Tentang Laki-laki dan Perang

Sebelumnya silahkan baca sebuah artikel yang judulnya cukup mengerikan “Papua New Guinea women kill males babies to end tribal war“.

Beberapa kutipan :

Rona Luke and Kipiyona Belas, from two warring tribes, said male infanticide reduced the cyclical payback violence infamous in Highlands tribal fights.

If women stopped producing males, their tribe’s stock would go down and this would force the men to end their fight, the women said.

[…]

Ms Belas said getting food was hard as husbands kept fighting and mothers and children were left to fend for themselves.

[…]

This situation shows the extreme frustration the women have with the men in these areas,” a spokesman said.

Aku miris melihat kebenaran ini, Pria memang sumber perang di dunia!

Mungkin suatu saat nanti semua wanita di dunia muak dengan laki2 dan perang dan memutuskan untuk membunuh semua bayi laki-laki. Untuk reproduksi? Sekarang kan ada bank sperma.

Okey back to reality,

Perang suku ini memang menyengsarakan, dan di artikel itu pula disebutkan bahwa perang suku itu dimulai tahun 1986(!) dan upaya dari Salvation Army untuk mendamaikan kedua suku tidak berhasil. Istri dan anak mereka ditinggal kelaparan sementara para suami pergi berperang. Akhirnya mereka(para istri) frustasi dan memutuskan untuk membantai bayi laki2.

Pertanyaan moral tentang pembantaian ini akan susah dijawab.  Apakah secara moral benar membunuh anak laki2 agar perang berakhir? Tapi pertanyaan lainnya juga perlu dijawab, apakah benar secara moral jika suami meninggalkan anak-istrinya kelaparan untuk berperang dan memenuhi hasrat egonya apapun alasan perang itu, apalagi kalau “cuma” balas dendam?

Mengingatkan akan sesuatu?

Info via digg.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 2 Desember, 2008, in idealist, life, small talk, writting and tagged , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. War is something absurd, useless, that nothing can justify.

    – Louis de Cazenave, french veteran of World War I, in [1] BBC News report (2005)]

  2. Yang pertama jadi korban perang itu adalah kebenaran. Berikutnya wanita dan anak-anak…😦 Tapi memang yang namanya perempuan itu bener-bener agent of change yang sangat efektif dalam menciptakan dan memelihara perdamaian. Di Afrika, Aceh, peran perempuan sudah teruji…

    …tapi yang di Papua Nugini ini…ah, sungguh-sungguh menyedihkan dan penuh keputusasaan…😦

    Apakah secara moral benar membunuh anak laki2 agar perang berakhir? Tapi pertanyaan lainnya juga perlu dijawab, apakah benar secara moral jika suami meninggalkan anak-istrinya kelaparan untuk berperang dan memenuhi hasrat egonya apapun alasan perang itu, apalagi kalau “cuma” balas dendam?

    Di satu sisi, the end doesn’t justify the means. Di sisi lain, a long-term peace for all is preferable than a short-term peace for a few. Tentu harus dilihat pula gimana kegagalan-kegagalan penyelesaian normal di masa lalu dan sejauh mana efektivitas ‘solusi’ para perempuan Papua Nugini ini di masa depan…😕

  3. hmmm inget tentang apa ya?

  4. kalau laki-lakinya sudah habis entar juga perempuannya yang bakal perang….. gak ada hubungannya sama jenis kelamin kok😛

  5. kalau laki-lakinya sudah habis entar juga perempuannya yang bakal perang….. gak ada hubungannya sama jenis kelamin kok😛

    Jenis kelamin memang gak ada hubungannya ama niat berperang, tapi secara historis, laki-lakilah yang hampir selalu memulai perang. Tentu fakta bahwa kebanyakan budaya bersifat patriarkis dan secara biologis hormon testosteron membuatnya lebih agresif kemudian membuat jenis kelamin laki-laki begitu gampang diasosiasikan dengan peperangan.

  6. itu pernah juga dibuat waktu perang etnis di kalimantan dulu🙂

  7. @Catshade
    Rasanya susah. Tradisi dan balas dendam bicara.

    @dr
    Trio bomber?

    @mardun
    Tapi cewek kalo perang nggak bunuh2an bos.. Paling cuman jambak2an. Dan pasti berhenti kalau anaknya menagis.😀

    @Hedi
    Trus? Berhenti nggak perangnya?

  8. memang selama ini perang kebanyakan dimulai oleh laki-laki… karena laki-laki selalu mendominasi.

    Nah kalau laki-lakinya sudah dihabisi….. sedikit atau banyak juga pasti kaum wanita akan memulai perang.

    karena pada hakikatnya dalam diri manusia (sedikit atau banyak) pasti tersimpan suatu rasa “tidak mau kalah dari orang lain”. biasanya hal-hal seperti inilah yang kalau tidak dimanage dengan baik akan berujung pada perang.

  9. ah..perang2 trus kapan damainya..

  10. eh, masak cuman jambak-jambakan? inget geng nero? wah jambak-jambakan sudah lewat tuh sama mereka :))

    @andy: damainya ya kalo dah nyampe di surga ato neraka bos:mrgreen:

  11. Jadi inget satu humor (waktu ada tugas kursus Bahasa kemarin) :
    Satu Laki-laki di Surga –> Satu Malaikat
    Dua Laki-laki di Surga —> Dua Malaikat
    ….
    Semua Laki-laki di Surga –> Damai di Bumi…
    😐😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: