PLN: listrik untuk kehidupan yang lebih baik?

Ada 3 hal yang mengilhami tulisan ini:

1. Tiba-tiba ada undangan grup FB: sejuta facebookers prihatin PLN (or something)

2. Tulisan manusia super tentang PLN.

3. Jakarta yang ada pemadaman bergilir.

Pertanyaan sederhana: trus PLN itu bisa apa?

Berbagai argumen terlontar agar PLN melakukan pekerjaannya lebih baik lagi. Ada yang bilang “PLN itu monopoli, seharusnya untungnya banyak, dong”, “PLN itu perusahaan negara, harusnya melayani rakyat, dong”, dll.

Kenapa kok bisa begitu? Kenapa kinerja PLN begitu buruknya?

Mari saya bercerita tentang sesuatu masalah yang lain bernama telekomunikasi.

Di tahun 90-an telepon adalah barang langka. Telepon baru masuk rumahku saat aku SD kelas 5, sekitar tahun 95-an mungkin. Saat itu Telkom adalah perusahaan negara yang memonopoli telekomunikasi di Indonesia, selain Indosat dan Satelindo. Tapi kedua perusahaan itu hanya mengurusi masalah SLI, sementara tidak ada pemain lain di pasar telepon kabel selain Telkom.

Di sisi lain, ada industri telekomunikasi lain yang sedang berkembang, handphone. Handphone adalah teknologi yang sangat mahal di masa itu. Hape masih segedhe kotak pensil, dan hanya orang-orang kaya saja yang memilikinya.

Hal yang sama masih terjadi di awal tahun 2000-an. Di masa itu hape adalah barang langka, perkembangannya baru di tahun 2003-an ketika aku punya hape. Rasanya anak kampus sudah pada punya semua.

Di sisi lain, industri telepon kabel yang didominasi Telkom sampai saat ini masih begitu-begitu saja. Telkom malah terkesan menghindari bisnis telepon kabel yang ternyata tidak semenguntungkan CDMA-nya.

Dari cerita singkat ini, bisa disimpulkan bahwa ternyata dominasi Telkom di pasar telepon kabel tidak bisa ditranslasikan ke pelayanan yang lebih baik. Monopoli = pelayanan buruk.

Apa masalahnya dengan monopoli?

Monopoli berarti keuntungan yang sangat besar. Dominasi Microsoft di pasar OS dan paket perkantoran adalah alasan dia adalah perusahaan IT terbesar di dunia, dominasi Oracle di pasar Database adalah alasan Larry Ellison sangat kaya. Tapi di kasus PLN dan Telkom, dominasi itu tidak selalu berarti mereka untung besar. PLN merugi, begitu pula Telkom, jika tidak tertolong oleh bisnis Flexi. Bahkan bagi PLN, setiap listrik yang kamu pakai adalah kerugian bagi mereka.

Masalahnya adalah mereka adalah perusahaan negara. Negara mensubsidi harga listrik dan telekomunikasi yang kamu pakai. Harga listrik di Kalimantan dan Jawa itu sama, padahal biaya perwatt di Kalimantan dan Jawa sangat berbeda. Kerugian-kerugian ini lah yang membuat PLN tidak mampu membuat pembangkit listrik sendiri, dan harus menunggu bantuan dari pemerinath.

Lalu, seperti yang bisa diduga, monopoli menimbulkan kemalasan, dan inefisiensi. Saat sebuah perusahaan sudah mendominasi pasar, mereka tidak perlu lagi berinovasi. Mereka punya “kuasa kelangkaan”. Wong, gini aja udah laku kok, ngapain harus berinovasi lagi?

Hal inilah yang membuat pangsa pasar telepon kabel di Indonesia ya segini-segini aja sejak tahun 1990-an, sementara pasar handphone yang sangat kompetitif maju dengan pesat hanya dalam waktu 8 tahun.

Lalu bagaimana dengan Microsoft dan Oracle, mereka berdua juga tidak punya dominasi penuh atas pasaranya. Hal ini memaksa mereka untuk terus berinovasi. Dan sebagai perusahaan swasta, mereka dituntut untuk terus meningkatkan keuntungan. Sayangnya, tidak begitu dengan PLN. PLN adalah perusahaan negara, tidak ada tuntutan profit. Bahkan, PLN seakan dituntut untuk selalu merugi. Karena jika PLN profit, mereka bakal dianggap serakah.

Okay, hal pertama selesai. Aku sudah debunking masalah tentang monopoli. Monopoli bukan berarti perusahaan itu akan semakin bagus, melainkan sebaliknya.

Kedua, mari kita dengarkan sebuah cerita lagi dengan masalah PLN ini.  Masalahnya adalah, mereka tidak bisa untuk bisa mengembangkan usaha energi mereka.

1. Mau pakai PLTU? Bahan bakarnya pasti dari pertamina, perusahaan minyak yang tidak kalah inefisiennya. Mereka disubsidi negara, jeh… Belum lagi masalah naik turunnya harga minyak.

2. Mau pakai PLTN? Didemo tuh di Muria. Padahal PLTN adalah sumber energi yang suprisingly sangat Eco-Friendly dan efisien, harga perwattnya rendah.

3.Mau pakai PLTA? setelah sepuluh tahun bakal terjadi pendangkalan sehingga outputnya akan terus berkurang.

4. Panas Bumi? Nggak tahu ada apa dengan ini.

5. Gimana dengan solusi lain yang murah, beli aja kenapa dari swasta. Sekali lagi, masalah kuasa kelangkaan. PLN punya kuasa penuh untuk menentukan harga beli. Kalau nggak dibeli PLN mau dijual kemana lagi? Hal ini menyebabkan bisnis ini sangat tidak menarik. Biasanya perusahaan minyak juga punya pembangkit sendiri, dan hanya menjual sisa energinya ke PLN dengan harga “seikhlasnya”. Sama sekali nggak menarik.

Tapi pada dasarnya, PLN itu karena situasi kondisi adalah perusahaan yang sangat tidak efisien, miskin inovasi, dan selalu merugi, dan ini semua karena alasan-alasan yang disebutkan orang banyak kenapa harusnya PLN itu memberikan pelayanan yang terbaik (monopoli, perusahaan negara, dll).

Trus maunya gimana?

Kalau tanya aku, jawabannya pasti: Liberalisasi sektor kelistrikan. Biarkan swasta masuk, pecah PLN jadi perusahaan kecil2 yang independen yang bersaing, pecah bisnisnya, rangsang bisnis swasta untuk masuk, longgarkan regulasi, dan terakhir privatisasi PLN saat dia jadi menarik. Semua hal yang akan membuat orang2 itu berkata aku tidak nasionalis.

Tapi ini semua masuk akal. Pasar kompetitif dalam industri seluler membuat handphone semakin murah, harga telekomunikasi juga semakin murah. Sementara pembandingnya, Telkom masih gitu2 saja.

Tapi entah kenapa, kata-kata liberalisasi membuat aku seakan jadi pro-barat, kafir, tidak peduli pada rakyat kecil, dan pemakan bayi.

 

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 11 November, 2009, in life. Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. kan bakalan terus mati lampu sampe december. nunggu alat buat bnrinnya dateng dari prancis.. haha:mrgreen:

  2. Ndak masalah… daripada mengumpat gelap lebih baik mojok gelap2…😛

  3. sepakat bro…

    monopoli memang bukan masalahnya, MONOPOLI NEGARA yang jadi problem. Mau bagus atau tidak kerja mereka, jaminan pensiun perusahaan macam PLN dan Pertamina itu sampai ke anak cucu.

    Yang saya tidak mengerti adalah kenapa pemerintah selaku empunya PLN terkesan tidak peduli?

    Banyak investor yang mau membuat pembangkit, kenapa tidak mengeluarkan peraturan agar harga beli menguntungkan bagi pembangkir swasta?

    Kenapa pemerintah daerah tidak boleh patungan dengan dana APBD mereka untuk membantu PLN daerah? (kasus di kalimantan)

    Saya bahkan tidak masalah jika tarif dasar listrik dinaikkan pun sepuluh kali lipat jika memang dengan demikian pasokan listrik dapat terjamin. Dengan begitu, kita juga akan belajar mengemat energi…

  4. ngomongin PLN mah gak ada habis-habisnya…. mereka sebenarnya tidak bisa merencanakan rencana jangka panjang mereka mau ngapain.
    Indonesia sudah 60 tahun lebih merdeka. tapi tetap saja kondisi listriknya parah…. setuju sama mansup, kami yang di daerah ini sudah merasakan penderitaan akibat ketidakadilan PLN. Dulu, ketika di Palembang masih sering mati lampu, yang namanya kompleks PLN itu gak pernah mengalami mati lampu…
    hooo… jadi anda ini pendukung neolib ya?😆
    buat saya, mending jadi neolib asalkan semua kebutuhan dasar bisa tersedia…

  5. ah… br jg brp hari byar pet…
    d bontang.. tempat saya tinggal.. bahkan pernah tuh 2 minggu full mati lampu..
    otomatis mati aer juga..
    trs pas saya ebtanas 2 kali tuh mati lampu berturut *dan masih jugaa donk nilenya d sunat demi “perataan” pedidikan, subsidi nilai bukan hoax lho😀

    ya yang sabaar aja…
    hahahahahaha…

  6. PLTU? Bukannya yang bahan bakarnya dari Pertamina itu PLTD? *teringat beberapa kali terjadi pemadaman bergilir karena kapal pengangkut BBM dari Jawa terlambat masuk*

    Saya no komen ttg manajemen PLN deh, untuk sebuah BUMN yang katanya selalu rugi, penghasilan dan fasilitas para pimpinan mereka termasuk menggiurkan.
    IMO, dengan cara bagaimanapun juga, pemerintah harus bisa membangun minimal satu PLTN di pulau Jawa, syukur2 bisa tiga, lalu semua PLTU dan PLTD di Jawa yang listriknya dah digantikan PLTN tsb, dibongkar dan dipasang di daerah2 yang masih kekurangan pasokan listrik.

  7. Ternyato bro Dnial ini neolib😈

    Ya, kebijakan pemerintah sangat besar pengaruhnya terhadap kinerja PLN sebagai “alat negara”. Saya pernah ngobrol dengan murid saya, seorang karyawan PLN. Beliau cerita kalau untuk membangun sebuah tower saja, urusan pembebasan lahannya harus mereka garap sendiri, pemerintah terkesan gak peduli. Ini diperparah lagi dengan mental warga yang makin mempersulit pergerakan PLN; teringat kasus SUTET dan Muria. Belum lagi proyek listrik 10 ribu megawatt yang dijanjikan SBY-JK, ternyata nggak sampai 10 persen kan yang terpenuhi?

  8. Ah… liberalisasi ini masih ada kelemahannya, meski aku percaya liberalisasi sebenarnya lebih baik daripada sistem sekarang. Apalagi di daerah. Padahal listrik itu vital buat pembangunan.

    Ntar deh.. ada studi kasusnya Enron yang jadi hasil gagalnya regulasi dan monopoli. Lagi dibaca-baca.

    @Manusia Super n Jensen99
    Masih bertanya-tanya juga sih. Makanya subsidi itu bikin PLN lengah. Katakanlah di perusahaan swasta, kalau merugi gitu, kepala2 mulai berjatuhan. Tapi sampai sekarang nggak ada ceritanya manajer PLN dipecat.

    Eniwei, PLTN Muria itu kalaupun jadi nggak bakal bisa nyuplai satu Jawa. PLTU Paiton masih penting. Dan PLTU itu bikin uapnya pakai BBM😀

    @Itikkecil
    Pada dasarnya sih, pragmatis. Dan aku lihat liberalisasi sektor listrik cukup berhasil di AS, apalagi ditambah dengan adanya smartgrid, selain jadi konsumen, rakyat juga bisa jadi produsen listrik.
    Aku rasa di Indonesia juga bisa.

    @Amd
    Ternyata di daerah lebih parah. Kalau di sini masalahnya cuman SUTET aja sih. Cuman perlu dipertanyakan juga placebo effectnya SUTET itu.

    @dian
    Aku nggak ngeluhin byar petnya. AKu ngeluhin kenapa nggak merata, dan sebenarnya termasuk ngritik mereka yang baru byar pet sedikit aja sudah bikin grup FB. Aku cuman njelasin, situasinya memang susah buat PLN untuk berkembang.

    Kalau mau listrik maju, privatisasi PLN.

  9. Sebagai bagian dari layanan publik, sebaiknya memang jangan ada perusahaan lain. Perusahaan pelayan publik di negara manapun tak ada yg mencari untung dan bahkan kerap merugi, semua dibiayai dari pajak. Bila untung ya syukur, pokoknya bukan sasaran utama.

    Bila layanan publik dibagi dgn perusahaan swasta, ya kacau. Perusahaan swasta adalah cari untung.

    Masalahnya, di Indonesia, BUMN selalu jadi sapi perahan partai politik. Jangan bangga jadi direktur utama di sana. Desas desus bilang kursi dirut ada harganya, ada setoran.

  10. PLTU itu bukannya pake batubara Dan?

  11. PLTN bukanlah solusi yang bisa diterakan dalam waktu dekat. Karena meski PLTN sendiri ramah lingkungan, tetap akan banyak yang menentang segala sesuatu yang berbau Nuklir.

    Panas Bumi adalah salah satu alternatif yang mulai digarap saat ini. Tetapi ada satu contoh kasus eksplorasi energi panas bumi di Bali harus dihentikan karena sumber panas bumi berada di dalam hutan adat.

    Ada satu potensi energi yang melimpah dan ramah lingkungan, yaitu angin, tapi tampaknya tidak akan dikembangakan dalam waktu dekat.

  12. Terlambat mas kalo usul di liberalisasikan UU Kelistrikan no.30 tahun 2009 sudah mengijinkan swasta dan pemda untuk ikut msk di bisnis kelistrikan.
    Tp ya kalo tarif msh seperti ini pada mikir kalo msk bisnis ini.
    Bedanya pulsa hp di liberalisasi jd murah karena pada saat itu harga pulsa emang dah mahal. Kalo listrik kita di liberalisasi pasti jd lebih mahal

  13. @hedi
    Kayaknya bakal bisa jalan deh. Industri swasta terbukti lebih efisien dalam menyediakan jasa daripada perusahaan negara. Contoh: Telco, penerbangan, dan pertambangan swasta lebih efisien. Garuda Indonesia bertahun-tahun merugi bahkan dengan monopoli penerbangan hajinya.

    Masalah dengan perusahaan negara adalah terlalu politis.

    @jensen99
    Setahuku dua-duanya, kalau batubara nggak ada pakai BBM dan sebaliknya.

    @Laks
    Listrik mahal nggak masalah, asalkan pasokannya ada. PLN sendiri kan keteteran buat nyediain listrik yang terjamin…

    @besok
    Angin susah di daerah tropis macam Indonesia. Lebih efektif di negara subtropis yang memang banyak tornado. Mending matahari.

  14. Bg sebagian pelanggan mungkin gak masalah pak tp bg pemerintah listrik bagian dr komoditas politik mereka🙂 kalo listrik naik ya mereka bakal siap2 turun🙂

  15. Jadi ingat masalah PLTN, sudah gak ada perkembangannya lagi yah? Dihentikan begitu poyeknya?😕

  16. Kalo liberalisasi yakin dah PLN bangkrut heheh tapi karyawannya kira2 masi terima bonus gede ga ya? wekeke

  17. wah wah wah…
    makin kacau saja nih…
    krisis listrik telah meraja lela..
    kini pemadaman listrik terjadi di beberapa daerah.
    ini tentu saja merugikan banyak pihak.

    pemadaman ini diakibatkan karena konsumen pemakai listrik terus meningkat.
    sedangkan pasokannya belum memenuhi.

    pemadaman ini juga terjadi karena PLN menderita kerugian besar.
    dimana tindakan pencurian listrik sudah merajalela
    sehingga tidak terkonrol lagi pemakaian listriknya.
    sehingga PLN tidak dapat mendistribusikan pasokan kedaerah2 yang terkena pemadaman bergilir.

    semoga saja pemadaman ini bisa segera diselesaikan.
    semoga saja perawatan serta penambahan genset oleh PLN pada induk2 pusat bisa selesai secepatnya.

    Iklan

  18. berduka atas #plnaceh dan juga #pln se Indonesia😥

  19. GOBLOK SEMUA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!! PLN selalu untung , lihat demo karyawanya ketika kemarin tdl naik , dasar rakyat indonesia mau dibegoin , anjingggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg , lebih mahal

  20. hmm…Tahukah anda berapa biaya produksi 1 KWH listrik? dan tahukah anda berapa harga jual listrik PLN?… Dengan mengetahui 2 hal itu saja sudah bisa membantah argumen anda diatas… saya terkesan membela PLN, meskipun sebenarnya tujuan saya adalah mengingatkan anda untuk memahami sesuatu dengan mencari tahu dahulu akar sebuah permasalahan… Jika ada swasta masuk, emgnya mau membayar listrik 1 KWH= Rp 1500 ? (saat ini tidak semahal itu)..sudahkah kita siap dengan efek domino yang akan ditimbulkan? kenaikan harga semua kebutuhan, inflasi, merosotnya daya beli,dll…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: