Harga Sebuah Cita-cita

Welcome fellow reader, I just came back from long hiatus. There’s few changes in life, I change jobs, try to switch my life to lower gear. And, here I am.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat bercerita tentang keinginanku, dapat Master degree di Eropa. Beberapa bulan lagi adalah musim berburu beasiswa. Saatnya persiapan untuk GRE and stuff, nyari rekomendasi dosen, dll.

Tapi post ini bukan soal itu, post ini soal curhat seorang teman yang tidak dapat disebutkan namanya. Suatu hari, di siang hari yang cerah, seorang menghubungi aku via YM. Mencium bau gosip (aku tidak punya teman chat yg ngebuzz cuman untuk basa-basi), aku langsung nodong, kenapa?

Ternyata temanku ini punya cerita. Ceritanya dia mau nikah, trus ditawarin PhD ke LN. Calonnya pingin setelah nikah segera punya anak, jadi tidak mau ditinggal ke LN, and they have a dilemma.

Setelah cerita panjangnya aku tanya, “Kamu dapat apa?” “Oh, dia mau mbiayain aku kuliah S2 di UI”. Deal yang cukup bagus untukku, quid pro quo.

Tapi, hal ini membuatku bertanya, “Is it worth it?” Jika ada wanita yang aku cintai minta aku nggak ke LN dan tetap di Indonesia saja, apakah aku bakal bilang iya? Dan tentunya, ada banyak kemungkinan situasi kondisi dan prinsipku sebagai programer yang pragmatis adalah, “hadapi masalah saat masalah itu datang, bukan sebelumnya. Dan selesaikan masalah itu, jangan melewati batasan masalah.” Jadi biarlah itu jadi urusannya besok.😀

Tapi pertanyaan itu tetap menggelitik. Misal impian seseorang jadi CEO, dia berjuang keras dari bawah, dari cleaning service, jadi manajer cleaning service, trus masuk marketing, trus pindah bikin usaha cleaning service sendiri, jadi perusahaan cleaning service terbesar di Indonesia. Dia kaya, sukses, tapi mungkin dari semuanya dia belum menikah, atau tidak sempat bersenang-senang, atau kehilangan banyak hal. Dan mulai bertanya-tanya, “Is it worth it?”

Dan misal, temanku ini ngeyel ngejar PhD di LN, ninggalin calonnya, trus calonnya nikah sama orang lain, dan saat temanku dapat gelar PhD, pulang, apakah dia merasa puas, bahagia?

Ada harga yang dibayar untuk cita-cita, nggak ada jalan pintas, kadang perlu pengorbanan, kadang harganya terlalu mahal, kadang harganya wajar. Tapi kitalah yang menentukan, “Is it worth it?”

Bagian terbaiknya adalah, kita tidak akan pernah tahu apa yang kita lewatkan. Dan kita akan terus bertanya-tanya. Tapi sayangnya tidak semua tanya ada jawabnya.

Dan, doakan aku bisa kuliah Master tahun depan.

Diftor-heh-smusma.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 25 Juni, 2010, in experience, idealist, life, small talk. Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. “Happy are those who dream dreams and are willing to pay the price to make them come true.”

    Anonymous

  2. Jika ada wanita yang aku cintai minta aku nggak ke LN dan tetap di Indonesia saja, apakah aku bakal bilang iya?

    Sayangnya, kalau buat saya, saya bakal ke LN mengejar cita-cita, dan ini harga mati. Setahun dua tahun okelah LDR pasca menikah, tapi seterusnya aku pingin istriku untuk ngikut aku, atau dia nyari kerja di tempat yang potensial untukku kerja (you know what I mean lah:mrgreen: ) dan aku bisa lalu pindah ke sana. Ya memang pricey, tapi otherwise…gitu🙂

    Setidaknya itu pikiranku saat ini😛

  3. Amin, moga Rencana sekolah segera terwujud.
    Apa pun keputusan dalam hal apa pun, tentu harus melalui berbagai pertimbangan. Kalau sudah terlanjur memutuskan, tinggal menyadari bahwa segala keputusan tentu ada konsekuensinya. Semua pilihan ada kelebihan dan ada resiko tentunya. Kalau konsekuensi, sebutlah harga, dari sebuah keputusan itu merugikan, ya harus diterima. Menyesal? Gak ada yang melarang untuk menyesal. Tapi, kalau berlarut-larut menyesali sesuatu ya semakin merugilah kita.
    🙂 Salam

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

  4. Amiiiin… semoga keinginanmu bisa tercapai!😀

  5. Hueee, sukses mas, moga2 bisa lanjutin S2 ^^
    On Topik: Kebahagiaan memang relatif sekali.. Dan terkadang cara terbaik untuk berbahagia adalah dengan tidak mengandai2 keputusan alternatif dan maju terus sesuai pilihan hati🙂

  6. saya jadi ingat dengan the alchemist…. harusnya ikuti apa kata hatinya… oklah dia memilih untuk S2 di UI, tapi apakah nanti tidak akan menyesal.
    btw, semoga bisa S2 di LN ya…

  7. Ealah, teringat kisah teman saya yang menghentikan studi PhD-nya di Jerman demi pulang ke tanah air untuk menikah dan hidup bersama sang suami. Padahal kalau dipikir-pikir sayang juga, secara sudah 2 tahun dia di Jerman, Anyway, itulah pilihannya:mrgreen:.

    Katanya mah kalau sedang terbelit dilema begitu “cobalah dengar kata hati”. tapi yang namanya kata hati sulit didengarkan. misal kita merasa “tercerahkan” dan mengklaim sudah mendengar kata hati. tapi bisa saja itu bukan kata hati.. malahan ternyata merupakan kata otak, kata nafsu atau kata orang😆

    *mbulet*

    Kalau menurut saya, apapun keputusannya, entah itu sekolah ke LN atau tetap di Indo, keputusan yang diambil harus dipahami segala konsekuensinya, kemudian dijalani dengan menyadari konsekuensi2 tersebut. kalau udah begitu semoga ga ada penyesalan di kemudian hari🙂

    Semoga bisa kuliah master di LN \m/
    Jangan lupa traktirannya \m/

  8. @lambrtz
    Kalau harga matiku ya NKRI Harga Mati!😀
    Beda dong kita, aku masih nasionalis. Mungkin akan terbang kemana2 tapi ujung2nya bawa ilmu itu semua ke Indonesia.

    @Mochamad
    Emang terlalu banyak menyesal itu nggak baik.
    Asal sudah dipikir baik2 resiko dan konsekuensinya, ya diterima lah.

    @Kimi
    Amin!😀

    @alief
    Tapi kadang2 masih mengandai2 kan?
    Andai dulu tawaran dari PT XXX diterima atau yang lain.

    @itikkecil
    Itu yang aku tanya balik. Kalau dia tahu semua konsekuensi dan resikonya, aku rasa enggak. Dan aku rasa, anak adalah kebahagiaan tertinggi seorang ibu.

    @Mizzy
    Semoga nggak ada penyesalan.

    @buat yang curhat kemarin
    Sudah ada bayangan kan?😀
    Tapi seperti yang aku bilang, kalau quid pro quo ya jalanin aja. Toh dia juga bersedia mengorbankan sesuatu buatmu.
    Aku rasa pernikahan dan anak adalah kebahagiaan yang besar. Toh, PhD setelah anak besar dan siap ditinggal juga bisa.
    Silahkan dipikir masak2, tapi jangan telat ngangkat, nanti gosong.😀

  9. Yup yup. Terima kasih. Sudah lumayan terang sekarang😀

  10. terima kasih… tulisannya menginspirasi saya

  11. Kuliah di luar negeri adalah salah satu impian saya sejak kecil. Kalau kemudian berbenturan dengan keharusan (ya keharusan bukan keinginan, hahaha) untuk menikah,. ya pasti bingung juga.. Tp mungkin sy akan mengejar cita2 untuk kuliah di LN dan berharap si calon mau mengerti dan bersedia menunda pernikahan. Malah pengennya sih kalau bisa, calon suami saya yg ikut saya keluar negeri.:mrgreen:

    Ah tulisan ini mengena banget…. Saya baru pulang dari Amerika Serikat utk sebuah exchanges program & sy malah jd tertarik utk kuliah S2 di sana. Sementara itu desakan utk segera menikah malah semakin kuat. Huufft…

  12. kalo sesuai dengan kata hati jalani lah.. daripada gak sreg dan berjalan dalam sebuah jalan keragu2an serta rasa bersalah😀

  13. there’s always an opportunity cost for sumthin’

  14. kenapa ga dibawa aja suaminya keluar negeri…
    suruh dia cuti gitu… :p

  15. Sama kayak Lambrtz, kayaknya daku juga pilih lanjut dan (mungkin) ninggalin beliau.

    Definitely, a progressive person deserves someone equally progressive. Masih banyak laki2 lain di dunia ini, yang bisa mengimbangi keprogresivan si wanita. Sayang banget kalo seseorang dilarang mengembangkan diri atas nama ego doang😦.

    Personal opinion. Sorry ><

    Oh iya good luck hunting beasiswanya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: