Happy Father’s Day!

“He didn’t tell me how to live; he lived, and let me watch him do it.”

~ Clarence Budington Kelland

Aku pernah menulis tentang pengalamn masa kecilku dengan ayahku di blog ini. Sekelumit cerita yang diam tertanam di ujung ingatan tentang ayah yang selalu ada untuk anaknya. Karena berbagai peristiwa tentang teman2ku dan ayah2 mereka dan aku ingat bahwa Minggu ketiga di bulan Juni adalah hari ayah, aku menulis post ini.

Lalu sebuah pertanyaan terlintas di kepala, gimana ya rasanya jadi ayah. Kalau kita disuruh mendeskripsikan soal ayah kita, yang terlintas adalah pria yang tangguh, harus terlihat tegar walau lemah, harus kuat walau hatinya hancur, harus percaya diri walau tidak tahu apa-apa. Mereka pemimpin dalam keluarga, panutan yang ditiru anak-anaknya, dan tangan kokoh yang menyokong keluarga. Sebagai seorang anak lelaki pasti meneladani ayahnya sedang seorang anak perempuan mencari figur yang mirip dengan ayahnya.

Ayahku sendiri adalah seorang pria yang tangguh. Bisa dihitung dengan jari kapan aku melihatnya menangis seumur hidupku. Dia adalah sosok pria mandiri yang keras kepala dan tidak suka meminta bantuan pada orang lain, semua selama bisa dikerjakan sendiri ya dikerjakan sendiri. Dia juga adalah sosok yang bisa diandalkan. Sosok yang membentuk pribadiku yang sekarang. Kelemahannya, dia pemarah dan tidak suka minta tolong orang lain dan keras kepala. Kecuali bagian pemarah, kayaknya sebagian sifatnya menurun ke aku.

Seorang ayah pasti sayang dengan keluarganya, istrinya dan anak2nya. Tidak ada temanku, para ayah, yang matanya tidak berbinar bangga ketika bercerita tentang anaknya atau memancarkan kesedihan ketika anaknya sedang sakit. Tidak ada pula yang bekerja separuh2, mereka bekerja sepenuh hati untuk menafkahi keluarga. Sebuah perjuangan yang patut diteladani.

Trus gimana kalau aku jadi seorang ayah? Sebuah pemikiran yang masih jauh di masa depan, tapi membuatku bergidik. Sanggupkah aku menjadi pria yang bisa diteladani oleh anakku, seorang pria yang mampu menjaga, melindungi dan menafkahi keluarga?

Sebuah misteri yang belum bisa kujawab.

Sebuah keinginan dari seorang sahabatku dan keinginanku sendiri, adalah membuat ayahku bangga. Oh, betapa kita menjadikan ayah kita teladan dan kita ingin membuatnya bangga. Semoga umur kita dan ayah kita dipanjangkan sehingga kita sempat membuat ayah kita bangga.

Selamat Hari Ayah!

Bagi para ayah, terimakasih atas perjuanganmu memimpin rumahtangga, bagi para anak, mari kita membuat ayah kita bangga.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 19 Juni, 2011, in experience, life, writting and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Bapaku juga keras kepala dan ini jelas-jelas turun ke aku😀 Apa semua bapa keras kepala ya? Dan semua anak perempuan satu-satunya akan menyaingin keras kepala bapanya hehehehe

    Anyway, thank you for remind me about father’s day. If you didn’t mention about it, I will forget.

    Makasih juga sudah mau digangguin dengan ‘laporan’ anak yang lagi jagain bapanya di rumah sakit hehehe. Dan berhubung ini Hari Ayah, walaupun kamu belum jadi ayah, saya ucapkan, “Selamat mempersiapkan diri jadi Ayah ya.”

  2. *nangis*

    Aku kangen ayahku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: