Penerbangan Terakhir

Tudor, nama elang tua itu. Dia terduduk di pinggir sarangnya yang bertengger di tebing Gunung Hitam. Gunung Hitam adalah salah satu gunung tertinggi di Lembah Hijau, bahwa Tudor bisa dan berhak membuat sarang di Gunung Hitam menunjukkan status sosialnya di antara para elang Lembah Hijau.

Matahari pagi di ufuk timur baru bangun dari tidurnya. Tudor memandang langit yang terus berganti warna jingga, merah dan kuning. “Sudah waktunya,” kata Tudor pada kedua anaknya, Fargo dan Lamor. “Kau yakin ayah?” tanya Fargo, yang tertua dari keduanya, mereka hanya berbeda waktu menetas saja.

“Kau ingat waktu pertama kali kau terbang?” tanya Tudor pada anaknya. Sebuah cerita lama tentang kerasnya sang ayah. Fargo ingat saat itu. Umurnya baru 2 bulan saat itu. Berbeda dengan teman-temannya yang lain yang diajari dengan sabar oleh orangtua mereka, Fargo dan Lamor berbeda. Dia ingat saat dia dilempar oleh ayahnya dan dia berusaha mengepakan sayapnya dengan pasrah, sebelum ibunya menyambarnya satu meter dari tanah.

Lalu besoknya hal yang sama terjadi, sampai akhirnya Fargo bisa terbang sendiri. Tapi berbeda dengan teman-temannya, dia sudah berhasil terbang sebelum berumur 4 bulan. Lamor pun mengalami hal yang sama.

Fargo dan Lamor hanya tersenyum saat mengingat masa kecil mereka. Tudor mengajari mereka mencari makanan mereka sendiri saat berumur 5 bulan. Saat itu salah satu saudara mereka Ramon, mati dipatok ular berbisa karena mengabaikan perintah Tudor untuk menghindari ular. Ramon memang bukan elang yang cerdas, pikir mereka, karena gagal membedakan ular berbisa dengan cacing.

“Hidupku sudah penuh,” kata Tudor. “Aku sudah bertarung dengan Gasco, mantan pemilik Gunung Hitam ini, aku sudah memburu ribuan tikus, kelinci, dan lainnya, aku sudah bertarung dengan ular berbisa dan hidup untuk bercerita,” lanjutnya.

Tudor sudah tua, suaranya lirih tidak sekeras dulu yang mampu membelah langit dan membuat kelinci dan tikus kocar-kacir. “Kalian jaga diri kalian baik-baik, aku akan menyusul ibumu,” kata Tudor singkat.

Fargo dan Lamor menundukkan kepala, tanda hormat kepada orangtua, yang mereka tahu untuk terakhir kalinya.

Tudor merentangkan sayapnya, mengepakkannya dua kali, lalu meluncur turun, sejenak lalu naik tinggi dan terbang ke timur, ke arah matahari terbit dan Danau Biru. Sayapnya mengepak kencang, lalu melayang bagai kapas yang ditiup angin barat. Visna, istrinya sudah melakukan hal ini beberapa bulan yang lalu, ketika dia merasa mautnya menjelang.

Tudor terus terbang ke timur, sayapnya mulai lelah, ototnya mulai menyerah melawan angin. “Ayo terus!” katanya menyemangati diri sendiri. Dia mulai mengingat ayahnya sendiri, Tristan, yang mengajarnya terbang di atas Gunung Hitam sama metodenya dengan saat dia mengajar Fargo, Lamor atau anak bodoh Ramon.

Setelah ayahnya melakukan Penerbangan Terakhir, Gasco mengklaim Gunung Hitam, sejak saat itu Tudor berlatih keras untuk mengalahkannya, dan dia berhasil. Dia berharap salah satu anaknya akan mengklaim Gunung Hitam dan mempertahankannya sebagai warisan keluarga.

“Hidup yang penuh” serunya kencang, sekali lagi dia suaranya membelah langit, sekali lagi kelinci dan tikus berhamburan mencari tempat sembunyi. Lalu dia menutup matanya, dia sudah lelah, dan pelan-pelan dia turun, semakin rendah dan semakin rendah, menghantam keras Danau biru, lalu tenggelam.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 25 Mei, 2011, in flash fiction, life and tagged , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. No bird soars too high, if he soars with his own wings.

    William Blake

  2. aaaaa…. sedih kisahnya…
    😥

  3. Sebenarnya ini cerpen soal perayaan hidup. Akhir dari hidup Tudor yang penuh, yang dirayakan oleh Tudor dan kedua anaknya. Tapi Penerbangan Terakhir, memang tentang kematian.

    *mendadak serius*

  4. Wah bagus ceritanya….dan suk dengan terminologi perayaan hidup yang penuh dengan penerbangan terakhir. Ah saya ngga pernah suka kematian sebenarnya, tapi cerita ini berhasil menampilkan sisi kematian dengan aura perayaan…bagus..bagus.. *loncat-loncat*

  5. Eagleheart. Stratovarius.

  6. @Butterfly
    Buatku kematian itu perayaan kehidupan.

    @Lumiere
    Wogh, mbak Nurma juga suka musik rock! *takjub*

  7. Jadi ingat waktu Don Vito Corleone merayakan saat-saat terakhir sebelum serangan jantung yang fatal mengakhiri hidupnya. Dia berkata, hidup begitu indah…

  1. Ping-balik: Keterhubungan dan hidup « Zero Reality

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: