Cerita Masa Kecil dan Pelajaran soal Cinta

Posting ini terinspirasi saat membaca buku Road Less Traveled dari Scott Peck. Aku menemukan sebuah bagian yang membahas soal ketakutan sang anak jika ditinggalkan orangtua. Mungkin kita bisa merasa hal ini di hari pertama masuk TK, hari pertama masuk SD, atau yang paling jelas, tapi kita tidak ingat, adalah saat kita menangis waktu ortu meninggalkan kita saat kita masih bayi, meski cuma sebentar tapi kita akan menangis keras.

Nah, untuk mengatasinya ortu akan berkali-kali meyakinkan sang anak, “Mama di sini kok, nggak kemana-mana” “udah tenang, papa yang njaga” dlsb. Dan saat pernyataan itu diimbangi dengan sikap maka hal itu adalah perwujudan cinta yang mengagumkan.

Nah, contoh kejadiannya adalah saat aku kelas 2 SD. Pada hari naas itu, antarjemput-ku entah kenapa tidak datang menjemput. Hal ini mungkin bukan masalah di hari ini karena ada hape, tapi saat itu belum ada hape, dan rumahku pun tidak punya line telepon, dan aku nggak punya uang saku dan nggak ngerti jalur angkot di Surabaya.

Akupun menelpon saudaraku yang punya telepon setelah menunggu antarjemput sampai jam 3 sore (aku pulang jam 10-an kalau nggak salah). Hal ini pun diiringi tangisan ala anak kecil di restoran sebelah sekolah yang kebetulan punya telepon.

Akhirnya, setelah menunggu sebentar, kakak sepupuku datang menjemput naik sepeda motor dan mengantarku pulang sampai rumah.

Kejadian yang seru adalah keesokan harinya. Setelah kejadian itu, Papa kehilangan kepercayaan pada pengantarjemputku itu. Dan keesokan harinya dan sampai beberapa minggu setelahnya, dia menjemputku sendiri sambil mencari antar-jemput yang lebih bisa dipercaya. Lalu bertemulah dia dengan pengantarjemputku di sekolah, Papaku jelas marah-marah ke pengantarjemput dan bikin heboh seluruh sekolah hari itu.

Hasilnya, dalam waktu itu aku belajar bahwa ortuku nggak akan ninggalin aku. Setidaknya, mereka akan mencari orang yang bisa mereka percaya untuk mengantarjemputku dan kalau tidak ada mereka akan melakukannya sendiri.

Tapi, solusi ortuku tidak hanya itu. Mereka juga melihat bahwa aku juga perlu diberdayakan. Papa pun mengajari rute angkot dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Dimana aku harus turun, lalu angkot mana yang harus dinaiki. Dan mereka pun memberiku uang darurat agar aku bisa pulang jika hal yang sama terjadi lagi.

Walau pada akhirnya aku baru naik angkot secara reguler saat kelas 4 SD, sejak kelas 2 itu aku punya kepercayaan diri yang bertambah karena bisa naik angkot sendiri.

Aku rasa, seperti itulah seharusnya sebuah cinta itu: Melindungi dn memberdayakan.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 25 April, 2011, in life. Bookmark the permalink. 19 Komentar.

  1. You don’t really understand human nature unless you know why a child on a merry-go-round will wave at his parents every time around – and why his parents will always wave back.

    ~William D. Tammeus

  2. Cinta itu melindungi & memberdayakan..

    Hmm.. Ditambah ah dikit,
    Cinta itu juga mengajari & mendewasakan..😄

  3. Peck. The qui genus humanum ingenio superavit of starship troopers😆

    Anw, kisah sampeyan bagus. Ada pembelajaran dari suatu kejadian dengan tindak lanjut yg positif

  4. hmmm, cinta yang melindungi dan memberdayakan ya,..😕
    kalau begitu mengasihi itu masuk kategori mana ya?

  5. @Billy
    Silahkan dielaborasi idenya dalam posting blog.😀

    @kurology
    Tindak lanjut positif?
    Bapak yang marah besar ke pengantar jemput? :))

    Tapi itulah awal aku berani kemana-mana naik angkot. Sampai-sampai waktu kuliah jadi kamus angkot berjalan. :))

    @Akiko
    cinta sama kasih kalau di bahasa Indonesia sama saja sih.😀

    @galihsatria
    Uoh…

  6. papaku ngga ngijinin naek angkot sampai sd kelas 5 gitu ya…agak lupa…
    tapi sampe sekarang pun, kalo masi bisa diantar-jemput pasti disuruh telpon aja daripada naek angkot katanya macet dan lama😛
    kalo kek gitu, mungkin jadi terlalu melindungi?

  7. Sejak kelas 1 SD saya sudah pergi-pulang sekolah jalan kaki, padahal rumah di kaki bukit, jadi pulang siang selalu nanjak dalam keadaan haus. Makanya sampai sekarang jago jalan kaki. Efeknya? Saya tidak berani naik angkot sendiri setidaknya sampai kelas 2 SMP, waktu saya pindah rumah dan mau gak mau ke sekolah harus naik angkot. 😆

  8. loh bukane biyen pas SD kowe wis terlatih diantemi sehingga kepercayaan dirimu tinggi Dan?😀

  9. Aku baru naik angkot beneran waktu SMP, sebelumnya dan disela-selanya selalu diantar jemput sopir, tapi baru memiliki kepercayaan di waktu kuliah naik angkot bolak balik wiyung-ITS, dan itu tua di jalan, hahaha *kok curhat* xD ya untungnya sekarang udah bisa beli bensin untuk bawa kendaraan sendiri😀 kata ibu saya, bukannya mereka nggak sayang dengan menyuruh saya naik angkot, tapi untuk meningkatkan kepercayaan diri saya bahwa saya bisa mandiri😀

  10. cinta itu membebaskan.. *dikeroyok*

  11. @Felicia
    Ya gitulah cinta ortu, Fel. Kadang terlalu ingin melindungi, lupa gadis kecilnya sudah dewasa dan mandiri.

    @jensen99
    Hooo… pantes jarak-yang-masih-bisa-dijalan-kaki mu sama aku beda jauh.😀

    @mardun
    Nah iki, yang tiap hari berantem dari SD. Senior nggak jelas yang suka membully juniornya.

    @Fenty
    Memang simbol kemandirian salah satunya dengan berangkat sendiri dan nggak diantar-jemput. Hal ini terutama buat anak2 yg tinggal di kota.

    @giewahyudi
    Cinta juga mengurung.

  12. gatheliiiii, senior gak jelas yang suka membully??? tolong diralat ya.. saya akui saya memang kemproh… tapi kalau bully???? plis deeeh😀

  13. Lha ceritanay main setiap jam istirahat yang kadang berakhir berantem iku opo, cok? :))

  14. itu kan berantem bos….. bukan bully, lagian itu dilakukan suka sama suka😀

  15. “Bullying is abusive treatment, the use of force or coercion to affect others,[1] particularly when habitual and involving an imbalance of power” *sumber wikipedia-yang memang tidak terlalu bisa dipertanggungjawabkan :P*

    coba dijelaskan letak imbalance of powernya wekekekek😀

  16. @mardun
    Perbedaan berat badan yang mencolok!!!!😛
    Nek usia bedone tipis ancen.

  17. iya sih, cuma sekarang situasi berbalik, sekarang perbedaan berat badan kita juga mencolok… berarti saiki kowe membully aku wkwkwkwk

  1. Ping-balik: Happy Father’s Day! « Zero Reality

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: