Pengkaderan: Sebuah sudut pandang.

“Mahasiswa jaman sekarang semakin manja.” demikian keluh seorang teman di perbincangan di sudut Burger King, Plaza Semanggi. “Masak kemarin ada maba yang ngurung diri di kamar, sampai Kajur datang ke kos-kosannya. Kabarnya gara-gara kuliahnya jeblok” Aku punya jawaban template untuk masalah kayak gitu, “Setiap jaman tantangannya beda.”

Memori kembali ke 7 tahun lalu. Di tahun 2002, sebuah sudut kos-kosan Gebang Lor, Surabaya. Di kos-kosan Hendra itu sebagian kita berkumpul, saling membacem tugas, bertukar ilmu sampai ngobrol nggak jelas dan main WE. Kuliah berat, bahasa pemrograman terasa sebagai bahasa planet yang nggak jelas apa maknanya, dalam praktikum kita ngehadapin asdos yang kejam, belum lagi senior jahat yang membuat kampus serasa neraka jahanam.

Life is very tough that day. But we stand shoulder to shoulder. Move forward, leave no man behind.We trust our friend with our lives, literally. Beberapa teman bertaruh nyawa dengan sederet penyakit untuk ikut kamp dimana segalanya bisa terjadi, dan yang menjaganya adalah teman-temannya. Datang ke pengkaderan bukan karena kewajiban, bukan takut sama senior, tapi karena teman kita di sana, menderita bersama, push up berdampingan.

Waktu berubah.Ada korban, dan orangtua berteriak meminta pengkaderan dihentikan. ITS menerima protes mereka dan memberikan banyak aturan untuk mengekang pengkaderan jurusan. Perlawanan demi perlawanan dari mahasiswa dilancarkan. Mulai demo, diskusi dengan rektorat, semua tanpa hasil. Mulailah era baru, pengkaderan lunak mulai tahun 2003 di ITS.

Masyarakat dan mahasiswa sendiri mulai mencibir, kekerasan yang tidak perlu, perpeloncoan, ajang balas dendam. Mereka mulai memberi label terhadap sesuatu yang mereka anggap musuh, pengkaderan, ospek, atau apalah namanya.

Tempus fugit. 6 tahun kemudian, di sebuah jurusan terbaik di ITS 20 lebih mahasiswa DO karena kuliah jeblok. Banyak dari mereka harus bertarung sendiri mengarungi kuliah yang berat, beradaptasi sendiri tanpa kepedulian dari senior, atau teman mereka. Mereka seharusnya peduli, tapi bagaimana mau peduli ? Kenal aja enggak, gimana mau kenal, sarananya nggak ada.

Mulailah generasi baru, mahasiswa bermental tempe, karena tidak ada penggemblengan mental bernama pengkaderan, ospek, bakti kampus atau apapun namanya, yang dicap masyarakat sebagai perpeloncoan. Yang seharusnya jadi sarana mereka mengenal teman mereka, belajar percaya pada orang di samping mereka, dan bekerja bersama menghadapi tantangan demi tantangan di sebuah kehidupan baru bernama kuliah.

Tidak ada lagi mahasiswa yang dilarikan ke RS karena pingsan saat pengkaderan, tidak ada lagi debat panas dengan senior yang hampir selalu berakhir dengan maba push up, dan tidak ada lagi kebersamaan dalam angkatan.

Jangan salahkan seniormu, jangan salahkan dosenmu, karena inilah yang diinginkan masyarakat, ITS, orangtuamu dan dirimu sendiri. Kampus tanpa kekerasan, kampus penuh aturan, kampus tanpa kebebasan, kampus tanpa kebersamaan.

Selamat datang di ITS, kampus perjuangan.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 5 Juli, 2009, in experience, idealist, life and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 21 Komentar.

  1. hihi,, prasaan awakmu mangan fries terus deh pas kita2 lg discuss… :))
    btw2,, ati2 lho klo posting pake merk, ntr bisa kena tuntutan pencemaran nama baik.. *lagi santer soalnya*

  2. Pencemaran nama baik rie?
    Kayaknya nggak ada bagian yang mencemarkan.😛

  3. Welcome to the jungle :p

  4. Sama-sama ospek, bagimana kalo metodenya yang diubah? Jadi daripada debat yang berujung fisik atau perploncoan yang agak keras, ospeknya diubah jadi lebih akademis.😀

    Kayaknya ini lumayan berhasil di jurusan saya.

    Pas ospek maba dilatih buat bikin makalah, esai, dan partisipasi dalam seminar. Sering ada diskusi, kadang sampe sore ato malem. Tiap sekian hari dapet tugas a la kuliahan. Bentak-bentakan dan debat masih ada, tapi menyoal kegiatan2 itu dan nggak berujung fisik. Kalau maba yang benar bersalah, bakal dapat hukuman tambahan tugas — dan setiap maba mesti kerja sama. Kalau ternyata senior yang salah, dapet kompensasi tugas (misalnya ada tugas yang dibatalkan).😛

    Yang tahun ini, rencananya akan ditambahin outbond.

    Solidaritas masih ada, tapi ngga perlu fisik.:mrgreen:

  5. Ah I wish ospek in Indonesia is like what my friend has in UNSW: party party party😦

    *semi pasifis😀 *

  6. liked this, gan

  7. @xaliber
    Konsep yang mirip dengan konsepmu itulah yang membuat mahasiswa berada di kekacauan yang sekarang ini.

    Aku juga nggak sepakat dengan kekerasan yang tidak terarah, dan balas dendam. Tapi kekerasan terukur, terkendali dan punya arah dan tujuan untuk mendidik is worth to try. Kekerasan macam itu bisa untuk melatih mental. Di tempatku maba tetap punya ruang untuk melawan. Simulasi-simulasi keras macam ini jadi ajang untuk melatih mental dan respon mereka terhadap masalah-masalah kehidupan di kampus.

    Contoh:
    seorang maba temanku dihukum push up sama senior, dan aku mencoba memulai negosiasi untuk menolong. Respon senior saat itu singkat: “Ya udah. Nggak apa-apa kamu nyoba nego. Tapi kalau kamu gagal, hukuman dia aku gandakan, trus kamu juga harus nanggung jumlah push up yang sama.” Gimana reaksimu kalau gitu?

    Tulisan bisa ditanggung bareng, tapi kalau push up harus dilakukan sendiri. Soalnya pernah memang itu dilakukan. Waktu itu ada banyak tugas yang harus dilakukan teman buat angkatan, jadinya tugas2 essainya dikerjakan orang lain. Ketahuan lagi kalau bukan dia yang ngerjain, gara-gara ada 2 orang yang ngumpulin tugas atas nama orang yang sama. Rupanya teman2nya juga kelebihan inisiatif, alhasil temanku dihukum. Gimana reaksi temanmu? Dibantuin teman tapi malah bikin dia celaka?

    Ancaman hukuman fisik juga memberi pressure yang lebih besar dari sekedar bikin essay. Dengan cara ini, kita bisa ngelihat orang itu sebenar-benarnya. Aku belajar banyak karakter teman2ku dari sini, mana yang lari dari masalah, mana yang ngehadapin langsung, mana yang masih berpikir jernih, mana yang udah kalut kalau dibentak.

    Itu cuman beberapa simulasi yang dilakukan untuk memodelkan kehidupan di kampus nantinya. Bisakah itu dilakukan lewat konsepmu?

    Last, fisik yang hancur itu lebih mudah buat dilakukan indoktrinasi.👿

  8. ospek bukan jawaban..jawabannya memang jaman sydah berubah, maka gaya ospek mesti berubah..diarahin supaya empati sama orang kecil

  9. Salam, sepakat Unpad pun kini berubah, saya dari unpad, tapi mulai angkatan 2005 kebawah sistem ospek, orientasi dan pengenalan kampus tidak ubahnya sebagai ajang mendengar training, yah hanya training tidak ada ikatan emosional, tidak ada ikatan kultural dengan kampus, jurusan dan fakultas.
    Tidak ada debat2 logika, retorika berapi2, konflik yang terjadi, yang ada mhs sibuk berkutat dengan laptopnya menikmati fasilitas wifi gratis di kampus hanya untuk membuka situs jejaring sosial padahal rakyat di sana teriaaaaak kelaparan, oh mhs jaman sekarang, aku bentak bisa2 kau menagis

  10. Ah, nampaknya aku lebih cocok jadi mahasiswa yang hidup di zaman sekarang daripada di zaman dulu. Banyak temennya:mrgreen:

  11. gak papa..
    kekerasan itu perlu, kalo gak keras-keras, ntar pas nikah, istri bisa marah-marah!😀

  12. BASi bgt TSni
    ga da pengkaderan ga mslh
    yg pntg tu kmbali ke tujuan qta kul kan cr ilmu yg nntix d pk wkt kerja
    klo anda liat negara2 laen blm pernah saia liat keg ini
    bhkn mereka bs lbh maju dr pd qta apa ni smua?
    ospek dan smacamx hrs dhapus
    gak jaman kale
    Smoga negara qta tdk d rsk dgn birokrasi politik yg membobrokkan bgsa

  13. @uruha
    If you trolling, tolong jangan pakai bahasa macam SMS gitu. Ini blog, kolom komentar nggak punya batasan 160 karakter. Kamu bisa nulis seratus ribu kata dan masih bisa lanjut.

    Hal ini setidaknya bisa membuatmu dianggap serius.

    Thank you!

  14. @Uruha
    Negara kita bukan negara maju. Negara kita adalah negara berkembang. Lihatlah.. Begitu besar kesenjangan sosial yang terjadi di negara kita. Yang kaya tidak peduli yang miskin sudah makan atau belum! Rasa kekeluargaan tidak ada. Bahkan yang kaya saling menjatuhkan untuk membuat bisnisnya semakin berjaya. Apa yang terjadi jika mahasiswa adalah orang-orang yang hedonis,apatis,dll. Itulah pentingnya pengkaderan (ospek), untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial, untuk meningkatkan rasa kebersamaan, untuk mempercepat proses perkenalan, perkenalan yang tidak sekedar kenal nama, nama kenal lebih dalam dan tahu potensi2 dari semua teman2nya, itu tidak mungkin terjadi jika tidak ada pengkaderan. Banyak hal yang bisa didapatkan di pengkaderan yang “benar”. Pengkaderan yang memiliki dasar2 yang jelas. Bukan pengkaderan dengan kekerasan yang tidak ada dasarnya, kekerasan untuk balas dendam, dll. Itulah kenapa penting adanya pelatihan untuk pengkader. Karena pengkader tentunya harus lebih baik dari yang dikader. Pengkader tidak boleh hanya sekedar berbicara tanpa adanya contoh yang kongkret. Itulah pentingnya screening pengkader, tidak boleh semua senior langsung mengkader, harus orang2 dengan tujuan yang jelas yang boleh mengkader. Itulah yang sedang berusaha dirubah di jurusanku. Untuk merubah mindset bahwa pengkaderan = perpeloncoan. Karena dijurusanku pengkaderan memang bukan perpeloncoan, tetapi merupakan fasilitas untuk membuat mahasiswa memiliki pemikiran yang lebih luas,kritis,dll. Untuk membuat mahasiswa benar2 mengerti apa Peran dan Fungsinya sebagai seorang mahasiswa!!!

  15. Tapi kita harus kritis. LIhat dulu betapa nilai moral PENGKADERAN di ITS itu jeblok.

    Banyak saksi bahwa pengkaderan setelah 2006 pun masih dipenuhi cacian, pisuhan, makian. Cuma Namanya saja pengkaderan, tapi isinya 100% ospek yang kasar dan tak bermoral. Untuk apa ada training ESQ, untuk apa ada Pelatihan Kepribadian, kalau moral pelaksanaan PENGKADERAN jeblok !

    Kalau masalah banyak mahasiswa di- DO / tidak bisa survive di perkuliahan, itu sama sekali gak ada hubungannya dengan tidak adanya PENGKADERAN!
    Kan bisa pakai cara yang lebih profesional seperti adakan saja Seminar-seminar motivasional, mendatangkan pembicara dan motivator-motivator berkualitas supaya mahasiswa termotivasi untuk tetap survive dalam menghadapi tanggung jawab perkuliahan, atau mungkin datangkan konsultasi gratis bagi mahasiswa yang merasa stress. Banyak jalan menuju Roma, tapi kita harus pilih jalan yang paling bermoral, bro!

  16. menurut saya sih banyak jalan menuju roma.. saya juga pernah jadi maba n pernah ngospeki.. yg saya heran.. d its kok main fisik?? bentak2 aja udh cukup deh.. ga perlu pake nepuk sandal di wajah maba kan?? main fisik buat ngedidik mental sama aja kaya nyuri buat dikasih ke anak yatim.. jgn racuni sebuah niat positif dengan tindakan negatif..

  17. semoga pengkaderan tahun ini lancar seiring pemilihan Rektor dan Dies Natalis ITS yg ke 50th

  18. Memang jangan disamakan sekolah teknik dengan kampus lainnya sodara-sodara. Kalian boleh merengek gak mau fisik lah, gak mau ini gak mau itu, minta seminar aja, motivasi dan lain-lain. Menurut saya memang harus diperbaiki kekerasan fisik yg tidak masuk akal seperti menampar, menendang atau yg sejenis. Tapi kalau push up atau lari, saya malah cenderung melakukannya sebagai kegiatan rutin, bukan hukuman. Karena kalau hukuman maba pasti nolak, karena itu kita jadi lembek. Kita sebagai senior juga memberikan contoh, push up bareng lari bareng, itu kalau di tempat saya.
    Atau boleh jadi dijadikan sebagai konsekuensi yg menjadikan situasi menjadi tegang dan menuntut maba utk CEPAT berpikir solutif agar hukumannya bisa ditawar dan disesuaikan dgn kesalahan mereka
    Intinya, perlu diadakan perbaikan, tapi bukan berarti zaman sekarang tidak butuh ketegasan lantas kerjanya seminar-seminar aja. Kalau fasilitas itu sudah disediakan kampus, gak perlu repot-repot senior ngadain lagi. Kalau sodara-sodara bilang sekarang sudah bukan jamannya, berarti jaman sekarang adalah jamannya orang cengeng yg berkedok pendidikan, bukan begitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: