Pekerjaan yang membahagiakan[1]

Di restoran D’Cost di Surabaya, di depanku duduk seorang perempuan cantik yang auranya misterius. Kami berbincang akrab meski baru pertama kali ini bertemu. Sampai akhirnya aku menanyakan soal pekerjaannya.

“Apa pekerjaanmu?” tanyaku. “Rahasia,” jawab wanita yang cantik nan misterius itu. “Kenapa?” tanyaku, “Apa kamu nggak bangga dengan pekerjaanmu?”

Tapi, sebenarnya pekerjaan apa sih yang membahagiakan itu? Banyak orang akan asal-asalan menjawab, “Yang gajinya besar tapi nggak ngapa-ngapain” Mungkin itu sebabnya banyak orang ingin jadi Anggota DPR.

Tapi apakah benar demikian, jawabnya mungkin akan bervariasi, tapi buatku sendiri tidak. Di suatu masa di pekerjaanku, aku pernah mengalami dalam sebulan aku menemukan diriku praktis hanya mengurusi masalah yang minor dan banyak menganggur. Dan itu adalah sebulan paling lama dalam hidupku. Aku bosan dan sangat capek. Akhirnya aku datang ke manajerku dan minta pekerjaan tambahan, teman-temanku bilang aku tidak waras.

Menurut temanku, pekerjaan yang membahagiakan adalah pekerjaan yang menantang dan fullfilling. Aku tidak tahu persis padanan kata dalam bahasa Indonesianya, mungkin memuaskan batin atau tidak dijalani dengan penyesalan bisa dipakai. Buat dia, hidup itu kudu mimpi yang besar dan kejar mimpi itu, dia pernah kuliah di Prancis, kerja di Abu Dhabi sampai akhirnya kembali ke Indonesia untuk membesarkan anaknya sampai istrinya selesai Doktoral. Setelah itu, entah petualangan apalagi yang menanti mereka.

Seorang teman wanita yang baru menikah punya pandangan yang berbeda, “yang penting ada kesibukan, sudah nggak ngejar karir lagi.” Beberapa orang memang pandangan hidupnya setelah menikah atau punya anak akan berubah. Mereka mencari kepastian bukan tantangan atau mengejar karir. Seorang teman wanita yang aktif selama di Jakarta dan bisa bekerja 24 jam nonstop, sekarang sangat berhati-hati dalam bekerja, seorang teman pindah pekerjaan karena pekerjaan yang baru memberi benefit kesehatan yang lebih baik untuk anaknya.

Tapi apa sih dalam pekerjaan itu sendiri yang bisa memberi kebahagiaan. Menurut Daniel H Pink, penulis buku Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us, pekerjaan yang membahagiakan baru muncul saat kebutuhan kita tercukupi, dan lebih dari itu.

Menurutnya ada 3 faktor yang membuat kita merasa bahagia dengan pekerjaan kita: Autonomy – Mastery – Purpose.

Autonomy adalah seberapa besar kuasa kita dalam melakukan pekerjaan kita. Ada beberapa pekerjaan yang membuat kita merasa terkungkung, bos yang berusaha memikromanajemen dan mengawasi apapun yang kita lakukan atau birokrasi yang berbelit-belit sehingga kita merasa tidak berkuasa, sampai deadline yang tidak masuk akal. Hal-hal itu membuat pekerjaan kita tidak membahagiakan. Ada beberapa otonomi yang bisa diberikan:

1. Autonomy over time: Ini adalah yang paling sederhana, kita yang menentukan kapan kita akan mengerjakan pekerjaan kita dan kadang kita juga yang menentukan kapan deadlinenya.

2. Autonomy over task: Kita yang menentukan pekerjaan apa yang akan kita lakukan. Jika kamu programmer dan familiar dengan agile method, maka kamu akan paham bahwa salah satu metode agile adalah programmer bisa menentukan pekerjaan apa yang akan diambil.

3. Autonomy over team: Ini sudah sedikit advance, kita bisa memilih sendiri tim kita, dalam kasus ekstrim malah tim itu sendiri yang memilih bos mereka. Di sebuah perusahaan di US ada sebuah metode penunjukan manajer. Manajer itu akan diberi masa uji coba selama 3 bulan dan bawahannya yang akan menentukan apakah manajer itu lanjut atau tidak.

4. Autonomy over method: Ini yang lebih sering terjadi. Sebuah tim atau karyawan diberi tugas dan terserah dia bagaimana dan dimana mengerjakannya.

Berbagai bentuk otonomi itu memberi kita kuasa atas apa yang kita kerjakan. Contoh lagi, di Microsoft seorang Manager kudu meyakinkan programmernya bahwa apa yang dia inginkan, jika programmernya setuju maka hal itu akan dikerjakan oleh sang programmer, jika tidak programmernya berhak menolak.

Sekian dulu tulisan kali ini, nanti aku sambung lagi. Inspirasinya habis. Ini juga bentuk otonomi penulis tentang naskah apa yang akan diterbitkan, that’s why blogging makes me happy.😀

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 17 April, 2011, in experience, idealist, life. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Work and life balance is a lot easier if you don’t have work.

    – Some speaker in TED

  2. Wah, gak bisa jawab nih. Soalnya definisi bahagia itu sendiri masih gak jelas.
    BTW, itu wanita cantik nan misterius siapa yah? Yang ngasih buku super njelimet itu bukan?:mrgreen:

  1. Ping-balik: Pekerjaan yang membahagiakan [2] – Tentang Purpose « Zero Reality

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: