Tentang Darfur : Sebuah Genosida

Saat mata dunia terarah ke konflik tak berujung di Palestina. Ketika 2 ekor teroris Israel dan Hamas berperang dengan warga sipil Gaza sebagai korban. Di Afrika, sebuah negara berteriak kesakitan, mengerang karena genosida yang terjadi di sana.

Negara itu bernama Sudan, dan daerah yang mengerang itu disebut Darfur. Daerah Darfur telah masuk dalam daerah krisis kemanusiaan sejak 2003. Perkiraan korbannya bervariasi angkanya sekitar 100 ribu sampai 500 ribu jiwa dengan 2,5 juta jiwa kehilangan tempat tinggal. Baik oleh pembantaian langsung maupun karena penyakit dan kelaparan. Dengan death toll yang tinggi di sana, Gaza seakan hanyalah perkelahian anak kecil. Cukup untuk masuk nominasi sadis bangaip.

Perang banyak terjadi di Afrika. Penguasa hari ini akan terus-menerus dirongrong oleh pemberontak bersenjata yang merekrut anak-anak sebagai prajurit. Merampas masa depan mereka untuk bermain dan bersenang-senang, diganti dengan perang dan darah.

Kekeringan dan kemiskinan dan overpopulasi menjadi sumber perang di sana. Afrika sangat terik dan perut lapar membuat orang sering lupa diri. Penguasa pun berselingkuh dengan kekuasaan multinasional yang disebut perusahaan minyak. Suatu konflik yang mbulet dan njelimet.

Dunia Internasional seakan tak peduli. Usaha UN dikritik karena hanya setengah hati dan UN berkilah tanpa bantuan pasukan multinasional tidak ada yang bisa dilakukan. AS pun enggan mengirim pasukan, hanya mengirim bantuan kemanusiaan ke sana. Pasukan Uni Afrika yang dikirim pun mulai ditarik karena tidak diperlengkapi dengan senjata memadai untuk melindungi diri.

Masalah pun semakin njelimet karena bantuan kemanusiaan di sana tidak mendapat perlindungan memadai. Korban pun berjatuhan dari mereka yang ingin membantu, membuat organisasi internasional banyak yang menarik diri.

Sebagai negara berpenduduk mayoritas manusia, bukankah Darfour seharusnya mendapat perhatian lebih dari Indonesia? Jika kita bisa berteriak untuk “tawuran anak kecil” di Palestina, kenapa Genosida di Darfour kita diam?

Selamatkan Darfour

Rwanda, Darfour, Nigeria, oh Afrika… kenapa kau terus berperang?

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 13 Januari, 2009, in idealist, life and tagged , , , . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. ‘Never again’ is the rallying cry for all who believe that mankind must speak out against genocide.

    Jon Corzine

  2. Ah, jadi ingat Hotel Rwanda…😦

  3. Mungkin karena sentimen keagamaan di Afrika gak begitu kuat?😕

  4. thanks infonya bro,
    mari kita sosialisasikan berita ini.
    KICK WAR OUT OF THE WORLD!

  5. memang aneh ya
    begitu berapi-api sebagian orang padahal Darfur ini sudah lama dan skalanya lebih besar

    semut diseberang kelihatan
    gajah dipelupuk tidak kelihatan

  6. Posting yang menarik. Saya juga heran di mana pasukan penjaga perdamaian?

  7. *speechless*

    miris yah..

    such ironi..

  8. make a little space to make a better place… heal the world make it a better place for you and for me and the entire human face. there are people dying if you care enough for the living make a better place for you and for me

  9. itu konflik dengan sentimen agama bukan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: