Tentang Sebuah Sumur

Di sebuah desa terpencil hiduplah seorang bernama Joko. Suatu hari seorang pertapa datang ke desa itu dan bersabda bahwa sumur di tengah desa itu telah tercemar dan setiap orang yang meminumnya perlahan-lahan akan menjadi gila. Semua orang, kecuali Joko, menganggap pertapa tua itu gila dan mengusirnya. Joko mempercayai orang tua itu dan membuat sumur sendiri di rumahnya.

Hari-hari berlalu dan orang-orang di desa itu menjalani kehidupan dengan normal dan mengambil air minum dari sumur di tengah desa, kecuali Joko. Perlahan-lahan ucapan sang pertapa tua itu terbukti. Orang-orang mulai menjadi gila. Kecuali Joko.

Kekacauan mulai terjadi di desa itu karena mereka mulai gila. Orang-orang mulai menyanyi-nyanyi seperti orang mabuk di jalan, ada yang berjalan telanjang, ada yang saling memukul, ada yang meloncat-loncat seperti monyet, kecuali Joko.

Semakin lama, desa itu semakin kacau. Dan Joko berusaha membereskan kekacauan itu. Dia memakaikan pakaian pada orang2 yang berkeliaran telanjang dan menenangkan mereka yang berkelahi. Konyolnya bukannya berterimakasih mereka malah mencela Joko, “Joko Gila! Joko Gila!”

Akhirnya desa itu bisa saling menyesuaikan diri, tapi Joko, satu-satunya yang tidak minum dari sumur itu semakin terpencil dari lingkungannya. Setiap kali dia berjalan di desa dia mendengar mereka berbisik,”Gila! Gila!” Kadang-kadang mereka melemparinya dengan buah-buahan atau malah batu sambil meloncat-loncat seperti anak kecil dan berteriak, “Ada orang gila! Ada orang gila!”

Semakin lama Joko jengah dan tidak tahan juga. Menjadi satu-satunya orang normal di tengah orang gila membuatnya setengah gila. Akhirnya, dia memenuhi setengah yang lain dengan meneguk air dari sumur itu.

– Seingatku aku membaca cerita ini di sebuah renungan harian entah berapa tahun yang lalu, dibangun ulang dengan ingatan dan kreativitas –

Sebuah pertanyaan terngiang apakah jika semua orang melakukan hal yang sama akan membuat hal itu benar?

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 6 November, 2008, in review. Bookmark the permalink. 18 Komentar.

  1. Syair ronggo warsito.

    Saiki jamane jaman edan
    Yen ora edan ora keduman
    Sak bejo bejone wong kang edan
    Isih bejo wong kang eling lan waspodo

  2. Saya baca di ‘Burung Berkicau’, Anthony de Mello, saya malah inget Soe Hok Gie tiap baca kisah ini

  3. Haha… thanks..
    Ntar saya cari bukunya.

  4. Ealah, buku-buku macam begini to yang mempengaruhi pola pikirmu?

  5. Kalau masyarakat yang meminum air sumur itu lama-kelamaan jadi chaos, anarkis, destruktif, dan akhirnya menghancurkan tatanan sosialnya sendiri… saya kira cukup obyektif untuk tetap bilang kalau merekalah yang gila dan joko-lah yang waras.😀

  6. @galih
    Pola pikir adalah sintesis dari apa yang dipelajari dan apa yang dialami.😛

    @catshade
    Tapi…
    Tuhan akan menjatuhnya mazhabnya sebelum itu terjadi.😛

    Back to serius :
    Sepertinya tidak bakal, kecuali tipikal kegilaannya psikopat seperti Joker.
    Mungkin mereka akan membentuk komunitas, komunitas psikopat, komunitas binatang, komunitas pelompat, komunitas anarkis, komunitas delusional, dll. Lalu saling menyerang antar komunitas sampai salah satu menang atau tercapai kesepakatan sosial.

    *but that will make them sane, right?*

    Madman paradox?😆

  7. ho oh bener bener.. dulu waktu kecil bapak ku juga pernah cerita ini

  8. kalo begitu, kenapa Joko tidak pindah saja?🙄

  9. si jokolah yang tetap waras…

  10. suruh joko pindah aja ke tempat laen

  11. Tuhan akan menjatuhnya mazhabnya sebelum itu terjadi.

    Maksudnya azab, bung? Mazhab mah “school of thought”, kalih.😀

    *berpikir ngirim imel ke nguping jakarta*

    Ah, tapi mas dnial pasti sudah tahu dan memang berniat bercanda, atau memang itu ngutip nguping jakarta?

    *kecewa*

  12. Semestinya pada titik tertentu (bila orang-orang terus minum air dari sumur sumber kegilaan itu), akan ada titik balik yang akan membuat Joko bersyukur sudah ikut minum seperti yang lain..

    Lagipula, bukannya “gila” hanya suatu anggapan yang diciptakan? toh pada dirinya ia “normal”.

    Lieur, rieut….😦

  13. @takochan, wina
    That’s the problem with analogy. Dan kenapa debat dianjurkan tidak menggunakan analogi.

    @gentole
    Honest mistake, sir!

    @ulan
    Ada cerita lain yang menarik?

    @kenz

    Lagipula, bukannya “gila” hanya suatu anggapan yang diciptakan? toh pada dirinya ia “normal”.

    Pertanyaan itu filosofis.😛
    Pertanyaan itu pernah disinggung di sebuah buku,”Jika seseorang gila, bagaimana caranya dia sadar kalau dia gila?”
    Religious War-nya Scott Adams kalau nggak salah, yang mbikin Dillbert.

  14. G Joko Hendriarto kah?😛

    btw btw…. gila itu enak loh, bebas dari jerat hukum, bebas dari neraka, dll😛

  15. baca postingan ini sambil denger lagunya Green Day : I wanna be the minority🙂

  16. @mardun

    Appeal to insanity? Wekekeke…..

    @nRa
    Asline judule mau aku kasih About Minority of One… Tapi setelah dipikir2, yang ini lebih bagus.

  17. ^-^ yg dianggap wajar (mayoritas) itu tidak selalu berarti benar kan bro..
    anw, nice story, salam kenal ^-^

  18. thanks ya atas informasinya….blog yang bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: