Tentang Gaya Bahasa dan Jakarta.

Adaptasi paling susah di Jakarta adalah soal gaya bahasa. Aksen, dialek dan diksi yang dipakai manusia Jakarta sangat berbeda dengan daerah lain. Walaupun dipakai dalam berbagai sinetron dan film sebagai standar de facto aksen gaul untuk anak muda, bagiku menggunakan dialek Jakarta memerlukan banyak penyesuaian.

Penyesuaian itu bagiku sangat susah karena beberapa hal :

  1. Aku orang Surabaya yang relatif lebih kasar cara bicaranya. Contohnya, “Cok, nang di kon ?”
  2. Lingkungan pergaulanku di Surabaya menganggap aksen Jakarta sebagai sok gaul, belagu dan kemlinthi.
  3. Lingkungan pergaulanku di kantor juga didominasi orang Jawa Timur, beberapa masih jebolan ITS juga. Guyonan seperti :
  4. A : Kepanjangane ERA opo ?
    B : Event Response.
    A : Lha A-ne ?
    B : Ancok !
    Cukup wajar dan sering terjadi meski kadang yang diajak bicara lebih tua.

  5. Aku terbiasa (berusaha) menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di blog.

Hal ini cukup menyusahkan saat berinteraksi dengan orang Jakarta asli. Aku terus menerus berpindah dari aku-kamu, lo-gue, dan aku-kon. Kebiasanku adalah menggunakan aku-kamu sebagai standar percakapan. Kebiasaan ini ternyata berdampak cukup fatal karena orang Jakarta rupanya menganggap gaya bicara aku-kamu sebagai gaya bicara yang intim dan lembut, sedikit mirip dengan kedudukan bahasa jawa Kromo Madya dalam ungguh-ungguhin basa.

Seringkali teman-temanku mengira aku sedang flirting dengan seorang temen cewek ketika aku menggunakan gaya aku-kamu dan mereka terus-menerus teasing me (sori susah mencari padanan kata yang pas karena untuk bahasa Indonesia flirting dan teasing itu sama). Padahal, itulah cara bicaraku yang paling bisa dipahami orang Indonesia asli.

Masalah lain datang saat aku berbincang dengan seorang teman di bus TransJakarta. Kami menggunakan bahasa Jawa ala Surabaya lengkap dengan cak-cok-nya. Hal itu ternyata mengundang ekspresi takut dan hati-hati dari beberapa penumpang di sekitar kami.

Cerita lain saat aku pulang bareng beberapa teman naik angkot. Di jalan adikku telepon dan kami ngobrol pakai bahasa Jawa, yang jelas aksen Suroboyan. Selesai telepon, teman-temanku memandang dengan heran.

Selain itu, aku juga menemukan kebiasaan orang Jakarta untuk menunjukkan kecerdasannya via penggunaan bahasa Inggris dalam percakapan, kadang dengan kata-kata yang cukup rumit. Biasanya untuk acara yang formal seperti presentasi atau meeting. Aku sendiri juga sering memakainya berhubung terbiasa dengan literatur dan artikel Inggris di banyak sumber referensi IT dan mengadaptasi gaya bahasa ini dengan cukup cepat.

Dan kata orang kan, agar terlihat kalau mereka duduk, berdirilah, ketika mereka berdiri, melompatlah, ketika mereka melompat, melompat lebih tinggi. Akhirnya, aku cara untuk menunjukkan kecerdasanku satu level lebih tinggi, pakai bahasa Prancis!😛 Granted, banyak yang lebih jago soal bahasa Prancis, tapi kan jumlahnya sedikit.

Alternatif lain, aku pakai bahasa Jawa, toh teman-temanku paham. Persetan dengan tidak terlihat cerdas.  “Nah, iki setinggane nggak nggenah. Lek ngene yo bakal intermiten, trus ambyar kabeh!” bagiku lebih sederhana daripada, “Pak, setting ini tidak suffice untuk menghandle traffic yang besar, dan bisa mengakibatkan intermiten akibat bottleneck dalam sistem.” Kalau kata eyangku, keburu dibom Belanda.😛

Jakarta, susahnya menjadi diri sendiri di kota ini.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 12 Maret, 2009, in experience, jayus, joke, life. Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. Saya sendiri sih lebih nyaman pake “aku/saya-kamu” dibanding gue-elo. Kesannya gue-elo itu ga sopan gitu. Tapi, yah,, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung kan? Temen2 pada gue-elo dan menganggap aku-kamu itu untuk orang pacaran yah sok atuh ngikut. Hehehe,,

  2. NACA= Naval Architecture
    lah C nya?
    Cok
    lah terus A nya?
    Ancok dikandani sik takon ae😛

  3. @Kimi
    Orang Jakarta memang gila!😛

    @mardun
    Nek ngono jurusane kene diubah dadi TC-CA ae😛

  4. Di sini jg gitu, kalo pake aku ktnya kasar, saya sok Indonesia, dan salah satu sebab org Minang sukar berbahasa Indonesia dgn baik yaa krn sering ditertawakan sesamanya.

    Akhirnya malah pakai kt ganti nama sendiri walau berkesan childish😛

    I am a bunglon lah😛

  5. Kadang2 kalo bicara Jawa di Jakarta diketawain ato jadi bahan guyonan (terutama waktu meeting dgn customer). Tp tergantung sih, kalo sebagai consultant, justru berbicara Jawa di customer Government lebih dihargai, tp kalo di Swasta siap2 dibilang udik…Intinya kalo mau lancar ya “Speak their language” aja…

  6. Haha… aku pernah di kantor dipandangi sama orang2 sekitarku gara2 bicara kelepasan dan agak keras,

    “Jancok…. nggiaaatheli ko-en!”

  7. @Takodok

    Akhirnya malah pakai kt ganti nama sendiri walau berkesan childish😛

    Bukannya memang childish.

    @Aris
    *dicatat tips-nya*

    @galihsatria
    Kalau frustasi sama server atau kodingan biasanya kata2 itu keluar.😀
    Orang2 lain yang satu ruangan mungkin menganggapku aneh. Seperti biasa, Like I care.

  8. perasaan, perasaan loh ya, coba ditelaah lebih dalam…. terutama soal poin

    # Lingkungan pergaulanku di Surabaya menganggap aksen Jakarta sebagai sok gaul, belagu dan kemlinthi.

    disini sebenernya yang menarik, yang dianggap belagu dan kemlinti (bagi sebagian orang, saya salah satunya, justru lucu) itu kan aksennya, bukan kata-kata yang keluar…. jadi ndengerin orang (maaf) jakarta bicara lue gue dan mendengar mereka bilang Jancok bagi saya dan teman-teman saya sih sama lucunya…

    Pun sebaliknya, kalo dialeknya suroboyoan, biarpun ngomongnya krama inggil tetep aja kedengaran kasar, misalnya “pisang sialan bikin saya kepeleset aja” (dengan logat suroboyo) paling juga sama kasarnya kayak ngomong “Gedang Asu, marai kepleset ae cok!!”😛

  9. Masalah saya di aku-kamu, saya dan anda. Terlalu intim dan terlalu formal kadang-kadang.

  10. Hal itu ternyata mengundang ekspresi takut dan hati-hati dari beberapa penumpang di sekitar kami.

    😆
    Hidup Jogja!😎
    *dilempar sandal*

    BTW, gara2 di sini ga banyak yg bisa bhs jawa (ya iyalah), pisuhan jadi sering diucapkan😛

  11. @mardun
    Hear hear!
    Menurutmu aksennya ya dun?

    @ahgentole
    Hmm… bahasa itu memang soal rasa.

    @lambrtz
    Hei, aku juga ngobrol sama adikku dengan logat suroboyoan di TransJogja dan kita tiba-tiba punya ruang berdiri yang agak lega.👿

  12. Kamu bukan aktor yang baek. masak ngerubah logat ajah gak bisa. Makanya sering ditolak casting yah!!

  13. mari kita biasakan budaya jancokers!!

  14. Justru di Jakarta itu memakai bahasa Indonesia yang baku. Tidak ada logat Jawa atau Medan.

    Soal panggilan elo gua, itu memang rada kasar, hanya digunakan oleh anakx2 remaja yang memang sudah kenal.

    Gunakanlah Saya, Pak, Mas, Mba…..

  15. lek nang suroboyo ngomong jancok dobol jaran wis biasa, ndhek panggonku kerjo sak bos2e barang nggawe boso suroboyoan, gak usah sok keminther lek ngomong ndang ngomong gak usah nggawe boso jakarta, nggilani!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: