Monthly Archives: Januari 2009

Tentang Gaza dan Makanan Amerika

“Kami membenci dan tidak menyukai kebijakan Amerika bukan makanannya,” tutur Ali(21) sambil memakan cheesburger.
Kompas 25 Januari 2009 –

Komentar biasa jika Ali hidup di Indonesia, tapi jadi luar biasa karena Ali adalah warga Palestina yang tinggal di Gaza.

Touché !

Dan kita ribut memboikot produk AS. Dunia memang aneh…

Tentang Tes Obyektif : Ide untuk Meningkatkan Kualitas Tes Obyektif

Bagi para calon PNS, pelajar, mahasiswa, atau pencari kerja pasti akrab dengan yang namanya tes obyektif. Kita diberikan banyak soal, yang kadang hampir tidak mungkin kita kerjakan semua, diberi batas waktu, dan soalnya pasti pilihan ganda.

Salah satu contoh soal obyektif adalah :
Siapa presiden AS sekarang ?
a. George W Bush
b. George HW Bush
c. Barack H Obama
d. Al Gore
e. John McCain

Tergantung kapan soalnya keluar jawabannya bisa a, b atau c. Atau d jika kamu merasa sebal dengan pemilu AS tahun 2000.

Kelebihan tes obyektif
Kelebihan tes obyektif yang paling kentara adalah, mengoreksinya cepat. Untuk membuat soal memang susah, tergantung ada tidaknya bank soal yang bagus dari pihak pemberi tes.
Selain itu untuk peserta tes, jika tidak ada penalti untuk soal yang salah kita bisa memberi jawaban acak. Kemungkinan benarnya juga cukup bagus 20% (jika lima soal)

Kelemahan tes obyektif
Kelemahan paling mendasar dari tes obyektif adalah semua soal dianggap sama. Apakah susah atau mudah tetap dinilai 1 poin. Hal ini membuat salah satu strategi utama untuk mengerjakan tes obyektif adalah : Kerjakan yang mudah, baru yang susah selama bisa dikerjakan, acak sisanya. Hal ini menurutku gagal menilai dengan baik kemampuan seseorang. Mari kita lihat contohnya.

So ? Read the rest of this entry

Tentang Darfur : Sebuah Genosida

Saat mata dunia terarah ke konflik tak berujung di Palestina. Ketika 2 ekor teroris Israel dan Hamas berperang dengan warga sipil Gaza sebagai korban. Di Afrika, sebuah negara berteriak kesakitan, mengerang karena genosida yang terjadi di sana.

Negara itu bernama Sudan, dan daerah yang mengerang itu disebut Darfur. Daerah Darfur telah masuk dalam daerah krisis kemanusiaan sejak 2003. Perkiraan korbannya bervariasi angkanya sekitar 100 ribu sampai 500 ribu jiwa dengan 2,5 juta jiwa kehilangan tempat tinggal. Baik oleh pembantaian langsung maupun karena penyakit dan kelaparan. Dengan death toll yang tinggi di sana, Gaza seakan hanyalah perkelahian anak kecil. Cukup untuk masuk nominasi sadis bangaip. Read the rest of this entry

Tentang Uang Kecil (1) : Ekonomi Permen

Masa kuliah adalah masa yang paling indah dan menyengsarakan. Seorang mahasiswa harus hidup dengan uang seadanya, dan berkelit mengatasi kelaparan dan kekurangan duit.Komunikasi saat itu adalah kebutuhan sekunder dan kadang primer (terutama saat akhir bulan atau kekurangan duit untuk minta dana tambahan dari ortu) .

Wartel adalah salah satu solusi telekomunikasi yang murah meriah. Tapi kadang wartel sangat menyebalkan. Pembulatan ke atas dan permen sebagai pengganti uang membuat kita rugi. Setelah membaca komen posting kemarin aku teringat kisah seorang teman kerja.

Pada suatu hari, sebut saja Luffy butuh menelpon sang kekasih di ujung telepon sana. Dia pergi ke sebuah wartel dan mulai menelpon. Bincang-bincang berlangsung lama, sampai akhirnya Luffy harus membayar.

Penjaga Wartel : Mas, 50-nya nggak ada, permen aja ya…

Luffy : Ya udah.

Selama seminggu, 2 minggu, hal ini terus berulang, kembalian nggak ada dan diganti permen. Sampai akhir bulan, ketika manusia kuliahan mulai kesulitan keuangan, tapi telekomunikasi menjadi kebutuhan primer untuk menjaga kelangsungan hubungan asmara.

Penjaga Wartel : Mas, semuanya tiga ribu rupiah.

Luffy : *Mengeluarkan permen sebungkus plastik penuh dari tasnya, mulai menghitung permen agar pas 3000 rupiah* Nih…

Penjaga Wartel : Lho kok permen mas?

Luffy : Itu permen kembalian dari sini sejak sebulan terakhir! Masak nggak mau nerima?

Penjaga Wartel : ????

Moral cerita : Kalau nggak mau dikasih duit permen, jangan ngasih permen sebagai ganti kembalian.

Tentang Uang Kecil

Seringkali waktu kita membayar di sesuatu, entah kantin, warung atau toko, kita nggak punya uang pas. Capek memang selalu menanggapi pertanyaan “Ada uang kecil, mas/mbak?” Tapi mungkin juga sang penjual juga capek menghadapi orang yang beli barang lima ratus rupiah tapi mbayar dengan uang seratus ribuan.

So, daripada saling bertukar kesebalan, mari memberi keceriaan. Kalau aku bosan aku sering nyoba cara-cara ini:

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : *Memberi uang yang nominalnya lebih kecil*

Standar sih…

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : Bawa aja deh kembaliannya

Yang ini kalau lagi (sok) kaya.

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : *menarik uang 20rb dan mengganti dengan 500-an yang jelas nggak cukup*

Mulai ngaco.

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : *Melipat-lipat uang 50-ribuan jadi kecil lalu menyerahkan*

Lalu gimana lagi?

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : Ini perlu digunting gitu?

Not so briliant.

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : Waduh yang lainnya masih segedhe koran bu! Kemarin baru ngambil dari Bank belum dipotong-potong. Mau?

Oke.. mulai jayus. Tapi satu lagi dari teman kerjaku yang memang berbadan besar:

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Teman kerja : Lha orangnya besar, uangnya harus besar dong!

Alternatifnya,

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Teman kerja : Lha orangnya kecil, masak uangnya harus kecil juga?

Beberapa dari jawaban itu bisa menyebarkan virus senyum (sebal campur senang, campuran yang bagus). Untuk beberapa penjual, cuman rasa sebal.

Ada yang punya respon lain untuk pertanyaan itu?