Tentang Uang Kecil (1) : Ekonomi Permen

Masa kuliah adalah masa yang paling indah dan menyengsarakan. Seorang mahasiswa harus hidup dengan uang seadanya, dan berkelit mengatasi kelaparan dan kekurangan duit.Komunikasi saat itu adalah kebutuhan sekunder dan kadang primer (terutama saat akhir bulan atau kekurangan duit untuk minta dana tambahan dari ortu) .

Wartel adalah salah satu solusi telekomunikasi yang murah meriah. Tapi kadang wartel sangat menyebalkan. Pembulatan ke atas dan permen sebagai pengganti uang membuat kita rugi. Setelah membaca komen posting kemarin aku teringat kisah seorang teman kerja.

Pada suatu hari, sebut saja Luffy butuh menelpon sang kekasih di ujung telepon sana. Dia pergi ke sebuah wartel dan mulai menelpon. Bincang-bincang berlangsung lama, sampai akhirnya Luffy harus membayar.

Penjaga Wartel : Mas, 50-nya nggak ada, permen aja ya…

Luffy : Ya udah.

Selama seminggu, 2 minggu, hal ini terus berulang, kembalian nggak ada dan diganti permen. Sampai akhir bulan, ketika manusia kuliahan mulai kesulitan keuangan, tapi telekomunikasi menjadi kebutuhan primer untuk menjaga kelangsungan hubungan asmara.

Penjaga Wartel : Mas, semuanya tiga ribu rupiah.

Luffy : *Mengeluarkan permen sebungkus plastik penuh dari tasnya, mulai menghitung permen agar pas 3000 rupiah* Nih…

Penjaga Wartel : Lho kok permen mas?

Luffy : Itu permen kembalian dari sini sejak sebulan terakhir! Masak nggak mau nerima?

Penjaga Wartel : ????

Moral cerita : Kalau nggak mau dikasih duit permen, jangan ngasih permen sebagai ganti kembalian.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 12 Januari, 2009, in experience, jayus, joke, life and tagged , , . Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. Kudos untuk Pak Bowo sebagai sumber cerita.

  2. Kita berhak menolak permen sebagai kembalian secara permen bukan alat pembayaran yang sah. Tapi kalo bener2 ga ada kembalian terpaksa mengikhlaskan kembalian ato terpaksa nerima permen itu.
    Kalo kita ngebales bayar pake permen, emang mau si vendor?!

  3. Padahal kalau harganya dibulatkan ke atas per 100 rupiah rasanya konsumen gak bakal sadar dan ngeluh…😛

  4. @wina
    Nah… kan di akhir cerita mbayarnya pakai permen.😛

    @catshade
    Kadang 100 itu juga diganti 2 butir permen.😦

  5. Masalah ini sedang dibahas di tabloid Nova edisi hari ini (1090/XXI | 12-18 Jan 9)
    Tapi tentu saja fokusnya pada kasus serupa di jaringan ritel/supermarket macam Alfamart, Ramayana, Hero dll.
    Katanya sih, pihak supermarket-pun mengalami kesulitan dalam menukarkan uang ke recehan dibawah Rp. 500 di BI.😕

    Buat ritel ada tawaran solusi (non paksaan) ke konsumen supaya kembalian recehannya didonasikan ke yang tak mampu saja. Tapi buat mahasiswa kan penting banget tu recehan.🙂
    Paling bagus ya siapin receh sendiri, ntah gimana caranya…🙄

    Etapi jaman saya masih sering make wartel tahun 2003 di Malang, gak pernah tu kembalian recehannya kurang. Nanti kalo dah banyak ditukar ke uang besar lagi di rental komik yang juga butuh kembalian.:mrgreen:

  6. Untuk ritel/supermarket harusnya selalu stock uang receh. Tapi saya emang dah jarang denger kalo uang pecahan 50 masih beredar? lagian Rp 50 bisa dibeliin apaan ya hari gini:/

    tapi seru juga kalo permen dan coklat bisa dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah hahaha

  7. believe or not, Dan… aku pernah juga mbayar belanjaan di swalayan andalan kampus kita itu, pake permen kembalian dari dia.:mrgreen:

    diterima juga akhirnya…

  8. i love my Indonesia … apa sih yang gak kita punya, semuanya ada disini🙂

  9. @jensen
    Kayak si siwi tuh, tukerin ke pengemis… bukan ke BI.
    Btw, agen mossad bacaannya Nova?😯
    Pasti Nova bagian dari strategi Zionisme! Boikot Nova!!!😆

    @sandymc
    Kalau dikumpulin 10 kan jadi 500. Atau sumbangi ke one coin a chance.

    @chiw
    Setelah otot2an berapa lama tuh?

    @nRa
    Unik, menarik, menyebalkan.😛

  10. emang Negara Indonesia, negara yang aneh🙂

  11. @chiw
    Setelah otot2an berapa lama tuh?

    gak lama kok, antrinya belakang banyak soale.

    jangankan cuman otot ototan sama kasir swalayan, sama preman tukang parkir taman mbungkul aja tak jabani kok…
    😎

  12. @ dnial

    Btw, agen mossad bacaannya Nova?

    Ahem, konsep dasar intelijen adalah pengumpulan informasi; dan membaca (Nova) termasuk mengumpulkan informasi. 😎

    Boikot Nova!!!😆

    Saya juga baca blog ini lho. Boikot juga?😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: