Perfect vs Good Enough

Entah apa yang terjadi, saya nyasar ke sebuah blog post dari happiness project yang ini, beberapa saat setelahnya saya nyasar ke tulisan Galih, dan ringkasan twit mas Guntar oleh Dea.

Ah, sebuah topik soal being perfect atau good enough.

Inti permasalahannya sih seperti ini, ada 2 jenis manusia: Satisficer dan Maximizer. Nah si Satisficer(atau Pemuas saja biar gampang) itu kalau dikasih banyak pilihan dia akan milih pilihan pertama yang masuk kriterianya dia.

Bedanya, Maximizer(Pemaksimum aja biar gampang) akan melihat semua pilihan dan menganalisis satu-persatu dan memilih mana yang paling baik.

Mana yang lebih baik?

Nah ini nih pertanyaan paling menjebak di dunia, jawabannya juga tidak kalah rumitnya: Tergantung.

Untuk masalah-masalah sederhana seperti mencari baju atau membeli sepatu, akanlah sangat konyol jika harus berputar-putar seluruh mall untuk mencari barang dengan harga dan model yang perfect. Just buy it already damn it! *curcol*

Tapi untuk masalah serius seperti membeli rumah kita kudu bersikap pemaksimal, apakah lokasinya strategis, luas rumahnya cukup, desainnya pas, lingkungannya aman dan bersahabat? Masalahnya adalah: bagaimana jika tidak ada pilihan sempurna yang punya nilai 10 di setiap item dalam matriks penilaian kita?

Which One More Happier?

Menurut Happiness Project, Pemuas adalah yang paling berbahagia, karena seorang pemaksimal akan kewalahan dengan banyaknya pilihan yang dia miliki, dan harus menyediakan waktu dan kekuatan mental untuk menentukan mana di antara pilihan itu yang terbaik. Itulah paradox of choice, semakin banyak pilihan semakin bingung. Karena itulah aku paling benci makan di foodcourt.

Sebuah paradox juga, seorang pemaksimal memilih yang terbaik dalam setiap pilihan di hidupnya, dan dia tidak lebih bahagia dari dia yang memilih seadanya saja.

Aneh….

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 29 November, 2010, in experience, idealist, life. Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. bagaimana dgn memilih calon pasangan hidup? (ninja)

  2. saya pemilih. sangat. bahkan saya sering membuat kolom-kolom advantage dan disadvantage untuk itu. makanya sering di cap plin-plan, lama mengambil keputusan.

    tapi itu tidak membuat saya tidak bahagia kok. justru saya sangat puas dan bahagia dengan hasil pilihan saya, ketimbang kalo saya memutuskan dengan terburu-buru.

    *eh saya ngomong apa ini*😆 😆

  3. Curcol detected! *melipir*

  4. Yup, nicely written. Kadang kita terlalu takut untuk memilih dan malah menyia2kan waktu dan tenagauntuk memaksimalkan pilihan ^^

  5. I think I am more a greedy search person, instead of best first person. Anyway, for urgent problems, I recommend doing A* for a more optimal result.😀

    However…

    Karena itulah aku paling benci makan di foodcourt.

    I suggest pseudo-random algorithm. In such case, it doesn’t really matter what goes to your belly.:mrgreen:

  6. Mungkin karena si pemaksimal kan cenderung tidak mengikuti idealismenya dan lebih rasional dalam memilih. Bagus siy, tapi hasil plilihannya itu kan baru kelihatan sekian waktu ketika ada sesuatu yang membuat dia mensyukuri telah membuat pilihan tepat.

    Sedangkan si pemilih, membuat pilihan sesuai hawa nafsunya *jika bisa dibilang begitu*. Jadi rasa puwas dan bahagianya muncul saat itu juga.

    Untuk masalah-masalah sederhana seperti mencari baju atau membeli sepatu, akanlah sangat konyol jika harus berputar-putar seluruh mall untuk mencari barang dengan harga dan model yang perfect. Just buy it already damn it!

    *jrebb*😯
    Dan berakhir dengan tidak membeli apapun😆
    Kacian deh luu.. cowok-cowok yang nemenin ceweknya belanja *siyul-siyul*

  7. ^
    Masih mending ketimbang banyak yang dibeli…🙄

    Anyway,

    cowok-cowok yang nemenin ceweknya belanja *siyul-siyul*

    baru beberapa hari yang lalu saya ngantre beli pepaya iris di kantin, di depan saya ibu-ibu dua, milih lamaaaa banget. Dan ketika mereka udah selesai, giliran saya tinggal ambil acak apa yang ada di atas.😛
    Well this seems to be a natural pattern, jadi ya dimaklumi saja. Toh demi kemaslahatan umat juga ini😀 ngomong apa sih saya

  8. Ralat: masih mending, ketimbang… (kasih koma biar ga rancu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: