Tentang Cinta : Sebuah Pencarian

“Kenapa kamu masih jomblo? Cari istri sana!” Itulah komentar seorang teman saat kita bertemu di foodcourt Senci, beberapa bulan lalu. Emang cari istri kayak belanja di pasar, tinggal milih? “Ntar lah. Biar mapan dulu” tanggapanmu saat itu. Dia lalu melanjutkan sarannya,”Ojok ngono. Jangan nunggu mapan. Istri kalau dapet waktu mapan biasanya nggak mau diajak susah, kalau kita dapetnya waktu sekarang kan istri juga ngerasain susahnya merangkak dari bawah.” Aku hanya bisa tersenyum mendengar kebijaksanaannya. Pikiranku saat itu masih belum ke sana. Aku masih bingung soal kerja dan mencoba membetahkan diri di Jakarta, tapi temanku sudah menghamili anak orang (legal tentunya, istrinya sendiri kok😀 ).

Valentine dan masih sendiri. Aku kembali merenung, berusaha memahami cinta lewat cerita.  Tapi bukan soal kekasih yang masih tak nampak di mata, soal kata temanku tadi. Maret nanti, seorang teman akan menikah di Cilegon, dan Mei nanti, sahabatku akan mengikat janji setia di Surabaya, mereka telah menemukan tambatan hati mereka.

Temanku yang akan menikah di Cilegon, entah kapan mulai menjalin kasih. Dia di Jepang, sedang calon istrinya di Indonesia. Sedang sahabatku yang akan menikah di Surabaya, aku kenal perjalanan cintanya yang tidak selalu mulus. Pernikahan mereka adalah buah yang manis dari komitmen kesetiaan dari orang yang dulu dikenal sebagai bajul nomor wahid, man among men. Cinta SMU yang bertahan sampai pernikahan sangat jarang. dan jika kisah cinta itu juga dihiasi permainan api yang berakhir dengan maaf dan kesetiaan, kisah itu memang istimewa.

“Cewek kayak gitu langsung diseriusi. Nggak perlu diajak pacaran.” Kataku pada seorang sahabat di YM beberapa waktu lalu. Aku kenal betul tipikal wanita yang dicintai sahabatku itu. Wanita yang tidak mau main-main dengan cinta, bahkan tidak memikirkan cinta. Wanita yang hanya perlu pria yang siap menikahinya. “Kalau siap langsung lamaren, kalau nggak jangan main-main.” saranku.

Aku jadi teringat kisah teman cewekku. Kapan lamaran, kapan tunangan, tiba-tiba ada undangan pernikahan dengan senior di kampus. Padahal temanku ndeketin dia sampai jungkir balik, wanita itu tak bergeming. Akhirnya kami mendera seorang teman yang menjadi biang keladi perkenalan wanita itu dengan suaminya kini. Seorang bunga kampus harus diserahkan ke angkatan atas, sungguh menyebalkan.

Temanku yang satu lagi juga lain lagi kisah cintanya. Terpisah Jakarta-Padang, dia tiba-tiba mengumumkan akan segera menikah. Sahabatnya bercerita di tepian pantai Ancol beberapa waktu yang lalu. Sambil menunggu sepasang pengantin baru, aku dan temanku berbincang sejenak.

“Oktober dan Nopember dia masih tenang-tenang aja” temanku mulai cerita. “Tapi Desember, dia langsung ngomong. Wes mantep aku, kita bakal nikah Januari.” Temanku berani melamar seorang wanita yang baru ditemuinya 5 kali dan hanya berhubungan lewat chatting, tapi memang sang wanita adalah adik kelas saat SMU. “Waktu di bandara mereka masih kelihatan kagok, dia di depan trus ceweknya ngikutin dari belakang, itu sudah nikah padahal. Aku yang nyuruh, pegangen tangannya, tuntunen, temenin. Kalo hilang gimana ?” Saat pasangan suami-istri itu datang, aku sudah tidak melihat kegamangan itu. Mereka bergandengan tangan, berjalan bersama, dan saling melempar canda. Pemandangan yang indah tentang cinta. Kami memanggil wanita itu uni, sebutan Padang untuk kakak perempuan.

“Ada dua jenis pernikahan,” aku menyimpulkan di pinggir pantai Ancol itu. “Menikahi orang yang kamu cintai, atau mencintai orang yang kamu nikahi.”

Tapi masih ada kisah pedih dari seorang wanita yang dikhianati. “Dia sudah berani ngelamar aku, tapi masih bisa selingkuh.” Singkat cerita dalam telepon Surabaya-Bandung waktu itu. Aku mendengar curhatnya selama berjam-jam, tentang cinta, orang ketiga dan pengkhianatan.

Sekali pengakuan sang lelaki masih dia maafkan. “Ya udah, sudah kejadian, kan ? Sekarang sudah enggak kan ?” Lalu perintah lelaki itu untuk tidak berhubungan denganku lagi juga dia turuti. Alasan sahabatku tidak pernah bisa dihubungi selama hampir setahun. “Dia cemburuan. Terutama sama kamu.” Suatu hal yang tidak kupahami, karena aku mengenal kesetiaan sahabatku. Tapi dalam hati aku masih tersenyum, ternyata aku bisa bikin orang cemburu.

“Teman kerjanya di sana. Aku baca komen-komen mereka di Friendster.” ceritanya berlanjut. “Aku suruh dia sholat dulu, minta petunjuk mana yang terbaik. Dan dia memutuskan untuk tetap dengan yang itu.” lanjutnya. “Yang nyebelin, dia bilang, kamu kan cakep, pasti banyak yang mau.” Entah aku harus tertawa atau menonjok muka pria kurang ajar itu. “Nggak nyangka lho. Padahal orangnya pendiem, alim gitu, tapi tahunya brengsek.” simpulnya.

“Kata temennya dia sudah menikah.” Ceritanya beberapa waktu lalu, beberapa bulan setelah curhatnya. “Kamu diundang ?” tanyaku. “Nggak, dikasih tahu pun enggak.” Keinginanku menanam tinjuku ke mukanya semakin tebal.

Aku kembali bertemu dengan sahabatku di Surabaya di sekitaran Lebaran. Dia datang dengan seorang pria. “Lebih baik dari cowokmu dulu.” komentarku singkat, “Lebih terbuka dan humoris.” Sekarang aku tak tahu sampai mana kisah mereka.

Sebuah pengkhianatan ternyata bisa melukai cinta. Dan pria bisa lebih pengecut dari wanita.

“Gimana cowokmu?” tanyaku pada temanku yang lain. “Sudah putus.” jawabnya, “Jadi sekarang kamu jomblo ?” lanjutku. “iya” tegasnya. Aku mengenalnya di saat bertemu di ITS. Sahabatku membawa pacarnya itu. Kami berkenalan dan akhirnya aku sering bareng sama dia naik kereta komuter Surabaya-Sidoarjo, kami bersahabat sejak itu. Sang pria tak lama kemudian mendapat beasiswa ke Jepang, dan mereka LDR. Teladan untuk kesetiaan, anggapku saat itu.

“Jangan dipaksa, dia kan juga butuh waktu sendiri.” hiburku saat sang wanita sebal karena email yang tak kunjung dibalas. “Masak nelpon cuman sebulan sekali. Tapi iya sih, sekali nelpon habis puluhan ribu.” curhatnya suatu saat.

“Kenapa ?” tanyaku di telepon waktu itu. “Kami berbeda mimpi.” jawabnya. Singkat dan apa adanya.

Impian ternyata bisa memisahkan cinta yang bahkan tak terpisahkan jarak.

Dan aku masih mencari sebuah jawaban. C’est quoi l’amour?
Mungkin jawabnya ada di ujung pelangi setelah badai menerpa.

Meski terlambat, Selamat Hari Kasih Sayang. Sudahkah kamu membagikan cinta hari ini ?

PS :

Cerita melompat-lompat dan tanpa nama tokoh memang disengaja. Biar yang tahu tetap tahu yang tidak tahu biar mengerti cerita tanpa tahu orangnya.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 17 Februari, 2009, in experience, life. Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. wooohh… seru juga cerita cerita temen mu ya mas..

  2. Sudahkah kamu membagikan cinta hari ini ?

    Mending juga ceweknya ada…😕

    Hari Kasih Sayang Sux! 😐

    *grumble-grumble*

  3. Kata orang, kisah teman-teman kita membangun hidup kita😀

  4. C’est e la vie, Daniel🙂

  5. mas ceritain kisa mas dong

  6. Wah..wah..aku tau siapa sahabat cewekmu yang dikhianati oleh pelamarnya. Saya termasuk orang pertama yang dicurhati😀
    Emang DISTANCE yang jadi masalah utama buat orang-orang pekerja yang seumuran ama kita. Kadang kita kan dituntut ‘dilempar’ ke tempat entah di mana.
    Aku mau nambahin kisah true love sodara ku. Sejak SMA mereka pacaran LDR trus. GA tanggung-tanggung tuh antara AUS-NZ, trus Bandung-AUS, CGK-SIN, trsu merit sempet LDR juga CGK-AUS. Bayangin aja jaman dulu belom ada ponsel & email. Alhamdulillah sekarang dah ngumpul jadi satu di AUS.
    Kesimpulan: KAPAN KAMU KAWIN?????

  7. owalah Dan…. membongkar aib banyak orang kowe kie ceritane (sik ngakak abis-abisan membayangkan mukanya tokoh-tokoh yang 80% jelas identitasnya😛 )

  8. ayo Dan, ceritakan kisah cintamu…. yang sama mas X ato mas Y itu loh😛

  9. @galih
    Whatever will be will be…😀

    @mas
    Ditolak berulangkali, dan setiap detailnya membosankan😛

    @wina
    Wekekekeke….
    Katanya sih LDR memang susah. Aku ndak pernah je…

    Kesimpulan: KAPAN KAMU KAWIN?????

    Euh… jawaban standar… “PADA WAKTUNYA”😛

    @mardun
    Kan kebanyakan sudah berakhir bahagia, dun. Cerita masa lalu. Ini kan hanya pengingat atas kenangan lama.
    Btw, seng mbuka aibnya orang mana dengan 80% kejelasan mana ? crita guru bajul yang tobat? Wekekeke……

    Lagian ini juga dari lingkar teman yang berbeda-beda kok.

    Soal kisah cintaku, no comment.😛

  10. ah tenang aja Dan…. sebagian besar pembaca blogmu tidak rasis terhadap homoseksual kok… jadi kisahmu dengan mas X dan mas Y itu ceritakan saja gpp😛

  11. Gaplek!
    Pencemaran nama buruk! Aku iki hetero, cuk!
    Mark as spam.😛

  12. wah wah..sekalinya bikin tentang percintaan langsung heboh ya…;))

  13. mas ceritain kisa mas dong sepertinya menarik untuk di kupas

  14. duh kok ngakak gara2 baca komen2 mardun,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: