Monthly Archives: Juni 2011

Who are you?

My name is Maximus Decimus Meridius, commander of the Armies of the North, General of the Felix Legions, loyal servant to the true emperor, Marcus Aurelius. Father to a murdered son, husband to a murdered wife. And I will have my vengeance, in this life or the next.

Gladiator

Who are you?

Sebuah pertanyaan yang punya banyak jawaban berbeda. Sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh manusia pada manusia yang lain. Tokoh Maximus Decimus Meridius yang diperankan Russel Crow punya jawabannya. Dia mengerucutkan hidupnya pada 3 hal penting: Militer, Kesetiaan dan Balas Dendam.

Masa lalu kita, masa kini kita, dan lingkungan kita ikut membentuk diri kita. Aku yang sekarang berbeda dengan aku setahun yang lalu atau aku 5 tahun yang lalu.

Jadi, siapa kamu?

PS:
Ini adalah adegan favoritku dalam film Gladiator.

Happy Father’s Day!

“He didn’t tell me how to live; he lived, and let me watch him do it.”

~ Clarence Budington Kelland

Aku pernah menulis tentang pengalamn masa kecilku dengan ayahku di blog ini. Sekelumit cerita yang diam tertanam di ujung ingatan tentang ayah yang selalu ada untuk anaknya. Karena berbagai peristiwa tentang teman2ku dan ayah2 mereka dan aku ingat bahwa Minggu ketiga di bulan Juni adalah hari ayah, aku menulis post ini.

Lalu sebuah pertanyaan terlintas di kepala, gimana ya rasanya jadi ayah. Kalau kita disuruh mendeskripsikan soal ayah kita, yang terlintas adalah pria yang tangguh, harus terlihat tegar walau lemah, harus kuat walau hatinya hancur, harus percaya diri walau tidak tahu apa-apa. Mereka pemimpin dalam keluarga, panutan yang ditiru anak-anaknya, dan tangan kokoh yang menyokong keluarga. Sebagai seorang anak lelaki pasti meneladani ayahnya sedang seorang anak perempuan mencari figur yang mirip dengan ayahnya. Read the rest of this entry

Hidup adalah Pencarian Sinyal

Mall Ambassador, di sebuah toko aksesoris hape, aku berbincang dengan seorang sahabat akrab yang mau menemani mencari hape baru. Nah, perbincangan absurd kali ini adalah soal sinyal dan kecepatan.

Galih bercerita tentang kakaknya yang punya cara aneh untuk mencari rumah, yaitu dengan mencari sinyal 3G. Buat dia, sinyal itu penting, jika sebuah perumahan tidak mendapat sinyal 3G, maka perumahan itu akan dicoret dari daftarnya.

Hal ini dan curhat mas Jum beberapa waktu yang lalu tentang gimana dia susah dapat sinyal di rumahnya di Mampang membuatku berpikir tentang persinyalan ini. Read the rest of this entry

Sejejak Langkah

Sejejak langkah di pantai, sejenak hilang disapu ombak. Seekor camar tebang rendah, lalu bertengger di karang yang tegar menentang ombak. Hening menyelimuti sore saat matahari perlahan bersembunyi di ufuk barat. Para pemburu sore mulai mengabadikan terbenamnya mentari.

Seutas memori dari waktu yang lampau perlahan menghampiriku di metromini malam itu. Termasuk memori masa kuliah yang masih bikin tersenyum karena kelucuannya, kehangatannya dan persahabatan yang terjalin. Tapi itu hanyalah sejejak langkah.

Aku pun melangkah ke sebuah mall langganan dan langkahku terhenti di muka sebuah resto tempat sebuah memori tercipta. “Tempat itu tetap ada, memori itu tetap ada, maka buatlah memori baru dengan orang yang baru, jangan menghindar,” kata bijak seorang teman beberapa waktu lalu. “Kalau kau ingin melupakannya jangan biarkan ingatannya menentukan langkah hidupmu, menentukan dimana kamu bisa datang, dan mana yang harus kauhindari. Kamu orang bebas, kau punya kuasa penuh atas hidupmu.”

Kebohongan tentunya, tidak ada orang yang punya kuasa penuh atas hidupnya.

Ah, ini hanyalah sebuah rancauan malam dan galaunya sebuah perpisahan. Berpisah dengan masa yang telah berlalu lama.