Tentang Jualan Online (0)

Beberapa waktu yang lalu, aku mengajukan pertanyaan seputar Web 2.0 ke milis angkatan yang aku ikuti. Hasilnya cukup banyak untuk bisa memulai sebuah post tentang Web 2.0, tapi kita simpan dulu ulasan lengkapnya. Kali ini kita akan membahas sedikit tentang bisnis online.

Bisnis online di sini kita definisikan secara sederhana dan semena-mena dengan “Bisnis apapun yang menggunakan Internet sebagai salah satu medianya.”

Secara sederhana dan semena-mena, kita bisa mengelompokan model bisnis online menjadi 4 tergantung dari pemanfaatan website mereka :

  1. Website sebagai portal informasi dan komunikasi produk. Hal ini bisa dilihat di berbagai website perusahaan. Mereka menggunakan website untuk mempromosikan layanan ataupun produk mereka di dunia offlline. Contoh : various website.
  2. Website sebagai lahan jualan alternatif. Perusahaan/perorangan memanfaatkan website (jalur online) sebagai layanan alternatif pembelian selain jalur offline. Contohnya, perusahaan penerbangan seperti Garuda Indonesia, Mandala, Batavia, Citylink memungkinkan kita untuk memesan tiket dari websitenya selain dari agen perjalanan atau kantor mereka, lalu beberapa toko buku (seperti Leksika) memungkinkan pembeli melakukan transaksi pembelian buku di website mereka.
  3. Website sebagai lahan jualan satu-satunya. Perusahaan/perorangan ini tidak punya layanan penjualan offline. Contoh beberapa situs penjual buku macam Amazon atau untuk yang lokal kutukutubuku, atau untuk yang agak berbeda FJB (Forum Jual-Beli) di Kaskus dan berbagai macam situs penjualan di Multiply.
  4. Monetizing Website. Website sebagai situs penjual informasi, atau layanan online. Uang datang dari iklan, dan biaya langganan premium. Contoh kaskus.com, dan berbagai situs yang berusaha mendulang dollar dari adsense.

Untuk yang nomor 1 dan 4  itu butuh penjelasan panjang x lebar x tinggi untuk penjelasan mendetail, jadi kita simpan dulu untuk saat ini (sebenarnya aku belum cukup data riset untuk itu). Kita fokus ke model bisnis nomor 2 dan 3, jualan barang karena itulah judul post ini “tentang jualan online”.

Begitu aku melihat model bisnis seperti itu yang terbayang ada 2 masalah dalam model bisnis ini, sistem pembayaran dan membangun kepercayaan.

Untuk FJB di Kaskus misalnya, sering terjadi kasus penipuan di sana. Hal ini mendorong beberapa admin untuk membuat sistem perantara untuk menangkalnya. Jadi sistemnya gini, saat pembeli dan penjual sepakat untuk dalam harga, pembeli mentransfer uang pembayaran ke perantara lalu melakukan konfirmasi ke penjual. Penjual lalu mengirim barang, saat pembeli menerima barang, pembeli melakukan konfirmasi lagi ke perantara bahwa barang telah diterima, lalu perantara akan mentransfer uang pembayaran ke penjual.

So, who watch the watcher?

Kepercayaan adalah kata kunci di dalam komunitas FJB Kaskus. Perantara dipilih dari beberapa anggota Kaskus yang terpercaya. Dan tentu saja, mereka mendapatkan fee dari jasa perantara ini.

Yang tidak ingin memakai perantara? Boleh dengan resiko ditanggung sendiri.

Untuk mereka yang tidak memakai perantara, biasanya memang terpercaya. Setiap transaksi yang sukses, pembeli biasanya memberikan “testimoni” untuk meningkatkan kredibilitas penjual. Jadi, semakin banyak “testimoni” maka reputasi penjual semakin terpercaya.

Itulah keunggulan komunitas.

Bagaimana dengan sistem di luar FJB Kaskus?

Beberapa perusahaan besar (seperti maskapai penerbangan yang aku sebutkan di awal) mempunyai kerjasama dengan berbagai Bank. Untuk Mandala contohnya, setelah sukses melakukan transaksi kita bisa melakukan pembayaran via ATM. Alternatif lain bisa lewat kartu kredit atau metode pembayaran lain (debit misalnya) yang hanya dibatasi kerjasama yang dilakukan perusahaan itu.

Tapi itu kan kalau perusahaannya besar…

Kalau perusahaannya kecil biasanya memilih metode yang lebih sederhana, transfer di depan atau COD (Cash On Delivery). Masyarakat di Indonesia masih belum familiar dengan metode pembayaran dengan kartu kredit sehingga pembayaran dengan kartu kredit masih jarang, padahal setelah aku pelajari pembayaran dengan kartu kredit jika dilakukan dengan bisa mengurangi penipuan, tapi itu cerita lain.

Untuk transfer di depan biasanya rawan fraud dari penjual, untuk COD biasanya terkendala armada pengiriman dari perusahaan yang terbatas dan rawan fraud dari pembeli, apalagi kalau one-person seller, nangis darah kalau harus keliling Jakarta saja.

Kata kunci di sini adalah kepercayaan. Seorang penjual harus bisa dipercaya pembeli dan pembeli juga harus bisa dipercaya penjual.

(To Be Continue)

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 15 Desember, 2008, in experience, IT, life, writting and tagged , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Trust everyone – just don’t trust the devil inside them
    – The Italian Job –

  2. Ya, memang sulit menumbuhkan kepercayaan…
    Sampai sekarang saya masih ragu-ragu kalau beli sesuatu di ranah maya…

  3. klo beli baru, okelah di FJB… tapi kalo bekas, mikir2 dulu yah saudara2 sekalian (sudah pengalaman di FJB soale:mrgreen: )

  4. FJB di BBS aja, whehehe
    btw … gimana yah kabarnya bbs?

  5. @Ardianto
    Mau alam maya atau alam nyata, kalau beli barang memang harus hati2.😀

    @dr
    Kalau bekas harus cek kualitas dulu bos… agak susah memang kalau maya.
    Tapi ebay laku tuh…

    @nRa
    Mboh… tanya yang masih di sby, bos!😛

  6. Trust in God, but lock your car😛

  1. Ping-balik: Tentang Jualan Online (1) « Zero Reality

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: