Tentang Generation Y di tempat kerja

Di sebuah percakapan santai ibuku mempertanyakan perilaku PNS baru yang bekerja di tempatnya. Dia mempertanyakan tentang anak-anak muda yang mengabaikan birokrasi. Dia melihat PNS muda ini, meski rajin bekerja, tapi malas untuk mengisi absensi sehingga sering terlambat dan gajinya dipotong. Ibuku terheran-heran karena meski gajinya dipotong mereka tetap mengulang-ulang hal itu.

Aneh? Tidak juga. Contohnya aku, aku tidak pernah tahu berapa sebenarnya Take Home Pay-ku. Aku tahu kira-kira berapa tapi tidak pasti karena ada potongan pajak dan asuransi, dll. Baru di tempat baru ini aku nerima slip gaji jadi tahu pasti, di tempat lama enggak ada. Jadi, agak aneh juga kalau kamu nego gaji tapi nggak tahu gajimu sekarang sebenarnya berapa.

Tapi itulah salah satu trait generasi Y, tidak semuanya seperti itu sih, dan ini adalah upaya generalisasi. Jadi akan ada deviasi dari perilaku yang dijabarkan di artikel ini.

Ada 4 hal yang diharapkan gen-Y dari kantor:

  • Kesempatan belajar dan berkembang.
  • Kesempatan mengerjakan proyek yang menarik.
  • Pekerjaan yang sesuai talenta mereka.
  • Ada mentor yang bisa mereka teladani.

Untuk gen-Y manajer atau mentor adalah faktor penentu di tempat kerja. Jika manajernya tidak sesuai dengan mereka, mereka bisa pergi, dan kadang meski pekerjaannya tidak menarik dan demanding, kesempatan untuk belajar pada ahlinya bisa membuat Gen-Y bertahan.

Bisa dilihat tidak ada kata-kata keamanan kerja, loyalitas atau bahkan gaji di sana. Gen-Y bisa dikatakan generasi yang setia pada profesi, bukan perusahaan. Mereka bisa berpindah-pindah kantor tapi line-of-work mereka akan mirip-mirip.

Lalu work-life balance, gen-Y bukanlah pekerja keras yang lembur sampai tengah malam. Mereka lebih menyukai work-life balance yang baik.

Sebenarnya aku tidak tahu tujuan aku nulis ini selain sebagai pengingat.😀 Tapi di sisi lain, tampaknya penjelasan ini bisa sedikit membuat perilaku gen-y make sense di tempat kerja. Dan jika mood, mungkin akan lanjut lagi tulisannya.

NB:
Damn, I haven’t trully cured from my short attention span.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 13 Agustus, 2010, in experience, life, writting and tagged , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. They’re young, smart, brash. They may wear flip-flops to the office or listen to iPods at their desk. They want to work, but they don’t want work to be their life.

    http://www.usatoday.com/money/workplace/2005-11-06-gen-y_x.htm

  2. eng masa sih? gak peduli gaji? kalo gw peduli karena gimana gw ngantor dan hidup kalo gajinya aja gak jelas?? maklum babeh sama nyak udah gak ngasih gw duit lagi😀

  3. @ipied
    Yang jelas cukup lah.😀

    @Wina
    Kalau lihat di BPKP sih.. jalur karirnya setelah umur 40th(atau some setelah pensiun), mereka biasanya bikin kantor akuntan sendiri atau masuk konsultan.
    Di Dirjen Pajak juga gitu, beberapa anak STAN Pajak setelah selesai masa baktinya loncat jadi Tax Consultant. Jumlahnya mana ku tahu. :p
    PNS yang lain, mungkin nggak keluar PNS tapi punya bisnis sampingan yang cukup kuat.

  4. Anak muda jaman sekarang butuh berkembang.🙂

  5. salam kenal…
    atrtikel yang menarik…
    satu hal dari gw, tetep berusaha… *adah gak nyambung hahaha
    tapi TOP BGT deh agan ini

    mampir-mampir balik ya gan🙂

  6. that’s explain my low morality at the office these days….

    pemotongan gaji itu sangat menohok buat saya…
    tiap bulan minimal saya kena potongan 100ribu untuk keterlambatan masuk…
    but hey.. I need to have a life rite? :p

  7. satu jam ekstra di pagi hari untuk sekedar nonton berita pagi atau sarapan tanpa terburu2 itu privilege yang layak dibayar dengan potong gaji. dengan dipotong gaji (dalam kasus saya: uang makan siang), saya membuang perasaan bersalah karena datang terlambat dan sesekali chat dan cek fesbuk di kantor. toh kerja tetap minimal 8 jam per hari. freakonomics say it’s all about incentive: http://goo.gl/Ol428

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: