Tentang Perjalanan, Tentang Mudik

“Kita sudah sampai” adalah kata yang paling ditunggu dalam sebuah perjalanan.

Seekor keledai dalam cerita Shrek membombardir sang Ogre dengan pertanyaan “Are we there yet?” sepanjang jalan ke kerajaan Far Far Away.

Awal perjalanan adalah sebuah perpisahan. Pepatah China mengatakan bahwa walaupun mengantar seribu li pasti akan berpisah juga.  Perjalanan juga dimulai dari ayunan langkah kaki pertama, perjalanan seribu li dimulai dari langkah pertama, kata orang China pula.

Perjalanan adalah topik yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Lebaran dan Mudik, atau kata orang Mulih nang udik (pulang ke desa). Suatu fenomena sosial yang persisten di Indonesia, ketika warga kota2 besar kembali ke tanah kelahirannya. Di luar negeri mungkin sama dengan I’ll be home for Christmas atau makan malam bersama keluarga saat Thanksgiving.

Mudik adalah saat yang dinanti dan dibenci. Seorang manajer di kantor lama pernah berujar bahwa selama 12 tahun dia bekerja di sana, baru lebaran kemarin dia bisa mudik. Lebaran-lebaran sebelumnya dia selalu dapat jadwal jaga di field. Seorang teman pun mengeluh bahwa dia tidak bisa mudik tahun ini karena kehabisan tiket. Sementara aku pun bingung, nggak mudik tapi nggak tahu mau ngapain di Jakarta. :))

Di Surabaya, arus mudik paling parah bukan saat Lebaran, tapi malah saat Idul Adha, atau Lebaran Haji kata mereka. Toron, atau mudik saat Idul Adha, adalah salah satu adat Madura yang dihormati. Sebagai kota yang paling dekat dengan pulau Madura, Surabaya adalah gerbang yang sangat sibuk saat mendekati Idul Adha. Suatu ketika aku pernah terjebak macet selama lebih dari 4 jam di Ahmad Yani saat pulang ke Sidoarjo gara-gara arus mudik ke Madura ini.

Saat mudik ini dibenci karena fenomena yang kujelaskan di atas, kemacetan luar biasa. Mudik adalah saat tersibuk bagi polisi dan dirjen perhubungan. Mereka kudu memastikan jalanan mulus, arus kapal lancar, penerbangan lancar dan kereta api cukup untuk para pemudik. Suatu tugas yang mustahil saat arus mudik bertambah setiap tahunnya. Saat manusia-manusia dari desa tergiur untuk mencari penghidupan yang lebih baik di kota besar, terutama di kota-kota besar di Jawa.

Memantau arus mudik adalah suatu peristiwa seru jika kita tidak terlibat di dalamnya. Reporter-reporter cantik disebar di berbagai titik untuk memberikan laporan arus lalu lintas. Mereka bicara soal macet, lancar, prediksi puncak arus mudik, alternatif jalan, sambil tersenyum walau menghirup asap knalpot.

Mereka, para pemudik itu, berjalan pulang ke rumah, ke tempat asal mereka. Tempat mereka atau orang tua mereka menghabiskan masa kecil, bermain, belajar, dan mungkin mengalami cinta pertama. Sejenak mereka kembali ke akar, mungkin kembali memahami kenapa mereka ada di dunia dan darimana mereka berasal.

Aku ingat terakhir kali aku pulang ke Surabaya, bukan pengalaman menyenangkan. Arus ingatan deras berusaha menggelontor otakku. Tentang cinta, tentang sahabat-sahabat yang berpencar ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia, tentang hidup, tentang asal, tentang darimana aku berasal, dan tentang sejauh mana aku berjalan.

Semoga para pemudik ini tidak mengalaminya.

Lalu apa?

Lalu mereka akan kembali. Kembali ke rutinitas, ke kantor-kantor di gedung tinggi, ke kemacetan yang mengular, ke asap polusi kota, ke rumah, ke kehidupan.

Seperti kata Ello, Pergi untuk kembali.

Dan jangan lupa, bawa oleh-oleh ya?

 

 

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 25 Agustus, 2011, in life. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Selamat tinggal kasih
    Sampai kita jumpa lagi
    Aku pergi takkan lama
    Hanya sekejap saja
    Ku akan kembali lagi
    Asalkan engkau tetap menanti

    Ello – pergi untuk kembali

  2. semoga tidak dianggap komentar tanpa baca postingan:mrgreen:

    anu… ini tulisan keluhan?
    *diusir*

    ah… paling tidak ada bagian menyenangkan tentang kenikmatan nonton berita arus mudik dengan mbak-mbak pembawa acara yang manis-manis itu.

    NB.
    Saya terakhir kali mudik ke Indonesia tahun 2009, dan saya mudik pas awal puasa sampai seminggu sebelum lebaran. Kalau saja konfrensi x nggak minta pengiriman abstrak dipercepat, sudah kulalui lebaran di Indonesia untuk pertama kalinya dalam 6 tahun terakhir.

    Dan saya nggak pernah mudik ke kampung halaman saya di Belitung sejak tahun 1999😦
    *kalimat terakhir itu curhat*
    **nyobain komen pake akun pesbuk, PERTAMAX**

  3. Aku gak mudik… Hiks. Tapi eh mudik itu sentimentil. Meskipun gak ngerayain lebaran tapi ya tetep aja pulang ke kampung halaman itu sesuatu banget.
    Segala kenangan tentang tempat, waktu, manusia seperti mengalir deras seketika. And that feels good.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: