Tentang Uang Kecil

Seringkali waktu kita membayar di sesuatu, entah kantin, warung atau toko, kita nggak punya uang pas. Capek memang selalu menanggapi pertanyaan “Ada uang kecil, mas/mbak?” Tapi mungkin juga sang penjual juga capek menghadapi orang yang beli barang lima ratus rupiah tapi mbayar dengan uang seratus ribuan.

So, daripada saling bertukar kesebalan, mari memberi keceriaan. Kalau aku bosan aku sering nyoba cara-cara ini:

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : *Memberi uang yang nominalnya lebih kecil*

Standar sih…

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : Bawa aja deh kembaliannya

Yang ini kalau lagi (sok) kaya.

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : *menarik uang 20rb dan mengganti dengan 500-an yang jelas nggak cukup*

Mulai ngaco.

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : *Melipat-lipat uang 50-ribuan jadi kecil lalu menyerahkan*

Lalu gimana lagi?

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : Ini perlu digunting gitu?

Not so briliant.

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Aku : Waduh yang lainnya masih segedhe koran bu! Kemarin baru ngambil dari Bank belum dipotong-potong. Mau?

Oke.. mulai jayus. Tapi satu lagi dari teman kerjaku yang memang berbadan besar:

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Teman kerja : Lha orangnya besar, uangnya harus besar dong!

Alternatifnya,

Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
Teman kerja : Lha orangnya kecil, masak uangnya harus kecil juga?

Beberapa dari jawaban itu bisa menyebarkan virus senyum (sebal campur senang, campuran yang bagus). Untuk beberapa penjual, cuman rasa sebal.

Ada yang punya respon lain untuk pertanyaan itu?

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 9 Januari, 2009, in experience, jayus, joke, life, small talk. Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. “kalau nggak ada, boleh ngutang gak pak/bu/mas/mbak?”

  2. Hanya Danial yang bisa bikin postingan kayak begini🙂

  3. “bayar pake permen bisa gak?”
    *cuma di Indo permen bisa jadi alat tukar yang sah … hahahaha

  4. Gw : ‘Situ gak ada kembaliannya ? Yah udah, saya gak jadi beli deh’

    Lebih sering gw cari SBPU terdekat kalo nuker uang kecil.

  5. Penjual : Ada uang kecil, mas/mbak?
    Aku : Wah, ndak ada uang kecil. Ganti permen, bisa?

  6. @mardun
    Itu kalau udah buka rekening.😛

    @galih
    Maksud Lo?

    @nRa dan cK
    Jadi posting sendiri tuh…😛

    @hawe69
    Wekekeke… kalau udah kadung dimakan? Gimana coba?
    Biasanya diskusi macam gini sama penjual di kantin soale…

  7. se7 ama nRa, kalo kita sering dikasi kembalian berupa permen, kenapa ga kita kasi aja permen juga ke mereka??

  8. @see my next post.😛

  9. thats wai Dan, aku membuat social networking dengan sejumlah pengemis yang berkeliaran berdinas di seputaran keputih.
    dari mereka, aku dapat uagn receh yang mayan cukup buwat kembalian di warnet.
    😉

  10. ben gak onok wong nggapleki sing ngomong ate nggunting duwek utowo operator sing ngomong “ada uang kecil mas?”

  11. @chiw
    Hohoho.. Jaringan para pengemis bisa dijadikan bahan pertimbangan.
    Eniwei… koyoke yang ngomong gitu maksudnya nggoda kamu deh siw…
    Wekekekeke…..

  12. hehehe…
    ada uang kecil mbak?
    wah, gak ada.uangnyah dah tumbuh jadi gede semua

    buleh,kok nuker ke saya karena celengan ayam saya isinya recehan. suka saya tuker ke alfamart terdekat😀

  13. beneran pernah mraktekin ? seriyus euy?

  14. @ayyashiyahya
    Ada jasa tukeran, nuker 1000 dapet 900 receh.

    @Takodok
    Sebagian iya, sebagian dari teman.😀

  1. Ping-balik: Tentang Uang Kecil (1) : Ekonomi Permen « Zero Reality

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: