Pilihan – Biarkan terbuka atau tutup pintu di belakangmu?

Sejarah Cina menceritakan seorang Jenderal bernama Xiang Yu. Pada tahun 210 SM, Xiang Yu menyeberangi Sungai Yang Tze untuk menyerang kerajaan Qin. Seusai menyeberang dan bermalam di tepi sungai, pasukan Xiang Yu menemukan kapal mereka terbakar. Panik dan kalut pasukan Xiang Yu bersiap untuk menghadapi penyerang mereka. Tapi, ternyata Jenderal mereka sendiri, Xiang Yu-lah yang membakar kapal mereka.

Jenderal Xiang Yu juga menghancurkan panci masak mereka sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain bertempur melawan Kerajaan Qin jika ingin bisa makan. Pasukan Xiang Yu menang tentu saja, tapi dia menjadi Jenderal yang dibenci anak buah dan rakyatnya, entah kenapa.

Cerita awal itu memberikan sebuah gambaran tentang satu kata: Fokus dan Pilihan. Saat pasukan Xiang Yu tidak mempunyai jalan kembali kecuali maju, mereka hanya punya 2 pilihan: menang atau mati, bagaimanapun juga, mereka tidak bisa mundur.

Taktik ini gila, apa yang akan terjadi jika mereka kalah?

Well, they said history doesn’t have if. Tapi jika memang mereka kalah, karena mereka lebih fokus mereka akan lebih berpeluang menang daripada kapal mereka tidak dibakar.

Tapi manusia beda, mereka punya insting “jaga-jaga”. Misal kita membeli asuransi untuk jaga-jaga, atau kita membeli bahan makanan lebih untuk jaga-jaga, kita beli PC yang  bisa diupgrade untuk jaga-jaga, kita beli mobil besar untuk jaga-jaga kalau ada acara keluarga, atau kita memberi anak kita berbagai les, biola, tae kwon do, matematika, dll untuk jaga-jaga.

Beberapa pilihan memang rasional, beberapa tidak.

Masalah dengan pilihan adalah kita harus menjaga pintu terbuka, dan menjaga pintu itu butuh usaha. Misal, pilihan yang terbentang di depanku ada beberapa: Cari kerjaan baru, atau tetap di tempat yang sekarang, atau cari beasiswa. Jika nyari kerjaan baru maka akan harus keliling Jakarta lagi untuk menghadiri wawancara demi wawancara, tes demi tes. Jika tetap, tidak ada perubahan. Tapi job desc yang baru mengharuskan aku untuk banyak belajar lagi. Perjalanan mencari beasiswa juga tidak kalah mumetnya, mengharuskan untuk ikut berbagai tes, TOEFL, GRE, dan nyari surat rekomendasi, bikin essay, dll. Dengan keadaan itu, tenagaku akan terbagi-bagi, dan yang kelihatan hasilnya paling cuman satu.

The point is, membuka semua pintu tidak masuk akal, buang2 energi yang harusnya bisa difokuskan ke satu hal.

Akhirnya, aku milih fokus ke 2 tempat, kerjaan sekarang dan nyari beasiswa. Semoga nutut. Dan aku harus melihat pintu demi pintu tertutup di belakangku, dan menolak tawaran demi tawaran yang datang *halah koyok akeh seng nawani ae…😛 * Melihat teman2 mulai berpindah kerjaan dan memamerkan gaji barunya, menghabiskan malam-malam entah dengan paper atau buku GRE, dan meningkatkan anggaran untuk kopi dan obat tidur.

Soal cinta? Ah, kalau dia tidak mau, mbelibet, atau sok sibuk, ya sudah. Kalau capek dihentikan saja, kalau masih sabar teruskan. Her lost, gitu aja kok repot.

Road to Europe is hard…

You know the worst part? Maybe I won’t go to Europe after all…

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 31 Oktober, 2009, in experience, life, writting and tagged , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Kalau mau terbang, lompatlah dari lantai paling tinggi. Toh kalau gagal sama-sama matinya.

    – posting plurkk-ku

  2. Melihat teman2 mulai berpindah kerjaan dan memamerkan gaji barunya,

    You will not regret your struggle for graduate study and scholarship. Talking about the money, among all graduates in our batch, only 1 (or 2) people has(ve) higher salary(-ies) than mine.😎

    Soal cinta? Ah, kalau dia tidak mau, mbelibet, atau sok sibuk, ya sudah. Kalau capek dihentikan saja, kalau masih sabar teruskan. Her lost, gitu aja kok repot.

    Nicholas Hwa likes this. (jempol)

    You know the worst part? Maybe I won’t go to Europe after all…

    Nevertheless, going to Australia or Japan or South Korea or Singapore are not bad options either. Or you may end up in Canada as well. Good luck!😀

  3. Berpindah-pindah kerjaan demi mendapatkan gaji yang lebih baik yang tak seberapa juga kurang baik kok Dan, jadi aku mendukung langkahmu. Kalau kata Andrea Hirata: sampai jumpa di Sorbonne… you rock man!

  4. @Lambrtz
    I guess the only thing we can do is trying. Dan melihat ada apa di balik pintu nomor 3.😀

    @galih
    Tapi… aku ndak mau ke Sorbonne. Biaya hidup di Paris mahal, 2x rata2 di Perancis. Mending ke uni yang di Grenoble atau Lyon.😛

    Pilihan hidup yang nyleneh itu tantangannya banyak ternyata.😀

  5. Eh, sama. Saya juga sedang mempertimbangkan pilihan ini, tapi kayanya saatnya belum tepat🙄
    :mrgreen:

  6. Tidak pernah ada saat yang tepat, mbak.
    Kita hanya melakukan apa yang kita anggap benar sekarang.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: