata-nya, dan sebagian acara TV malam adalah Talkshow. Kecuali Trans.

Lalu apa ini? Rating?

Bukan.

Ini soal pemirsa.

Kamu ingat saat pertama kali ada siaran TV swasta di Indonesia? RCTI, lalu SCTV, Anteve, Indosiar dll. Acara mereka top class, dan bagus. The A-Team, McGyver, Knight Rider, dll. Acara lokalnya? Nggak banyak memang tapi cukup menarik, macam Lupus dan Keluarga Cemara, Losmen, dan Srimulat oh ya.. jangan lupa Kelompencapir dan Liputan Khusus. Dan masih ditambah penjualan mimpi lewat Telenovela. Tapi masih masuk akal(jumlahnya bukan ceritanya).

Hal ini berubah saat TV semakin mudah diakses.

Orang dari berbagai kalangan semakin mudah mengakses TV. Dahulu, TV hanya bisa diakses oleh segelintir orang kalangan middle up. Sehingga target pasarnya adalah acara2 bermutu atau TV akan ditinggalkan. Sekarang? Berbagai lapisan masyarakat yang mengakses TV membuat stasiun TV mendesain acara untuk masyarakat dengan proporsi terbesar demi meraih rating, masyarakat menengah ke bawah.

Bagi masyarakat menengah ke bawah, TV adalah sarana untuk bermimpi, sejenak melupakan masalah mereka. Sejenak bermimpi menjadi kaya mendadak karena menikahi pangeran tampan, sejenak bermimpi melihat pembantu bernasib mujur di TV, dan sejenak mengimpikan wanita2 seksi yang bertebaran di TV.

Mereka pun menjadi sasaran iklan. Iklan2 fantastis tentang kulit putih yang mengubah hidup, rambut yang membuat masa depan cerah, susu yang membuat badan berotot dan memikat cewek, ilusi tentang kejantanan lewat rokok, dll.

Trus?

That sucks! Itu bukan hal yang pengen aku tonton. Aku pengen nonton A city called Eureka! tapi ratingnya bakalan jeblok, aku pengen nonton Biography tokoh politik di dunia atau Stargate  series tapi yang suka paling cuman geeks and nerds like me. I need a TV segmented to people like me (geeks, hunger for information but not infotainment, hunger for knowledge, and such)

Jika eksekutif stasiun TV membaca buku Blue Ocean, mungkin mereka akan mulai membuat TV yang segmented. Mulai bergerak mencari niche masing2 daripada bertarung di Red Ocean. Seperti Metro TV yang terspesialisasi di berita, dan TVOne di berita dan olahraga.

In other hand, rating harus dibuat lebih detail. Bukan cuman jumlah pemirsa tapi juga  detail demografinya. (usia, pendidikan, jenis kelamin, tingkat sosial, preferensi seksual, sampai warna mobil dan  aktor favoritnya) Hal ini membuat stasiun TV bisa mendesain acaranya untuk menyasar pasar tertentu, dan agensi iklan bisa menaruh iklannya di acara yang pemirsanya sesuai dengan target pasarnya.

Jadinya, orang2 middle low bisa menikmati mimpinya tanpa membuat orang yang mampu melihat kebohongan yang ditayangkan terus2an dan yang lain bisa menikmati acara yang cerdas dan menghibur.

What?

Mimpi masih laku dijual dan stasiun TV adalah perusahaan yang mencari profit. Do the math! Mereka nggak mendapat untung dari program cerdas yang berating rendah. Dan setahuku nggak ada aturan untuk stasiun TV yang mewajibkan mereka menayangkan program yang high taste dan mencerdaskan.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 27 Oktober, 2008, in experience, idealist, life, writting and tagged , . Bookmark the permalink. 21 Komentar.

  1. “I find television very educating. Every time somebody turns on the set, I go into the other room and read a book.”
    – Groucho Marx –

  2. Perlu diaudit juga lembaga survey-nya. Sekarang AC Nielsen kan memonopoli survey rating televisi. Bener nggak Nielsen tak memiliki agenda-agenda tertentu?

  3. Bisa gak yah bikin lembaga rating swadaya pake tehnologi yg ada kayak plurk atau twitter?

  4. Jika eksekutif stasiun TV membaca buku Blue Ocean, mungkin mereka akan mulai membuat TV yang segmented. Mulai bergerak mencari niche masing2 daripada bertarung di Red Ocean. Seperti Metro TV yang terspesialisasi di berita, dan TVOne di berita dan olahraga.

    Masalahnya, mereka kuat nggak bikin TV publik yang semacam itu? Saya jarang nonton TVOne, tapi Metro TV saja sekarang saya lihat terpaksa jualan airtime gila2an buat advertorial properti…mungkin buat mensubsidi tayangan2 nonprofitnya yang saya akui memang bagus.

    Di sisi lain, kalau sasarannya adalah kalangan middle-up, saya kira mayoritas dari mereka sudah mampu pake TV kabel yang biaya langganannya relatif terjangkau untuk demografi itu (berapa sih sekarang? 100-150an ribu per bulan ya?). Saat ini malah ada beberapa stasiun TV lokal yang khusus kabel kan?

  5. @galih
    Nggak perlu sepertinya. Cuman demografi dan metode surveynya harus diperjelas. Aku yakin data mereka tepat, tapi sayang tidak spesifik.

    @Galeshka
    Metod penelitiannya gimana?

    @Catshade
    Nah… malah aku di situlah untungnya. Kalau pasarnya jelas pengiklan nggak sayang duit bikin advetorial gila2an.

    Anyway, aku juga sedang mempertimbangkan TV Kabel. Tapi yang plus Internet.😛
    Memilih TV kabel juga susah, si A ada liga Inggris tapi yang lainnya jelek, si B bagus, sayang nggak ada liga Inggris, si C nggak ada Star trus yang lain MNC yang nggak ada, dll.
    Pusing milihnya😦

  6. #dnial#
    intinya memang kamu yang terlalu banyak maunya dan😛

    kalau kamu seperti katamu (walaupun terlalu berlebihan) “hunger for information” ya cari dong. Dimana-mana sudah kodrat kalau orang yang punya keinginan llebih untuk dituntut berkorban lebih😛

    dulu acara tv bermutu, karena orang yang mau menonton tv dituntut berkorban lebih (harganya mahal). Sekarang, karena harga tv sudah seperti kacang goreng, ya kalau mau tontonan bermutu berkorbanlah lebih😀 (langganan 5 provider tv kabel misalnya😛 )

  7. Beruntunglah acara tv sekarang sampah semua karena saya jadi lebih banyak baca buku dan memberi uang ke mas2 pedagang dvd bajakan. Itung2 memakmurkan mas2 itulah. Hehehe…

  8. @mardun
    Kan quote di awal komen #1 sudah menjabarkan solusi sementaraku, dun. Moco buku 😛
    Teori ekonomimu boleh juga, dun..

    *menjura*

    @KiMi
    Sepakat. Memang sudah saatnya TV berbagi rejeki.😛

  9. namanya Indonesia, ya emang harus menghadapi persoalan kayak gitu. “sudah dikasih gratis kok ya masih aja protes”, gitu kali ya yang ada dipikirannya eksekutif TV :mrgreen: tapi yo mau gimana lagi, lha wong pemasukkan channel-channel gratis di Indonesia ya cuman dari iklan doang… jadi hak mereka untuk menyiarkan konten-konten apa saja.

    lain kayak di Amerika dkk yang selain ada channel gratis, ada juga channel berbayar (kayak Indovision lah). jadi kayak jare mardun tadi, dan juga, pemirsa bisa memilih mana channel yang cocok dan bermanfaat buat mereka.

    ya solusi buat geeks and nerds di Indonesia, baca buku koyok jaremu toh?😛

  10. u r such a geek *sambil nyawat pembalut*

  11. OOT kakak, kok ada yang nyawat pake pembalut?

    benerbenerbingung

  12. nonton tv kebanyakan malah bikin bego, aku cuma nonton berita dan pelem, itu jg milih2

  13. Siapa sih di Indonesia yang ini nggak punya akses ke TV?

    Akses maksudnya? Well, saya gak punya TV loh. Beneran. Hampir gak pernah lagi pulang kerja nonton TV selama setahun terakhir.

  14. @dr
    Lha pemasukan kan dari iklan. Iklan baru masuk kalo ada yang nonton.
    Konsumen adalah raja😛

    @Wina
    And you call that an insult?

    @Setanalas
    Biasa lah din… lempar2an bom, pembalut…

    @Hedi
    Awal2 bioskop transtv filmnya bagus2… lama2 tidak minat lagi.

    @gentole
    Maksudnya akses ke TV bukan berarti harus punya TV. Kalo nggak ada di rumah kan bisa ke warung, kantor, atau kantor Lurah terdekat.

  15. @setanalas
    memang semenjak ke Jakarta daniel sudah melampaui batas batas “manusia biasa”😛

  16. guyon pak. kita kan guyonnya sadis2an.

  17. @mardun:
    benar… tinggal nyari pengikut aja tuh… atau… jangan2 si udin sudah terpengaruh ya😛

    @dnial:
    ndak juga tuh… liat aja kasus EPL kemaren… “konsumen adalah raja?” yang bener “uang adalah raja” kalee…:mrgreen:

  18. jare pak de ku sing duwe perusahaane tv, “lah piye yo le, awakku lak manut opo jare pasar (mbuh pasar sing ndi). Awakku nayangno acara2 koyo ngono yo soale ono sing mbayari, yo sing masang2 iklan iku. Ketokane de’e seneng2 ae karo acaraku. Lah trus lapo awakku ngrungo’no wong2 koyo awakmu sing gak mbayari aku, sing iso’e cuma ngomel thok…”

    hehe…ceritanya ni terjadi setelah acara pojok kampung jtv🙂

  19. @dr
    Lagian kalo mau nonton EPL juga bisa di TVOne. Pengen nonton big match EPL? Lha kayak katanya Mardun, kalo mau lebih ya berkorban lebih, langganan Aora.

    Kalo manusia biasa seperti saya kan cukup nonton Indonesia Super League. Dan beberapa partai EPL di TVOne kalau kebetulan yang diputer adalah Liverpool.😛

  20. kalo soal rating, setau saya memang msh di dominasi AC nielson, biasanya report keluar saban Rabo (makanya kebanyakan tipi swasta rapatnya hr Rabo),
    metodenya ini yg jd masalah…, pengamat media mulai skeptis pd ACN.
    banyak kok yg sudah mengkritisi hal ini (effendi ghazali pernah ngomongin ini di kompas)

    soal pemirsa,
    hmmmm🙄 jadi keinget bullet theory, inilah pentingnya media literacy, sudah jamannya kendali ditangan audience, istilah komunikasinya uses & gratification, pemirsa yg memilih tontonannya & bukan sebaliknya.

  1. Ping-balik: Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab? « A Sort of Homecoming

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: