Sejejak Langkah

Sejejak langkah di pantai, sejenak hilang disapu ombak. Seekor camar tebang rendah, lalu bertengger di karang yang tegar menentang ombak. Hening menyelimuti sore saat matahari perlahan bersembunyi di ufuk barat. Para pemburu sore mulai mengabadikan terbenamnya mentari.

Seutas memori dari waktu yang lampau perlahan menghampiriku di metromini malam itu. Termasuk memori masa kuliah yang masih bikin tersenyum karena kelucuannya, kehangatannya dan persahabatan yang terjalin. Tapi itu hanyalah sejejak langkah.

Aku pun melangkah ke sebuah mall langganan dan langkahku terhenti di muka sebuah resto tempat sebuah memori tercipta. “Tempat itu tetap ada, memori itu tetap ada, maka buatlah memori baru dengan orang yang baru, jangan menghindar,” kata bijak seorang teman beberapa waktu lalu. “Kalau kau ingin melupakannya jangan biarkan ingatannya menentukan langkah hidupmu, menentukan dimana kamu bisa datang, dan mana yang harus kauhindari. Kamu orang bebas, kau punya kuasa penuh atas hidupmu.”

Kebohongan tentunya, tidak ada orang yang punya kuasa penuh atas hidupnya.

Ah, ini hanyalah sebuah rancauan malam dan galaunya sebuah perpisahan. Berpisah dengan masa yang telah berlalu lama.

 

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 1 Juni, 2011, in life, zero.thing. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. How lovely are the portals of the night,
    When stars come out to watch the daylight die.

    Thomas Cole, Twilight.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: