Pekerjaan yang membahagiakan [2] – Tentang Purpose

Menjadi programmer itu pekerjaan yang membahagiakan. Seperti yang aku bahas beberapa waktu yang lalu sebuah pekerjaan itu bisa membahagiakan jika memenuhi 3 unsur: Autonomy – Mastery dan Purpose. Dan kali ini yang kubahas adalah soal purpose.

Dan latar belakang post ini adalah pembicaraan dengan seorang wanita cantik (lagi2) di Kopitiam di Margo City. Aku saat itu bicara soal project yang masuk ke antrianku di salah satu perusahaan contextual advertising di Indonesia. Dan aku menemukan suatu hal yang bikin aku senang saat itu, aku menemukan bahwa proyek yang akan aku kerjakan itu akan mempermudah klasifikasi iklan yang akan muncul di blognya.

So what?

Itulah yang bikin sebuah terobosan di dalam pemikiranku, bahwa apa yang aku kerjakan membawa impact pada para blogger yang berusaha mencari sampingan lewat iklan di blog. It’s big you know? Knowing that what you do at works matter to many people.

Bahkan tidak perlu untuk banyak orang. Mempermudah hidup satu karyawan pun hal itu terasa berarti. Misal, salah satu proyek yang aku kerjakan di salah satu perusahaan migas di Indonesia sebenarnya cukup sederhana, mengotomatisasi pembayaran invoice. Tapi hal ini memotong waktu pengerjaan invoice dari beberapa hari menjadi beberapa jam, dan karyawan yang mengerjakan ini berterimakasih langsung ke aku. Well, as programmer we don’t get it that often. Sometimes it just jobs, you know. :p

Tapi itulah momen2 yang membuat kita merasa hal-hal yang tampaknya membosankan menjadi sesuatu yang berarti. Bringing sense of purpose in life.

Hal ini membawaku ke sebuah artikel dari biografer presiden AS. Dia berkata bahwa pencapaian presiden AS itu bisa disingkat dalam satu kalimat, misal masa Abraham Lincoln: Membebaskan budak-budak di Amerika. Lalu dia memberikan sebuah tantangan: Apa kalimat hidupmu? Apa yang akan orang katakan dalam eulogi saat upacara penguburanmu?

Seorang teman ingin “Life in fullest without regret” prinsip hidup yang membawa dia ke Arab, teman yang lain ingin “Melayani negara” dan masuk Angkatan Laut, aku? Aku masih tidak tahu. Jika kamu juga tidak tahu, mari sama-sama mencari tahu. :p

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 17 Mei, 2011, in career, experience, idealist, life. Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. I would rather work with five people who really believe in what they are doing rather than five hundred who can’t see the point”

    Patrick Dixon – Building a Better Business p 14

  2. Postinganmu makjleb
    *berlalu sambil cari peta untuk mencari tahu*

  3. @ceritaeka
    Kan kita sama-sama belajar, mbak.😀

  4. my pupose is…. mendidik anak bangsa.:mrgreen:

  5. @Akiko
    That is a noble purpose, mon amie…😀

  6. @lambrtz
    That reminds me to Calvin and Hobbes comics. :))

  7. wah pengen jadi programmer…
    bisa gak ya belajar otodidak jadi programmer handal…

    salam kenal^^

  8. kerja emang harus bisa dinikmati dan bahagia lahir batin😀

  9. @lambrtz
    the one that he is rambling about the end of solar system just because his parents want him to do his homework.

    @adiekeputran
    Ya dan tidak.
    Ya belajar jadi programmer bisa saja otodidak, tapi menjadi untuk jadi handal kudu punya kurikulum dan mentor yang bagus.

    @TamaGo
    Sudah menikmati kerjaan lahir dan batin belum? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: