Wanita-wanita dalam karya Pram

Wanita-wanita yang dibahas di bawah ini adalah wanita dalam karya Pram. Untuk lebih jelasnya silahkan baca Tetralogi Buru dan Arok Dedes.

Berikut pembahasannya (Spoiler Alert):

  1. Nyai Ontosoroh, wanita ini dipaksa kawin dengan Robert Mellema, tapi akhirnya dia menyeka air matanya dan menjadi manajer bisnis keluarga yang mumpuni. Saat Pram mengajak kita menjelajah masa lalunya yang kelam, kita melihat Nyai Ontosoroh penuh dengan dendam. Dendam pada ayahnya yang menjualnya ke Robert Mellema demi posisi di pabrik gula, dendam pada ibunya yang lemah dan tidak berdaya, dan dendam pada Robert Mellema.
    Pada akhirnya, kita melihat Nyai Ontosoroh tumbuh menjadi wanita yang kuat, bijak, dan pejuang tangguh dalam menghadapi kehidupan. Kata-katanya pada menantunya, Minke, menjadi penutup dalam Novel Bumi Manusia, “Kita sudah melawan, nak, nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”
  2. Annelies, anak dari Nyai Ontosoroh ini adalah sosok wanita tangguh. Mencintai Minke sepenuh hatinya. Dia melawan dan melawan ketiga seluruh dunia menentang perkawinannya dengan Minke. Akhirnya dia diambil paksa ke Belanda.
  3. Ang San Mei, seorang Katolik. Masuk ke Indonesia secara ilegal. Dia adalah bagian dari gerakan rahasia kaum muda Tionghoa. Setia pada tunangannya yang menjalankan berbagai misi rahasia di Indonesia, dia baru setuju menikahi Minke setelah tahu bahwa tunangannya terbunuh dalam sebuah perkelahian di Surabaya.
  4. Princes Van Kasiruta, seorang putri raja Maluku. Siapa yang tidak kagum dengan wanita ini? Terbuang dari tanah kelahirannya, wanita ini tetap tangguh menghadapi cobaan kehidupan. Princes bahkan tidak ragu-ragu menarik pelatuk untuk membunuh musuh suaminya.
  5. Dedes, dalam roman Arok Dedes. Dedes diculik dari desanya oleh Tunggul Ametung untuk dijadikan istrinya, Dedes kecewa, menangis dan protes pada dewata. Tapi akhirnya dia menyeka airmatanya, berdiri tegak dan menunjukkan kekuasaannya dan kemuliaannya melebihi Tunggul Ametung.
Wanita-wanita ini adalah penggambaran yang sangat menarik, penuh warna. Lembut tapi tegas, menderita tapi tetap percaya masa depan. Melawan dengan diam, dengan penolakan, dengan kesabaran. Mereka tidak terintimidasi dengan kekuasaan pria di sekeliling mereka. Sosok wanita yang, IMO, ideal.
Ah.. saatnya melanjutkan membaca Arok Dedes, dan masih ada Panggil Aku Kartini saja yang mengantri.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 20 Februari, 2010, in life, review and tagged , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. Kita sudah melawan, nak, nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya

    Nyai Ontosoroh – Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer.

  2. sampai saat ini baru baca Larasati, dan ya.. mirip-mirip seperti tokoh-tokoh di atas. Apa gambaran ideal wanita-nya Pram seperti ini? *serius nanya*

  3. Walah… Ndak tahu ya…
    Saya bukan kritikus sastra.😐

  4. kalo jadi bumi manusia difilmkan, annelies nanti harus cantik luar biasa.. hehe

  5. Gadis Pantai… baca Gadis Pantai…

    Ah, bapak.
    Bapak!
    Aku tak butuhkan sesuatu
    dari dunia kita ini.
    Aku cuma butuhkan orang-orang tercinta,
    hati-hati yang terbuka, senyum tawa,
    dan dunia tanpa duka, tanpa takut.

    tapi kata saya sich sejenis sama tetralogi Pulau Buru🙂

  6. saya malah baru baca Bukan Pasar Malam

  7. Dedes di bukunya Pram, benar2 musuh dalam selimut dalam arti yang benar-benar harfiah ha ha ha… *spoiler*

  8. Princes Van Kasiruta, bukannya Princes Van Karisuta?

  9. Wah, tampaknya berat sekali topiknya… >.<'

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: