Tentang beban masa lalu dan ketidakpastian masa depan

Yesus berkata bahwa jangan khawatir, kekhawatiranmu tidak akan menambah semeterpun dari jalan hidupmu. Bahkan mungkin akan mengurangi.

Seorang sahabatku pernah mempersiapkan perkawinannya dengan tunangannya. Bulan demi bulan, ternyata perkawinannya batal karena sang tunangan selingkuh dan sahabatku jadi paranoid ketika menyiapkan pernikahannya dengan kekasihnya. “Gimana kalau gagal ya? Gimana kalau dia selingkuh?”

Aku bisa bilang ke dia saat itu bahwa, kali ini beda, yang ini setia kok. Tapi kayaknya hal itu tidak berguna, karena ada suatu trauma pengkhianatan. Berita baiknya akhirnya dia menikah dan akan punya anak bentar lagi.

Pengalamanku dengan pacar kurang lebih sama. Dia punya sejarah diselingkuhi. Ketika aku ajak dia untuk lihat-lihat rumah, dia bilang, “dulu aku juga sempat diajak lihat2 rumah, tapi trus dia selingkuh.” Jawabanku kali itu sangat meyakinkan, “lha kalau nggak jadi apa masalahnya? Nikah atau enggak sama kamu, aku kan tetap pingin beli rumah.”

Sangat meyakinkan.

Tapi bukan itu inti posting ini. Intinya adalah, bahwa pandangan kita akan masa depan seringkali dipengaruhi oleh masa lalu kita. Mungkin dahulu kita percaya bahwa saat tunangan atau cari rumah sudah pasti kawin, tapi ternyata kepercayaan kita salah. Hal itu bisa membuat kita trauma dan membuat kita khawatir akan masa depan.

Mungkin kita percaya bahwa untuk meraih sukses kita harus kerja keras dan punya rekan yang bisa dipercaya, tapi ternyata kita ditipu teman, akhirnya kita paranoid saat diajak kerjasama lagi.

Faktanya adalah, shit happens. Mungkin pacar kita nggak jujur atau rekan kita menusuk dari belakang, tapi sangat disayangkan jika kita bias. Kita menilai calon rekanan atau pacar kita dari performa jelek pacar atau rekanan kita yang lama. Nggak adil untuk mereka dan murugikan kita.

Mungkin saja kita sedang sial dan hal itu benar2 tidak bisa kita ramalkan. Intinya adalah, kita perlu memaafkan diri kita atas pemilihan pacar atau rekanan yang buruk itu dan tidak melampiaskan rasa bersalah ke pacar atau pasangan yang baru.

Hal ini berlaku untuk banyak hal, bisnis yang kita rintis setelah sebelumnya gagal, aplikasi beasiswa setelah ditolak, mencoba kembali memulai hubungan asmara setelah patah hati, latihan lagi setelah sebelumnya kalah menyakitkan, atau hal-hal lainnya.

Shit happens and sometimes nothing you can do can stop it. Don’t worry, don’t let the past hold you back, be hopeful, future will be better.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 1 Februari, 2012, in experience, life and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Future will be better…nice words….mmmm…jadi hari baiknya tanggal berapa Dan ;D

  2. Tooop. Tumben bijak mas?😛

  3. Jawabanku kali itu sangat meyakinkan, “lha kalau nggak jadi apa masalahnya? Nikah atau enggak sama kamu, aku kan tetap pingin beli rumah.”

    aaaa,,, dnialll,,, kamu itu kok pinter banget mengambil hati wanita,,, xDDDD

    anyway, bener tuh. yang sering rada salahkaprahnya adalah pengalaman gagal sebelumnya itu pembelajaran yang relevan terutama buat diri sendiri, gak ada relevansinya dengan counterpart yang sekarang ini. kalau ada juga paling gak banyak.

    if lesson learned, well, at least we know not to get shoved as hard for the same shit. my2c.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: